A Nome Della Penna

I Makkacici’

Oleh: I Makkacici’ (Founder Muara Literasi)

KHITTAH.CO, MAKASSAR — “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang ditengah masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
-Pramodya Ananta Toer-

Pertama kali membaca kutipan tersebut, aku langsung terenyuh. Pikiranku mulai terbuka. Mindset semakin tertata untuk mencipta kisah dan sejarah. Bukan sejarah yang pada akhirnya terlupakan, melainkan sejarah yang hidup dalam setip barisan kata, meski raga telah tiada. Tanpa berfikir panjang, langsung saja kusalin kutipan itu, lalu kutempelkan di dinding kamarku. Disanalah kata-kata itu hidup, berjejer rapi diantara ratusan quotes motivasi hidup lainnya. Rangkaian kata yang kuharap dapat menjadi penyemangat dalam setiap aktivitas yang kujalani.

A nome della penna (atas nama pena), aku ingin sedikit bercerita tentang pertemuan yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Pertemuan dengan para penulis-penulis hebat. Mereka hadir sebagai sumber inspirasi dalam setiap kata yang kucipta. Simaklah agar kau memahaminya.
Ketika kau mendengar bahwa ada dua orang bersaudara yang menulis sebuah buku, lalu buku itu dijadikan sebagai hadiah ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya, kau pasti akan sangat kagum dan bangga. Jika diposisikan sebagai kedua orangtua mereka, maka kau akan menjadi orangtua yang paling bahagia, karena hadiah spesial yang dipersembahkan untukmu, bukanlah hadiah yang dengan mudah diperoleh dari toko atau pusat perbelanjaan termahal di dunia. Hadiah itu lahir dari nurani mereka, menjadi sebuah karya yang akan abadi sepanjang masa.
Atau mungkin kau pernah mendengar ada seorang lelaki, menjadikan buku yang ia tulis sendiri sebagai mahar untuk mempersunting perempuan yang dicintainya. Di tengah budaya adat bugis Makassar yang begitu kental dan keras jika berbicara masalah pernikahan, kau mungkin tak akan percaya bahwa perempuan itu rela menerima pinangan sang lelaki yang baru ditemuinya, dipersunting dengan mahar buku pula, bukan emas atau uang dengan jumlah yang tinggi seperti pada umumnya. Dan ketika sang perempuan ditanya alasan mengapa ia menerima, bagiku jawabannya begitu istimewa, langka dan mahal. “Aku ingin menjadi perempuan yang ternilai dengan harganya.” Kata perempuan itu.

Aku hanya bisa terngangah, kok bisa yah! Akan tetapi, inilah fakta yang terjadi di kehidupan nyata dan kusaksikan dengan mata kepala terbuka. Aku dipertemukan dengan mereka dan mendapat pelajaran yang begitu berharga.

Sedikit menelusuri kisah R.A Kartini, di tengah zaman yang membelenggu disertai dengan tata krama kerajaan yang harus dipatuhinya. Geraknya dibungkam dengan segala aturan yang mengikat dilingkungan keluarganya. Ide dan pikirannya tak memiliki ruang untuk berdiaspora. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan, untuk menuangkan segala pemikiran cerdas di tengah tekanan lingkungan yang tak berpihak padanya adalah menulis. Segala bentuk kegelisahan, keresahan yang ia amati dilingkungan sekitarnya ia tumpahkan lewat kertas dan pena. Alhasil, buah pemikiran kartini saat ini bisa kita nikmati juga lewat karya “Habis gelap terbitlah terang”.

A nome della penna, demikianlah beberapa penggalan kisah dari sebuah pena. Selain kata Luar biasa, tak ada lagi kata yang tepat untuk menggambarkan kekagumanku pada perjalanan menulis mereka. Menurutku, ada ribuan bahkan jutaan alasan mengapa kita harus menulis. Beberapa yang tertulis diatas hanyalah sekelumit cerita. Masih banyak lagi inspirasi menulis yang dapat diperoleh dari orang-orang disekitar kita.

Menulis itu bukan sekedar mengubur kesepian, tetapi wadah berbagi kebaikan. Berkontribusi kepada masyarakat luar melalui tulisan. Menulis dapat kau jadikan sebagai petualangan perasaan, berbicara tentang apa yang sedang kau rasakan atau apa yang masyarakat rasakan. Kau dapat berbagi informasi, mengukir sebuah jejak dan menyebar kebaikan melalui goresan-goresan pena, bukti eksistensi bahwa kau pernah ada dan bermanfaat untuk orang banyak. Kau dapat berbicara tentang apa saja kepada dunia. Dan itulah yang dilakukan oleh R.A Kartini pada zamannya.

Nah, diera kekinian. Manusia menyebutnya sebagai era digital. Saat semua sibuk dengan gadget ditangannya. Sebenarnya ruang-ruang untuk menulis itu semakin terbuka. Misalnya, saat kau membuka beranda facebook, yang ditanyakan “apa yang kau fikirkan”, atau saat membuka instagram, terdapat kolom komentar untuk meletakkan caption yang menarik, tidak sekedar gambar, begitupun dengan adanya twitter atau whatsapp serta aplikasi lainnya.

Media sosial sebenarnya memberikan peluang untuk para penggunanya menuangkan ide, gagasan serta kreativitasnya melalui fitur-fitur yang telah disediakan. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari seberapa bermanfaat caption atau status yang mereka buat. Bukan hanya berguna untuk para pembaca, melainkan juga memberi energi positif untuk dirinya sendiri. Semakin positif tulisan yang kita baca maka semakin positif pikiran kita, dan bisa berakibat pada positifnya perilaku kita. Begitupun sebaliknya. Siapa bilang, bahwa yang dapat menambah energi positif, atau semangat seseorang hanyalah kata-kata yang terlontar melalui ucapan seseorang? Tulisanpun bisa.

Tidak sekedar memberi warna pada hidupmu, atau untuk kehidupan orang lain. Menulis itu tentang cara membukukan kenangan, membuat hidup menjadi hidup, atau sebagai ungkapan rasa syukur atas segala beban yang tak lagi menjadi beban di pundakmu.
Dengan menulis, kau dapat berbicara tanpa harus berteriak. Bahkan, kau dapat memberi pesan kepada seseorang yang tak bisa kau ajak berbicara secara langsung. Apalagi, saat tak ada telinga yang mau mendengarmu, entah karena alasan apapun itu. Maka menulis bisa menjadi pelarian ampuh. Termasuk saat kau merasa pandanganmu sangat sulit diucapkan, maka menulis adalah solusi terbaik untuk mengungkapkannya.

Menulislah, bukankah sesekali kita membutuhkan ruang untuk bernafas, membebaskan fikiran dan hati dari belenggu-belenggu yang membebani. Dan sebagai terapi, menulis bisa kau jadikan solusi. Oleh karena itu menulislah.

Akan tetapi, perlu dipahami bersama bahwa menulis membutuhkan sedikit keberanian. Modal keberanian itu dapat kau jadikan alat untuk berbicara kepada dunia sesukamu. Kau bebas menjadi apa saja. Dalam tulisanmu, kau dapat menjadi raja yang berkuasa, juga bisa menjadi si miskin yang sederhana. Kau bebas memilih ingin menjadi laki-laki, perempuan bahkan banci sekalipun. Kau bebas memilih ingin hidup menjadi diri sendiri atau menjelma ke dalam tubuh orang lain. Kau bahkan bebas memilih antara mengkritik atau memuji. Terserah kau sajalah!

Keselarasan ide dan tanganmulah penentunya. Kau bisa mengubah dunia sesuai yang kau inginkan tanpa peduli kata orang, tanpa rasa takut dan tanpa keragu-raguan, hingga terjebak dalam tulisan yang kau cipta sendiri. Begitulah kemerdekaan yang dimiliki oleh seorang penulis, yang tidak didapatkan oleh mereka yang tidak pernah sekalipun berfikir untuk menulis.

Kufikir, itulah segudang manfaat dan alasan mengapa kita harus menulis. Tak perlu menunggu dan janganlah ragu. A nome della penna (atas nama pena), bagi siapapun yang bercita-cita menjadi penulis, maka wujudkanlah segera. Akan tetapi, penting untuk diketahui bahwa kau tak akan menjadi penulis hebat jika tak diimbangin dengan membaca. Dengan membaca, kosakata dalam otak akan semakin bertambah, sehingga saat menuangkan kata-kata, semua menjadi semakin mudah. Jadilah inspirasi bagi orang-orang disekitarmu melalui kata yang kau rangkai melalui pena.

Menulislah…
A nome della penna, jika kau ingin hidup lebih lama dari usiamu yang sesungguhnya, maka menulislah. Jiwamu akan hidup abadi dalam setiap kisah yang kau cipta, meski mereka tahu ragamu telah tiada.(*)