Aisyiyah Sulsel Gelar Bedah Buku Feminisme Dalam Islam

Alimatul Qibtiyah saat membedah buku Feminisme Muslim di Indonesia, di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar, Sabtu, 14/09/2019.

KHITTAH.co, MAKASSAR— Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sulsel bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar menggelar Bedah Buku Feminisme Muslim di Indonesia, Sabtu, 14/09/2019. Kegiatan itu dihelat di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar.

Penulis buku Alimatul Qibtiyah, memaparkan tak ada yang salah dengan istilah feminis dalam Islam, sebab semangat ajaran Islam adalah semangat feminisme.

Semangat feminisme dalam Islam bisa dilihat dari cara Nabi Muhammad saw memperjuangkan hak-hak perempuan, mengangkat derajat perempuan, misal dari yang sebelumnya hanya sekadar objek sex lalu kemudian menjadi partner sex.

Tidak ada budaya patriarki dimana pria lebih mendominasi perempuan tetapi lebih kepada konsensus dalam berbagi peran, mengedepankan kesepahaman serta saling menghargai dalam hubungan rumah tangga.
“Jadi Nabi Muhammad dan kiyai Dahlan adalah seorang feminis,” tutur pakar Feminis Islam itu.

Dewasa ini, hal itu bisa dilihat dari berkembangya fenomena bapak rumah tangga. Dimana seorang suami yang lebih banyak bekerja mengurusi wilayah domestik dalam hal ini urus anak dan rumah, sementara istri bekerja mencari nafkah.

Dalam kajian feminis islam hal demikian merupakan hal yang biasa.
Bapak rumah tangga adalah bapak yang ikut pengasuhan domestik dimana merupakan hasil kesepakatan, sebab penghasilannya yang kebetulan lebih rendah dari istri atau tidak berpenghasilan sama sekali.

“Dalam buku Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah, sudah diterangkan, kewajiban suami mencari nafkah dan mendorong istri untuk berkontribusi terhadap nafkah keluarga,” tukas ketua LPPA Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah itu.