Agama Yang Berteriak Pada Akal

(Konsepsi Wujud Menurut Muhammad Abduh dan Relevansinya)

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

 

Sedikit Tentang Latar Belakang

Bagi para pendaras pemikiran Islam, pasti mengenal sosok Muhammad Abduh. Beliau lahir pada tahun 1849 M di Mesir, saat Mesir telah melakukan kontak dengan budaya barat melalui ekspansi yang dilakukan oleh Napoleon Bonaparte. Konon Napoleon dalam tempo yang cukup cepat dapat menguasai Mesir, yah mungkin karena adanya semacam ketidakberimbangan kekuatan politik-ekonomi-militer antara Perancis dan Mesir saat itu. Dan bukan hanya itu, beberapa pusat-pusat bekas sentra kekuasaan Arab-Islam saat itu sedang mengalami semacam kemerosotan kebudayaan dan intelektual.

Dalam ekspedisi sekaligus ekspansinya, Napoleon tak hanya membawa teknologi, kemampuan teknik berperang serta peralatan militer yang mumpuni. Tetapi Napoleon juga membawa serta para ilmuwan-ilmuwan yang kelak akan mendirikan lembaga ilmiah dan laboratorium di Cairo. Dan dalam suasana kontak semacam inilah, merupakan asal-muasal kemunculan dari obsesi yang aneh terhadap Barat. DI satu sisi dunia Islam merasa takjub terhadap penemuan-penemuan saintifik dan teknologi dari barat, tapi di sisi lain Barat dianggap sebagai ancaman terhadap Islam. Obsesi yang aneh ini kemudian hari akan melahirkan dua narasi keberagamaan dalam Islam, narasi pertama adalah narasi modernisme Islam dan narasi kedua adalah narasi revivalisme Islam.

Tetapi tulisan ini tak berniat untuk memaparkan latar belakangan kompleks sosio-ekonomi-politik, yang melahirkan obsesi aneh terhadap barat, tetapi tulisan ini hanya sekedar mempersembahkan kembali gagasan-gagasan pembaharuan pemikiran Islam Muhammad Abduh. Untuk keperluan tersebut penulis memulainya dengan mencoba memaparkan dasar-dasar teologi dari Muhammad Abduh. Walaupun pemaparan dasar-dasar teologi ini bisa sangat abstrak-filosofis tapi sangat penting agar kita bisa melihat pemikiran Abduh secara utuh.

Pemikiran Abduh Tentang Wujud

Secara umum kita mendefinisikan teologi sebagai semacam disiplin ilmu yang berusaha untuk mencari semacam pendasaran rasional terhadap keimanan atau kepercayaan yang kita miliki. Menurut Muhammad Abduh dalam bukunya Risalah at-Tauhid (1949), mendefinisikan teologi sebagai ilmu yang membahas soal wujud Allah, sifat-sifat-Nya dan soal kenabian. Walaupun Harun Nasution menyebut pembahasan Abduh soal Wujud sebagai salah satu bentuk filsafat wujud, tapi bagi saya pribadi ada perbedaan mendasar antara teologi dan filsafat. Jika teologi titik berangkatnya adalah teks ke-agamaan yang diasumsikan benar lalu dicarikan pendasaran rasionalnya, sedangkan filsafat berangkat dari akal dimana proposisi-proposisi keimanan tidak disumsikan benar sedari awal.

Untuk menunjuk kepada himpunan universal keberadaan selain Tuhan Abduh menyebut “Alam” atau lebih tepatnya sebagai “Alam Wujud”, atau “himpunan besar keber-ada-an”. Mengikuti argumentasi ontologis pembagian ketegori wujud para filsuf Islam abad pertengahan, Muhammad Abduh membagi Wujud dalam tiga kategori, “wujud yang pada esensinya wajib ada” (wajib lizatih), “wujud yang pada esensinya tidak mungkin ada” (mustahil lizatih) dan “wujud yang pada esensinya mungkin ada” (mumkin lizatih).

Dalam pembahasan teologis ataupun filosofis tentang wujud, maka titik tekannya hanya ada pada dua kategori wujud pertama dan ketiga, yaitu “wujud yang esesnsinya wajib ada” dan “wujud yang esensinya mungkin ada”, sedangkan “wujud yang esensinya tidak mungkin ada” jarang dieksplorasi lebih lanjut termasuk dalam pemikiran Abduh. Tapi bukannya “wujud yang tidak mungkin ada” tidak bisa dipahami, contoh dari “wujud yang tidak mungkin ada” kita bisa sebutkan di sini, semisal “lingkaran yang memiliki tiga sisi”, “bagian yang lebih besar daripada keseluruhan”, “garis sejajar yang bertemu pada suatu titik”, “persegi yang jumlah sudutnya lebih besar daripada 360 derajat” dan lain-lain”.

“Wujud yang esensinya wajib ada” (wajib lizatihi) didefinisikan oleh Abduh sebagai wujud yang dengan sendirinya ada, wujud yang tidak bisa dibayangkan “ketidak-berada-annya”, bahkan “ketidak-berada-annya” adalah sebuah “ketidakmungkinan”. “Wujud yang essensinya mungkin ada” (mumkin lizatih), adalah wujud yang tidak sendirinya ada, wujud yang pada saat “tidak ada” tidak dapat meng-ada-kan dirinya sendiri, wujud yang memilki kemungkinan untuk “ada” dan kemungkinan untuk “tidak ada”.

“Wujud yang esensinya wajib ada” oleh Abduh juga disebut dengan wajib al-wujud, al mawjud al-wajib atau mu’ti al-wujud, artinya wajib al-wujud adalah pemberi keber-ada-an bagi yang “esensinya mungkin ada” (mumkin lizatih). Dengan kata lain wajib al wujud adalah “yang meng-ada-kan” (mujid) atau khalik, sedangkan mumkinul wujud adalah yang “di adakan” (mawjudat) atau makhlukh. Jika segala bentuk keberadaan disusun dalam sebuah piramid, maka wajib al-wujud berada di titik dan hanya di titik pucak piramida wujud, dan segala selain-NYA berada di bawahnya.

Lalu Apa Relevansinya ?

Jika kita melihat, pembagian Abduh tentang wujud di atas, maka kita kita bisa mengambil kesimpulan bahwa, penjabaran dan pendasaran rasional bagi iman adalah sesutu yang sangat penting, dengan kata lain akal adalah sekutu bagi iman. Bahkan dalam Risalah at-Tauhid Abduh mengatakan bahwa Islam datang saat manusia telah mengalami kedewasaan berpikir maka mereka membutuhkan agama yang rasional, dan manusia dapat menemukannya dalam Islam. Bahkan Abduh mengatakan bahwa di dalam Islam lah “agama berteriak kepada akal, sehingga akal tersentak dari tidur panjangnya”.

Ternyata gagasan-gagasan Abduh ini berbuntut panjang, akal tidak hanya bekerja pada wilayah instrumental belaka (pada soal eksperimen sains, teknologi, mekanika, administrasi) tetapi akal perlu dan sangat dianjurkan bekerja efektif diluar wilayah teknis, akal juga harus mengambil perannya dalam soal yang menyangkut harapan sekaligus masa depan kemanusiaan, yaitu soal ke imanan. Kategorisasi wujud yang disampaikan oleh Abduh bukan hanya sekedar asesoris intelektual belaka, bukan semata soal permainan pikiran belaka, tetapi ini soal kemampuan kita untuk memikirkan perihal yang paling mendasar bagi diri kita yaitu soal “Ada”.

Salah satu penyebab petaka peradaban adalah karena kita terlalu sibuk memikirkan yang begitu jauh dari diri kita (apakah ada planet selain bumi yang layak huni ?, apakah ada air di Mars ?, dll.) walaupun ini juga sangat penting, tapi kita lupa untuk merefleksikan sejenak hal-hal yang immanen (melekat sekaligus bagian) dengan diri kita, semacam “Ada”, “Iman”, “persahabatan”, “cinta” dan sebagainya. Karena kegagalan kita dalam merefleksikan yang immanen dengan diri kita, maka yang terjadi kita begitu fasih dalam menggunakan piranti-piranti teknologi (Gadget, reaktor nuklir dll.) tetapi tidak fasih dalam mendayagunakan segala perangkat kepercayaan keagamaan kita dalam membangun kehidupan bersama yang lebih berarti.

Tetapi masih banyak tema-tema menarik dan menantang yang digarap oleh Abduh, karena keterbatasan ruang tulisan, yang sempat saya tulis saat ini hanya berkaitan dengan konsepsi wujud dalam teologi Abduh. Tema-tema lain Insya Allah akan saya coba garap dalam esai-esai berikutnya.