Akhir dari Kitab dan Pengulangan Teks Lain: Untuk Ramadhan

 

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) Anggota Masyarakat Pos-Filsafat/Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Pikiran datang dari sisi luar. Dapatkah pikiran berjalan tanpa tubuh? Adakah seksualitas pikiran tanpa suatu dorongan dari luar? Setelah teori, apakah yang dilakukan oleh orang-orang secara kolektif dan individual apabila tidak ada (kematian) teori? Dimanakah relasinya antara bujuk rayu dan teks ada dimana-mana? Apakah bujuk rayu kitab datang bermula dari hasrat menuju teks atau dari permukaan tubuh? Permukaan yang lebih bergairah daripada yang birahi menjadi akhir dari kitab pornografi ke birahi lainnya. Teks sebagai birahi yang ditopang oleh tubuh, dan akhir dari kitab pornografi adalah seksualitas radikal sekaligus ‘kitab revolusioner’ yang dingin dan telanjang.

Permukaan menjadi citra pornografi yang bermutasi, berikutnya memasuki jaringan sel-sel yang lebih kecil dan menyebar, yaitu pornografi pikiran, pornografi konsep, ekonomi, pornografi birokrasi, pornografi politik, pornografi sosial, dan sebagainya yang berlangsung secara “panas”, tetapi tanpa melalui “persetubuhan”. 

Titik kelenyapan realitas yang merangsang masih tetap dipertajam oleh hiperealitas seksual (Baudrillardian). Wujud pornografi merupakan sumber kelenyapan ‘suara idealisme’ yang pada akhirnya tidak ada lagi kenikmatan, kesenangan dan kegairahan, kecuali kegalauan atas realitas.

Pornografi sebagai kitab mengalir keluar dirinya melalui tubuh, ia memiliki keserbaragaman sel yang memasuki pasangan, keluarga, pribadi dan obyek. Pornografi tidak lebih dari kepenuhan  seksualitas. Dapat dikatakan pornografi atau seksualitas bukanlah permasalahan moral. Sejauh ini, seks sebagai kebenaran tertunda untuk ditertawakan datang dari hasrat seksual non manusia.

Setiap orang memiliki anugerah tubuh sebagai teks yang digoda oleh teks lain. Sang nyata begitu datang terlambat. Kalimat yang dibentuk dari suara ke teks. “Mereka makan bersama pria seksi dengan dada berbulu”, “Anda dianugerahi kulit putih mulus yang merangsang”, “Mereka mencicipi makanan cepat saji yang lezat” terjalin relasi bolak-balik dan teracak melalui relasi hasrat, tubuh modal dan tubuh seksual. 

Masyarakat secara umum dan kaum terpelajar secara khusus berada dalam relasi bolak-balik nampak tidak mengalami sintesis obyektif dalam mengiringi pergerakan ‘birahi’ melawan logos, ‘kamus’ melawan ‘ensiklopedia’, ‘batas’ melawan ‘batas’, ‘aksioma’ melawan ‘takhyul’, dan ‘konsep melawan ‘alam’. Sebaliknya, pada kecenderungan lainnya, saat tidak ada lagi metafora, pergerakan arus produksi hasrat non manusia, tanpa penalaran logis-analitis sebelum suara-suara kritis meledak keluar akan menghadapi ruang kosong. 

Banyakkah fakta atau ilusi yang hadir dalam dunia? Bentuk kegoncangan ekonomi, wabah penyakit, kriminalitas, kelaparan, perang, perubahan iklim, rumah tangga berantakan, terorisme (asli), dan peristiwa politik tidak cukup menjadi teori atau analisis panjang lebar.  

Berkaitan dengan teori, dimana teori bukan hanya menjadi bagian dari peristiwa, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai sumber takhyul dan menjadi korban dari realitas yang menghilang dari pandangan kita atau dari serangan hiperealitas. Teori bukan hanya melampaui dirinya, tetapi juga korban dari simulasi sampai kematian menjemputnya. 

Begitu pula konsumerisme mengakhiri teori, dimana pornografi dan pengetahuan (kertas dan laboratorium) memiliki peranan penting dalam pembentukan relasi ekonomi, dimana tanda-tanda muncul dengan teks yang dibaca orang berada di taraf kode dan makna. Hal ini tidak berarti arus hasrat telah keluar dari penguraian ‘darah idealis’, yang dimaterialisasi melalui tubuh menjadi suatu ‘kerangka epistemik’. Sebaliknya, arus darah bukanlah model ritual dari sekte kepercayaan atau tatanan primitif, melainkan pengetahuan dalam arus tanda melawan arus taklid buta.

Kerangka epistemik adalah ledakan. Jika anak muda begitu gila “berpikir keluar dari nalar”. Teks melampaui teks. Ia akan membebaskan dirinya dari nalar atas dialektis ke paralogi (banyak nalar), sekalipun nalar berada dalam ketidakhadiran subyek.

Lika-liku permasalahan pornografi adalah kekuatan atas dirinya sendiri. Sedangkan, sistem kepercayaan bukanlah sumber inspirasi bagi ilmu pengetahuan; ia tidak berarti dalam relasinya dengan ilmu pengetahuan, nilai pemihakan atas sesuatu tidak mustahil relasi dapat menjadi retak kembali, jika filsuf, pemikir atau profesor ternyata dalam perjalanannya telah kehilangan jejak-jejak yang diperjuangkan.

Meskipun terdapat alasan-alasan lain dari orang-orang yang melancarkan kritik secara terbuka dan analisis ilmiah terhadap kesadaran maupun kepercayaan. 

Di luar kepercayaa, mereka (masyarakat, kaum intelektual) masih menjadi model korban yang berulang dari kekerasan bahasa, kekerasan pikiran, kekerasan teks, dan kekerasan simbolik, tatkala dunia nyata (hiperealitas, simulasi dan virtualitas) membunuh petanda (logos, nalar, ruang suci dan petanda transendental). Sejauh ini, akhir dari ilmu pengetahuan adalah tapal batas bagi fantasi atas permukaan tubuh. 

Dari sini, pengetahuan tidak memiliki cukup alasan, bahwa pergerakan pengetahuan adalah kekuatan untuk melepaskan dirinya dari kedalaman yang kosong, yaitu kesadaran, fantasi, selera dan keseragaman. Pada suatu saat, ilmu pengetahuan akan seperti halnya demikian. 

Kekuatan sang nyata dari dunia virtual, sekalipun tanpa pengakuan metafora melawan teori. Suatu kekuatan baru tiba-tiba muncul dari dunia nyata di sekeliling kita membuat setan dengan kecerdasannya mulai linglung.  Kita melihat, wujud seksualitas dipuja-puja selama permukaaan tubu dipuja-puja. Sebagian yang lain, teks visual dan tertulis menjadi teks virtual dengan strategi pembujukan, pembatasan dan stabilitas (diantaranya melalui televisi, internet). 

Kini, setelah rangkain rayuan dan tipu muslihat dunia nyata menjadi kecerdasan sang jahat. Kesenangan dan hasrat nyata apa lagi yang melebihi teori (apabila teori tersebut bukan lagi dari kecerdasan sang jahat)? Dimanakah kebenaran permainan? Kebenaran tidak lebih dari permainan acak dan lelucon konyol. Ia bukan lagi kesangsian (terhadap kebenaran), melainkan kekaguman atas penderitaan. 

Tantangan dan permasalahan kemiskinan, pemanasan global, bahaya narkotika dan korupsi sama merangsangnya dengan pornografi, seksualitas, hiperealitas, dan virtualitas. Mereka bukan untuk dihindari, melainkan ia menjadi obyek analisis pergerakan arus produksi hasrat individual.

Sebaliknya, seseorang secara sukarela berada dalam perubahan dihubungkan dengan urutan diskursus teoritis yang meletakkan pembebasan tatanan dari egoisme. Nilai ilmiah dimaksudkan adalah bukan menunjukkan sebagai perangkap ‘tatanan nalar’ bergerak secara linear dari cogito Cartesian. Pengetahuan meletakkan relasi produksi antara hasrat dan teori, dimana pornografi menjadi bagian dari sirkulasi pembebasan atas hukum yang tidak terpecahkan. Sementara, bentuk konflik fakultas intelektual dan fakultas sosial, fakultas nalar dan fakultas spiritual terjalin kelindang dan bahkan suatu saat saling menetralisir antara satu dengan lainnya.

Dapatkah kegelisahan dikuantitaskan pada saat kita menyaksikan peristiwa yang tidak cepat berlalu?  Tatkala kita menggambarkan tentang bagaimana tema-tema baru dibentuk oleh relasi antara ilmu pengetahuan dan ideologi sekaligus saling menetralisir. Bagaimana rumusan konsep tentang peristiwa dimungkinkan rampung selama manusia melihat dirinya sendiri hingga mampu memainkan suatu “permainan kecil” untuk melintasi “permainan besar”. 

Dapatkah paralogi diletakkan sebagai nilai ilmiah? Dimanakah relasi terbangun dalam kita revolusioner dan pemikiran, jika dihubungkan dengan pemihakan secara sosial dan teks ilmiah tentang permukaan dan kasat mata (perebutan kuasa). Memang, sesuatu yang merangsang dan menantang datang dari kasat mata membuat pergerakan intelektual telah terhuyung-huyung sebelum ia (bahkan sulit selama ditulari dengan mistifikasi benda-benda) menjadi ‘proses energi deseksualitas kesenangan melalui tubuh sebagai teks’.

Teks bukanlah tanda ingatan dan nilai ilmiah membantu merumuskan suatu konsep produksi ditengah konsumsi, melainkan kesenangan untuk mendiagnosis dunia nyata, fenomena, dan ilusi itu sendiri. Aspek kesadaran menjadi wilayah kosong seakan-akan tidak berpenghuni. Kesadaran justeru perlu diwaspadai, tatkala setiap subyek (pikiran manusia) tidak lagi dimasukkan di dalam jejak-jejak kebangkitan mimpi, dari rangkaian benda-benda dibalik ide, hasrat, khayalan dan dibalik tidur panjang. Seseorang bergerak bukanlah bergantung pada kekuatan paralogi maupun daya kritis-analitis yang diambil dari masa tidur yang panjang. Pembebasan hasrat datang setelah diskursus teoritis dan praktek diskursus menghadapi bahaya, dimana individu bermain dalam permainan yang berbahaya. Seseorang berada dalam ketidakhadiran konsep karena sama sekali tidak ada “tantangan” dan “tanggapan” (Toynbeean). Individu tidak melawan kuasa (negara), tetapi “membongkar kedok” (Foucaldian) dan melucuti permainan topeng dari kuasa.

Sebaliknya, cara penggunaan teknis atau praktek tradisi keilmuan yang berbeda-beda bukan proses produksi yang dicapai dalam ilmu pengetahuan, tetapi, pergerakan kuasa dalam “bahasa ketidakhadiran pikiran di tengah penaklukan nafsu”, tatkala prinsip dan logika pembebasan hasrat kolektif dan individual terhadap tanda (kezaliman) yang melibatkan satu rezim kebenaran. Karena pada umumnya, rezim kebenaran yang tengah berjalan merupakan struktur kuasa dalam kehidupan. Berbeda dan melawan rezim kuasa politik (negara), berarti melawan selera dan hasrat sebagai rezim tanda (kuasa). Tidak ada rezim lain (diskursus, kebenaran dan sebagainya), kecuali rezim itu sendiri. Manusia secara organik berada dalam dilema menghadapi rezim diskursus, karena secara institusional memiliki perangkat pendukung terhadap setiap pola pergerakan arus produksi hasrat individu. Seseorang perlu memusnahkan dan menata ulang retakan kepercayaan yang dimilikinya sebelum ia diprogram, dikendalikan dan dikuras oleh mesin teori kritis lainnya (mazhab Frankfurdian).

Jika pergerakan arus produksi hasrat individu akan mendobrak tabu, menolak larangan dan mereproduksi ide, mimpi, khayalan dan hasrat yang dipadatkan dengan kerja-kerja sosial dan intelektual, disitulah mereka menanam gerakan subversif sebagaimana teror atas pikiran di tengah kejumudan bahkan kelumpuhan daya kritis. Bagaimana mungkin pergerakan kepercayaan mereka dibangun, sedangkan sebagian orang direnggut menjadi korban paralogi. Tetapi, korban paralogi yang satu melawan ideologi (konsumerisme) yang lain. Ia bukan lagi sekedar semboyan. 

Tidak ada jalan lain, kecuali hasrat dan mimpi individu menjadi sumber teror bagi pemikiran individual, wabah di saat tidak ada virus atau penyakit kelumpuhan akut (paralisis) pergerakan. Pada saat yang sama, individu membebaskan dirinya dari kungkungan teks institusi (negara) melalui sistem pendidikan, kurikulum dan regulasi lainnya yang membatasi ruang ekspresi dan pendapat. Seseorang tidak mengikuti, kecuali menciptakan arus, karena arus itulah non individu (wujud ideal). Pertama-tama datangnya arus dari pikiran, libido atas hasrat non manusia. Jika tidak, individu hanya sebagai pemama-biak istimewa yang nyaris di setiap panggung yang ada dimana-mana (praktik kemasyarakatan, diskursus politik, ekonomi, hukum, dan keagamaan). 

Energi libido sebanyak arus yang ia lepaskan atau ledakkan keluar. Jika kita percaya, bahwa ‘diskursus teoritis sebagai libido’ dan ‘libido sebagai arus’. Suatu hal yang dianggap aneh, jika kita meletakkan energi libido terhadap tanggungjawab intelektual kolektif secara umum, dimana jejak yang diperjuangkan selama ini (kebenaran, keadilan) dalam masa-masa demokrasi sedang diuji ketahanannya yang mengalami proses dari pemerosotan sensibilitas ke inteligibilitas atas krisis (seperti korban strategi penjinakkan dan pembatasan oleh kuasa negara, miopi intelektual dan godaan konsumsi, sehingga mereka memiliki ketidakmampuan merangsang dirinya untuk melihat yang mana musuh bersama (tirani diri terselubung atau ketidakadilan yang terorganisir). Atauhkah mereka telah berhasil ‘dibungkam’ seribu bahasa?

Arus besar orang-orang secara kolektif dan individu masih ‘dipinggiran’, tetapi menantang dan merangsang seperti gabungan sosio-intelek-teologi-porno. Di saat lain, rezim diskursus yang menciptakan realitas, berarti tanda-tanda kehidupan menentang mekanisme pendisiplinan selama ia dibawah logika konsumsi (nilai guna/simbolik, status, gengsi dan gaya hidup) melumpuhkan pergerakan arus produksi hasrat individual (termasuk kolektif). Kini, konsumerisme melawan idealisme. Kenyataannya, idealisme dalam kematian karena dibunuh oleh individu ideal dirinya sendiri, tatkala dia dijinakkan dengan fulus, kuasa politik dan dengan fasilitas lainnya.  

Suatu arus pembebasan hasrat individu tidak dapat dielakkan. Memang betul, semakin ada pembebasan, maka hasrat sulit dirintangi atau dikekang. Sebagaimana misi pembebasan hasrat, pembebasan pengetahuan justeru menjadi titik tolak berkembang-biaknya pengetahuan dengan wawasan dan sudut pandang lebih teracak dan berbeda (apabila hal itu diperjuangkan secara sungguh-sungguh). Pembebasan kepercayaan dari takhyul muncul di saat tidak ada pengetahuan, karena hasrat untuk berkuasa menjadi pengetahuan seperti hasrat yang tidak musnah. Belum lagi kita melihat relasi antara pengetahuan dan kepercayaan akan digiring dalam model satelisasi cara berpikir rasional dari tanda hasrat atau kesenangan. Alhasil, ilmu pengetahuan yang dipadatkan tidak lebih obyek yang memenuhi “rak” dan “debu buku”, “rumah” dan “kampus”, “fase gincu” dan “fase garam”, “rumus” dan “pasar” ditengah tuntutan perubahan terus menerus berlangsung di sekitar kita.  

Belum lagi tanda kematian teori yang datang lebih cepat dibandingkan bentuk pergerakan kekacau-balauan (setidaknya di mata rezim kuasa negara). Setelah naskah, dokumen ilmiah, penelitian dan laboratorium tidak memiliki kode untuk dikonsumsi melaui perut. Hanya saja dari orang-orang terbataslah yang mampu menyerap kesenangan untuk mencumbui buku teori. Inilah akhir buku teori yang tidak memihak kepada fakultas hasrat dan kesenangan sebagai logika baru.