خير الناس أنفعهم للناس (Sebaik-baik anusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama)

 

Salahuddin (Dosen UIN Alauddin Makassar)

KITTAH.CO — Sebaik-baik manu adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Demikian satu sabda Nabi Saw yang sangat masyhur. Salah satu cara yang jelas saya kira untuk melihat apakah kita bermanfaat bagi sesama, bisa kita liat dari (sesuai) kategorisasi hukum fiqih yang lima. Yaitu, apakah kita termasuk manusia wajib, manusia sunnah, manusia mubah, manusia makruh, dan manusia haram. Maaf, kelihatannya ini kategori yang agak nyeleneh ya, tapi saya kira jelas dan terukur. Termasuk kategori manakah kita dalam komunitas. Mari kita lihat satu persatu.

Manusia wajib
Kita termasuk manusia wajib kalau keberadaan kita di tengah komunitas sangat dirasakan sendiri oleh setiap anggota komunitas. Misalnya, kita mengadakan suatu acara. Acara itu tidak akan terlaksana atau berjalan tanpa keberadaan kita. Karena tidak ada orang lain yang bisa menggantikan kita. Contoh kecil dalam hal ini, keberadaan annangguru pangayi. Tanpa kehadirannya, pengajian tidak akan terlaksana. Ini berarti keberadaannya adalah manusia wajib (yang harus ada). Tanpanya, pengajian tidak akan ada/terlaksana.

Manusia sunnah
Adalah manusia yang keberadaannya di dalam komunitas di bawah sedikit dari manusia wajib. Tanpa kehadirannya, acara akan tetap jalan. Akan tetapi, anggota komunitas akan merasakan ada sesuatu yang hilang atau kurang. Mungkin akan ada istilah, sa’kodzae isa’ding apa andiangi pole ianu… (rasanya tidak enak ya, soal si anu…. tidak datang). Dalam artian kita menjadi peramai suasana, dan tanpa kita, acara menjadi tidak seru dan ramai.

Manusia mubah
Ada istilah Arab yang cocok untuk manusia ini. Yakni, “wujuduhu ka ‘adamihi” (keberadaannya sama saja dengan ketidakberdayaannya). Orang tidak akan mempertanyakannya ketika dia tidak hadir, dan juga tidak ada kontribusinya kepada komunitas sama sekali, ketika dia hadir. Ini yang umum dan kebanyakan. Paling tidak, menjadi penggembira. Masih jauh lebih baik sebetulnya ketimbang dua lagi yang belum disebut.

Manusia makruh
Keberadaannya tidak diinginkan, karena ia menjadi sumber keonaran bagi sebuah komunitas. Istilahnya, “lebih baik dia tidak ada deh.” Semua orang dalam komunitas tidak menginginkan kehadirannya. Kalau dia hadir, malah jadi sumber keonaran. Ada-ada saja yang dia kerjakan untuk menciptakan suasana manjadi gaduh.

Manusia haram
Kehadirannya sangat tidak diinginkan dalam komunitas. Karena keberadaannya menjadi sumber keonaran. Istilahnya, “jangan sampai dia ada deh.” Dia ini kebalikan dari manusia wajib. Keberadaannya membuat semua acara menjadi berantakan.

Mari kita berusaha menjadi manusia wajib. Kalau tidak bisa, kita menjadi manusia sunnah saja. Kalau juga tidak bisa, paling tidak, menjadi manusia mubah yang tidak mengganggu keberadaan yang lain. Jangan sampai kita menjadi manusia makruh, lebih-lebih manusia haram. Tidak ada gunanya kita hidup kalau dua kategori manusia yang terakhir ada pada kita.

Dengan menjadikan diri manusia wajib dan sunnah, kita telah merespon dengan sangat baik sabda Nabi saw di atas, ,خير الناس انفعهم للناس.(sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya).
Wallahu a’lam.(*)