Agama dan Konsumerisme (Bagian 2)

Oleh : Hamzah Fanshury*

Apa yang akhirnya diberikan dan kita peroleh dari gegar budaya konsumerisme tersebut?. Alienasi. Kita bergerak dalam arah yang hampir pasti menuju realitas kemanusiaan seperti yang dituturkan oleh Herbert Marcus;

The people recognize themselves in their commodities, they find their soul in their automobile, hi fi set, split level home, kitchen equipment. The very mechanism which ties the individual to his society has changed, and social control is anchored in the new needs that is has produced.

Lalu kita terjebak dalam sesat pandang menilai eksistensi diri berdasarkan atas dan kepada kepemilikan berbagai-bagai barang komoditas. Kita diseret berpetualang ke dalam arus prokreasi budaya, sebuah jalan capaian kepuasan dilevel materi. Moda hidup yang lepas makna. Meluber dalam kesegeraan, kesementaraan. Kontrol dan jejaring sosial lalu berubah, tercabik, menjadi sobekan-sobekan tanpa identitas yang utuh. Eksitensia terus tergerus dan kadang berakhir lumpuh. Berebut mimpi yang jauh sambil tanpa henti kehilangan setiap ihwal yang paling dekat dengan diri sendiri; esensia. Karl Heinrich Marx menyebut ini alienasi; manusia terasing dari hubungannya dengan tata kosmik; manusia terasing dari kehidupan sosialnya; dan akhirnya manusia terasing dari dirinya sendiri, dari fungsi aktifitas yang ia miliki. Sebuah alienasi yang pungkas. Tak terlihat oase makna di ruas-ruasnya.

Maka kita membutuhkan sebuah tepian realitas. Sebuah tempat untuk tetirah. Merenung diri dalam diam. Sebuah tempat untuk pulang. Sebuah idea yang tak lantas kita tekuk letakkan pada level teknis semata. Tepian realitas yang menghidupkan senyawa primordial, yang menggemakan emphaty, persahabatan, dan cinta yang tulus, sebuah energy yang sublim; Energi spiritual. Tetapi senyawa inilah yang hilang pergi dari tekstur dan relief sosial masyarakat konsumer. Masyarakat secara perlahan bermetamorfosa menjadi develoved countries, yang di dalamnya pembangunan tidak sekedar berbicara tentang pertumbuhan ekonomi. Bersamanya pula hadir apa yang disebut tujuh dosa mematikan (the seven deadly sins); ketidakpedulian, nafsu, angkara, kesombongan, dengki, konsumtif, dan kerakusan. Posmodernitas telah memberi kita berbagai fasilitas canggih. Massa diberi kebebasan untuk memilih gaya hidupnya, mengekspresikan pikiran-pikirannya, dan mengembangkan segala-gala potensi mereka. Tetapi dengan segala hak-hak profan tersebut, struktur masyarakat, seperti penuturan Celia Heddon kehilangan cinta;

Di barat, masyarakat telah bekerja keras dan berusaha sebaik-baiknya agar tercipta situasi yang lebih baik bagi semua orang; ada sistem pembuangan yang baik, air minum yang bersih, perawatan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, tunjangan khusus bagi ibu-ibu untuk kepentingan anak, sekolah, rumah bagi lansia, dan rumah sakit….., tetapi kita tidak menemukan cinta di dalamnya.”

Kehangatan institusional, itulah yang lenyap pupus dari masyarakat dan rumah-rumah kita. Memudar dan menguap menjadi kabar buruk dalm tata sosial kita. Massa kemudian melarikan pencariannya dalam dekap hangat halusinasi budaya; konsumerisme.

Bukan sebuah akhir

Di tengah-tengah tragedi absurditas dan ratap atas kehampaan makna dalam jejaring the consumer society tersebut, terbetik ajakan untuk sejenak ziarah ke sebuah alaf waktu, mengunjungi sebuah keluarga suci, buah dari pohon kenabian. Kita dapati di rumah keluarga yang terberkati tersebut dua bocah laki-laki; Hasan dan Husain, sedang terbaring dalam sakit. Bapaknya, Ali bin Abi Thalib, terlihast gundah. Ibundanya, Fatimah Azzahrah bertudung sedih. Dalam belit duka, khadimat mereka mengajukan proposal suci; nadzar puasa selama tiga hari berturut-turut, untuk kesembuhan putra kinasih mereka. Dan puasa menjadi munajat pada Tuhan tanpa gugus kata-kata. Dan keluarga suci tersebut berhutang gandum pada keluarga Yahudi tetangga mereka untuk menapak jalan nadzar itu.

Hari pertama mereka lewati. Tetapi saat jelang berbuka puasa, pintu rumah mereka diketuk. Di ambang halaman nampak seraut wajah lusuh; pengemis. Makanan yang sedianya untuk berbuka berpindah ke tangan pengemis tersebut. Mereka lalu berbuka hanya dengan air putih. Demikianlah, hari kedua dilalui sambil mengulurkan makanan berbuka mereka pada penempuh jalan yang jauh; musafir. Hari ketiga dituntaskan dengan melepas makanan berbuka pada orang yang baru saja menghirup semesta kebebasan; narapidana perang. Hari-hari nadzar puasa dijalani oleh keluarga suci itu hanya dengan meneguk air putih. Sungguh perkhidmatan yang mengklimaks. Sesudahnya, mereka kemudian bertandang ke rumah sang nabi suci; Muhammad SAW. Dan beliau menyambut dengan haru biru; putri terkasih, menantu kebanggaan, dan cucu-cucu permata hati. Dari lisan beliau kemudian melantun ayat-ayat kasih dari sang maha kasih; Allah swt. Untaian kabar bahagia buat keluarga suci yang telah menunaikan nadzar puasanya. Mereka adalah keluarga yang dianugerahi mahkota Hal Ataa;

“…Dan mereka memberikan makanan yang disukainya
kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan…
(QS:76;8)

itulah penggal episode kesucian, ketulusan, dan sekaligus kearifan transenden. Sebongkah perkhidmatan untuk lapik-lapik kemanusiaan. Dari sana sesungguhnya apa yang disebut keberagamaan sejati, ataupun kepekaan kemanusiaan yang tulus telah didefenisikan dengan indah. Dan untuk kita, massa yang terjatuh dalam kubang hasrat-hasrat rendah; konsumerisme. Yang terpasung dalam struktur sosial yang dehumanized (;ambang batas tak manusiawi); dingin, tanpa ruh, penggal episode dari pohon kenabian ini, menyimpan pesan sederhana tanpa perlu tafsir yang rumit;

There is a wonderful mythical law of nature that.
The three things we crave most in life.
Happiness, freedom, and peace of mind.
Are always attained by giving them to someone else.
(Peyton Conway)

*Penulis adalah aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM)

(Baca juga: Agama dan Konsumerisme Bagian I)