Aku, Pemuda yang Tidak Begitu Gila

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Pemuda harapan bangsa. Begitulah ungkapan yang sering kita mendengarnya dari masa ke masa. Kali ini, ia tidak diungkapkan persis sama dengan ungkapan yang cukup memberikan semangat. Mungkin, pemuda di sini yang ditunjukkan secara pribadi tidak lebih dari diskursus yang sedikit kedengaran lebih lugu. Kita tidak lagi melihat sosok dan kelompok pemuda berprestasi yang mewakili lembaga pendidikan atau negaranya untuk mengikuti ajang pertemuan bergengsi di tingkat internasional. Kita mungkin lebih melihat pemuda yang hidupnya agak urakan, bahkan sedikit tidak terurus. Apalagi jika dibandingkan antara pemuda yang kelihatan sementara bloon  dan awut-awutan dengan pencapaian pemuda yang dipersembahkan melalui forum ilmiah dunia nampaknya tidak memiliki keterkaitan dengan tema-tema kecil dari kegilaan yang heboh, dalam kehidupan lainnya justeru disaat dianggap biasa-biasa saja. Secara resmi, indikator pemuda yang dalam usia produktif dan non produktif sebagai penduduk telah lama tersusun menjadi bagian dari rasio ketergantungan dalam negara modern. Satu hal yang tidak terlupakan, bahwa ‘pemuda’ dianggap memiliki fungsi simbolik yang lahir dari struktur ‘Ibu Pertiwi’ dan ‘Ayah’. Diskursus kepemudaan dan pemuda itu sendiri berhubungan dengan orang tuanya secara tidak diduga-duga atau dipikirkan sebelumnya.

Dalam diskursus, kegembiraan karena penderitaan yang pertama-tama menceritakan kisah pemuda yang mengizinkan orang-orang untuk mempercayai, bahwa Ayahnya yang senyap telah meninggal, karena anak muda hanya menemukan dirinya lebih enteng dan lebih santun bukan untuk menghilangkan kesalahfahaman mengenai kepergian Ayahnya. Tidak ada lagi keraguan dari seseorang yang memperbesar hubungan simbolik, sekalipun tercampakkan dirinya di hadapan orang tuanya. Selebihnya anak muda kreatif menempatkan dirinya untuk tetap berbakti kepada dunia yang belum dikenalinya dengan baik. Anak muda masih tetap berterima kasih pada sesuatu yang aneh dalam kata-kata melalui kekuatan fantasi atas kegembiraan karena penderitaan yang berangsur-angsur mulai memudar penampakan wajahnya.

Kita memerlukan lebih senyap untuk menguji diri dari marabahaya yang menyelimuti sang pemuda tatkala dari hari ke hari nampak lebih aneh. Satu langkah lagi menuju anak muda yang gila. Kehidupan dan karya pemuda akan menerjang fantasinya sendiri yang dangkal, melepaskan mimpi yang buram tanpa teks dengan pesta hura-hura. Di kota, anak muda ditemani mimpi yang menggairahkan, surat-surat yang dikirimkan ke dunia yang mengisahkan dirinya yang berbicara langsung dengan bintang-bintang di langit yang isinya berupa tantangan kehidupan. Ia membaca buku tanpa fiksi ilmiah mengakhiri film Fantastic Four; pemuda yang lugu lantas menghitung jari jemarinya, menghitung tiang listrik yang dilaluinya sambil berbicara sendirian padanya. Aku tidak sendiri, karena pemuda yang dimaksud adalah ‘aku’ yang tidak menyenangi matematika, fisika dan ilmu pengetahuan yang pasti lainnya. Tetapi, tidak mengherankan, “aku menghitung langkah kaki melalui jari jemari dan mata yang telanjang, bahwa ada jurang, lorong, jalan terjal, gua, laut, langit, warna lampu lalu-lintas saling bergantian, dan hitungan elevator”. Terlebih lagi, aku semakin mengagumi penderitaan persis keberadaan matematika di luar meja belajar. “Aku lebih baik menghitung berapa jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan, dibanding menghitung sesuatu berdasarkan matematika sebagai sesuatu yang pasti”. Biarlah kecepatan Cogito Cartesian atau Aljabar yang akan menilai tingkat ketidaksenanganku pada matematika sebagai dedengkot ilmu pengetahuan yang pasti. Dari sini, cara terbaik kegilaan adalah terpikat pada matematika.

Seiring pemikiran modern memasuki mata yang terbakar oleh dunia virtual bersamaan anak muda ditunjukkan dengan nafsu yang tidak tertolong dan tenggelam dengan sifat melankolis yang dimunculkan bayangannya di siang hari. Esensi pemuda terletak pada bayangannya, lalu pikiran terhalang nafsu yang menggebu-gebu melintasi mimpi-mimpi yang menampilkan sosok pemuda lebih muda dari bayanganku sendiri. Aku melihat diriku lebih nyata menghitung berapa jumlah tiang listrik atau jumlah kendaraan lalu lalang terasa usiaku bertambah lebih muda kembali  di luar mimpiku. “Planet Mars ada di depan mataku”. “Aku melihat matahari dalam mimpi persis di saat terjaga”. “Aku tidak sedang menjerit, kusentuh wajahku, sehingga aku sendiri tidak akan mengenal dimana batas antara kegilaan dan pikiran itu sendiri”. Lima tahun yang lalu, aku masih melihat secara utuh kegigihan yang terakhir Cogito Cartesian dalam Homo Cybernicus menyatu dan menghilang dalam Homo Intellectus di zaman digital, dimana pemuda mengambil secara sembunyi-sembunyi, sekarang lebih muda dari sebelumnya. “Aku berhasrat untuk melukis wajah Mars sejajar untuk menghitung jumlah jenis kinerja dalam perubahan yang fantastis dari telepon genggam”. “Aku berbicara dan tertawa sendiri kembali tanpa di depan cermin, tanpa menghitung tiang listrik, kecuali di depan diriku sendiri, disaat tidak ada lagi obyek yang ditertawai atau dileluconkan”. “Aku, juga bermimpi dengan mata terbuka”.  Masih ada orang-orang selain dari kebanyakan orang yang menertawaiku di saat momentumnya tidak lucu dan merenung seorang diri. Mereka menertawaiku setelah habis kata-kata yang tidak pernah kuucapkan melalui pikiran, melainkan mengumpulkan dan membuat barang-barang bekas dan hal-hal yang alamiah lainnya hingga akhirnya menjadi pesawat, kendaraan roda dua dan empat, menjadi robot-robot yang didaur-ulang. “Di depan mataku, Bumi dan Mars menghilang dalam mata yang sama”. Kata-kata dan benda-benda muncul kembali di saat aku menghitung jumlah tiang listrik dan jumlah lampu sebelum aku tertidur pulas sambil menghitung berapa jumlah mata dalam raksasa mimpiku.

Dalam pergerakan mimpiku, tidak ada yang kuketahui selain mimpiku itu sendiri. Ia akan menolak dan menerimaku kembali tatkala Anda masih melihatku masih pemuda yang urakan dan nampak tidak terurus. Aku akan selalu meraba-raba dalam kegelapan di siang hari, dimana mata tertutup untuk melihat daya tarik kehidupan baru atau sama sekali tidak pernah baru akibat daur ulang mengambil-alihnya secara pelan-pelan, mengambil dalam mimpiku. Aku sendiri berhasrat pada benda-benda yang kaku menjadi bergerak berkat mimpi yang memberinya daya tarik. Aku lebih baik terjatuh dalam mimpi daripada riang gembira menyambut pesonaku yang semu yang membakar nafsu hingga membatasinya untuk sarapan pagi yang membandingkanku dengan segi empat dan jajaran genjang di saat terjaga. “Aku masih lebih muda dari mimpi tentang matahari yang terbit di pagi hari, bukan letak Bumi di sebelah timur”. Sebaliknya, mimpiku akan selalu dalam kewaspadaan disaat terjaga, disaat semuanya tidak ada lagi yang dimimpikan.

“Aku sangat muda tatkala Anda pergi ke universitas di ibu kota, dimana bekal mimpiku akan menemaniku kemana aku pergi”. Dalam hari-hari kujalani, ruanganku nampak bagaikan Nietzsche dan jika dibalik gambarnya yang menempel di dinding, ia nampak bagaikan Einstein. Segalanya seperti mimpi yang bergerak yang memadati ruang yang terpampang di papan tulis yang masih kosong dari tulisan matematika atau rumus dan angka-angka lainnya. Matematika sebagai kebenaran yang tidak tergoyahkan mengingatkanku akan Ayah yang mendidik kita untuk tetap dalam kejujuran. Karena itu, matematika memberikan kejujuran dalam kehidupan. Bibir ini dapat setiap saat tergelincir dalam dusta, dimana mimpi menawarkan padanya sesuatu yang tidak perlu disanjung dan dikutuk, dicibiri dan ditertawai. Seraya tersenyum sendiri, angka-angka atau kata-kata diselang-selingi buku dan musik yang membuat hasrat lebih terbuka dan mimpi lebih besar selama bola peta bumi, atlas, grafik astronomi, tengkorak binatang, dan tulang belulang dari orang-orang kesohor meninggalkan jejak-jejak baru dari perbedaan mimpi yang aneh. 

Pada kesempatan lain, dari Homo Cybernicus menerobos perbedaan menjadi kesatuan dunia nyata dibalik dunia virtual membuat dunia lebih luas untuk dijelajahi. Kekuatan mimpiku lebih nampak dari sebelumnya untuk membersihkan puing-puing bangunan simulasi kegilaan melalui narasi yang dianggap kumal dari pelajaran kita mengenai kimia, sejarah, astronomi, filsafat, yurisprudensi, kesusastraan, dan anatomi. Aku tidak pernah membaca secara tuntas karya-karya Homer, Schiller, Goethe, Shakespeare, Cervantes, Descartes, dan Hobbes seiring dengan tidak kubaca secara mendalam penghayatan mengenai Kitab Suci dan Kisah Seribu Satu Malam yang tidak terjembatani dalam ‘Narasi Besar’ Lyotard. Kadangkala, bacaan dalam mimpiku lebih luas dibanding nama-nama yang diungkapkan di daratan Bumi; ia akan mengalami kekacauan yang mendekati hari-harinya dalam selah-selah mimpiku yang berbeda.

Perubahan dan transformasi ilmu pengetahuan begitu riang gembiranya Anda menyambutku memasuki kota. Pemuda tampan tidak memalsukan mimpi yang indah sejauh pancaran cahaya mata hitam betul-betul membawa secara diam-diam pandangan matanya membebaskan dari pandangan yang menipu. “Tidak ada masalah”. Segalanya masih dapat kuhitung berapa jumlah tiang listrik yang kutemani berbicara, sebesar itu pula inisiatif muncul di balik mimpiku dalam keadaan mata terbuka. Pukul berapa kereta api berangkat tiba-tiba aku masih menghitung jumlah kendaraan lalu lalang melintasi mataku sendiri, tetapi lebih cepat sorotan mata seakan-akan tidak berkedip dibanding sekali kedipan sebelumnya.

Keseluruhan jam di tangan tidak menyiksa lagi. Akhirnya, aku telah mendengar desir keluar dan menampakkan dirinya kembali dalam pikiran yang pingsan. Ia menemaniku kembali keluar suara desingan kendaraan di siang hari. Di sisi jalan muncul wajah anak muda membawa koper yang baru saja turun dari bus tanpa berpikir panjang lagi menghilang dari pandangan membuat kita tidak percaya wajahnya memiliki kemiripan denganku. Kemiripan tertangkap mata dalam keadaan terbuka akan keadaan sekitarnya yang bergerak keluar dari hingar-bingar penghargaan tertinggi dari lembaga penyedia hadiah tentang perdamaian, sastra, ilmu pengetahuan-teknologi. Kini, wajah ceria pemuda tampan itu terpancar dari auranya sendiri.

Hingga mata sulit terpejam. Sementara Anda sedang mempersiapkan kata-kata dan benda-benda yang dimainkan secara tersembunyi dan nampak, aku tidak mengetahui setan jenius apa yang membisikkanku untuk menggelapkan cahaya dalam mimpiku di menit-menit yang terakhir terbuka mataku, dalam ruang kerjaku yang tersingkap kata-kata baru. Aku memahami  apa yang tersembunyi di balik pakaianku, ternyata secarik kertas hasil perhitungan ‘jumlah korban berita dusta di media’ yang menantang mesin hitung dalam komputer. Aku mendengar juga bunyi pintu dan beberapa saat kemudian aku diikuti oleh anak muda yang lebih aneh dariku ternyata ia telah menemukan sebuah mesin hitung untuk menghitung berapa jumlah kendaraan lalu lalang dalam sehari.

Tetapi, aku tidak memahami apa  yang mereka katakan di sekelilingku setelah anak muda itu telah menemukan mesin hitung cepat secara elektronik yang baru dalam kegilaan. Anda dan aku, apa yang dapat dilakukan, kurang apa yang mereka lakukan, dan sekecil apapun penemuannya. Kita tidak mendapatkan berapa banyak uang dalam negeri atau uang luar negeri dibanding tidak berhentinya menertawaiku itu lebih baik darpada aku tidak berbicara pada jam dinding yang membuatku lebih tertantang untuk memulai menghitung, misalnya dari mana kita memperoleh angka empat dan seterusnya. Sudah tentu selingan antara menertawakan diri sendiri dan usahaku untuk mendapat angka yang dimaksud, setelah itu berusaha untuk menemukan sesuatu yang aku sendiri dari mana memulainya dan bagaimana menemukannya. Paling penting, bagaimana suatu keganjilan yang memulai teka-teki itu muncul disaat mata terbuka dalam mimpi.

Sebagaimana harapanku, mereka menemukan dirinya karena bergerak dalam mimpi-mimpi yang melintasi permukaan tubuh. Tidaklah aneh, mimpi seperti juga hasrat perlu ditopang oleh tubuh yang kreatif dan produktif. Kengawuran kata-kataku diikuti dengan mimpi-mimpi yang aneh yang sama sekali tanpa ketakutan. Aku menemukan diriku sendiri dalam mimpi yang tidak diketahui darimana datangnya. Aku tidak pernah menemukan diriku tercekik antara teks tertulis dan mesin digital, karena itu, mimpi-mimpikulah melalui tubuh yang mampu mengatakan ada sesuatu yang tersembunyi di balik tiang listrik dan berapa jumlah kendaraan lalu lalang dalam sehari. Dalam mimpiku segalanya lebih nyata dari pengetahuan sebelumnya, ruang dimana dunia lebih cepat ditangkap jeritan kegembiraan pada matematika dan kegembiraan akan penderitaan. Di dunia tidak memerlukan berapa banyak orang yang mengetahui sesuatu, melainkan berapa banyak yang tidak dipikirkan. Orang-orang tidak menahan dengan mulut, tetapi cara berpikir untuk memulai dari teka-teki ke teka-teki lainnya yang tidak hanya merasa makin lapar jika melihat diri Anda, tetapi membuat pihak di luar Anda turut berpikir lebih santai.

Apa yang Anda ketahui ketika lapar, yaitu menghindarinya selama mungkin untuk berpikir. “Apakah aku lapar?”. Anda bertanya. “Aku tidak lapar tentang hal-hal yang alamiah selama aku ada dalam mimpi dengan mata terbuka”. “Tetapi, aku tidak percaya, bahwa Anda berada dalam kegembiraan akan penderitaan”. “Demi mimpi-mimpiku, aku tidak menderita, karena aku tidak tinggal diam untuk membebaskan dari tipu muslihat dalam kehidupan”. “Aku tidak menyesal, jika aku mampu hidup dalam mimpi-mimpiku tanpa Anda”. “Setiap menit, kupenuhi hasrat dan pikiranku dengan mimpi-mimpi besar, dari karya-karya kecil”. “Aku akan selalu mengulangi, sekalipun bertubi-tubi menertawaiku apa-apa yang digerakkan dalam mimpiku”. Dunia memang tidak sekedar dijalani apa adanya, tetapi juga dihiasi dengan mimpi-mimpi bertemu dengan cara pandang irasional dan rasional dari seseorang. Bunga mawar dalam ruang kerja yang berwujud virtual tidak pernah ada tanpa mimpi besar. Pertukaran tanda dan transformasi kehidupan tidak membuat kita hidup lebih lama lagi, kecuali mimpi yang menyertainya, sekalipun sekejap mata. Siapakah yang memiliki kekurangajaran gambaran mimpi membuat seseorang bertahan tanpa memujanya berarti Anda telah menemukan cara berpikir dalam kehidupan?

Mimpi-mimpiku tidak sederas hasrat Anda untuk berbicara pada dunia tentang apa-apa yang ingin dicapai tanpa mimpi. Mengapa tidak? Apakah buah apel secara lamiah hanya untuk dirinya sendiri, ternyata dalam perjalanan waktu, ia menjadi sumber imajinasi, fantasi dan mimpi dari sebuah wujud virtual yang dipadatkan melalui salah satu merek komputer? Hal ini sesungguhnya menjadi mimpi kembali sebagai dunia nyata. “Aku melihat Anda dalam wujud virtual”. “Anda tidak berangan-angan seperti aku berdiri di hadapan Anda dalam mimpi yang indah yang pernah terjalin”.  “Anda tidak melebihi aku, Anda melebihi Anda sendiri dalam mimpiku yang paling liar”. Kita mencoba melupakan bayangan masa depan, membebaskan mimpi kita dari belenggu masa lalu. “Suaraku ada dalam mimpiku, kumenjerit, kuterbang bebas, dan kumenukik tajam”. “Aku tidak melarang Anda untuk menemukan karya-karya baru”. “Biarkanlah Aku melupakan sisi kebinatangan sekaligus sisi kemanusianku di saat mata terbuka dalam mimpi”! Apakah aku atau Anda yang gila? Cukuplah setengah gila daripada sepenuhnya gila dalam kegilaan! Teman yang berada dalam kesenangan dengan pikiran yang ganjil menunjukkan padaku sebuah patung yang berjenis kelamin sebagai teman baru curahan hatiku untuk menemukan hal-hal baru dalam mimpi. “Mimpiku lebih kupercaya dibanding asisten pribadiku”. “Robot berjenis kelamin yang dapat berbicara dengan manusia lebih kuhargai dibanding sikap santun Anda hanya di depanku”.

Apakah semuanya itu? Dalam mimpiku yang aneh dan gila dituliskan secara profesional, bahwa tidak ada lagi mantan pasien, psikiater dan tanpa rumah sakit jiwaku. Aku benar-benar dilahirkan kembali dalam mimpi-mimpi baru. Dari filsuf dan pendidik agung membuatku lebih bergairah dalam mimpi-mimpiku dan merahinya dengan cara berpikir yang sama dengan mimpi-mimpi yang berbeda sesudahnya. Berkat pergerakan tanda-tanda atau logika baru, aku tidak akan pernah menghitung jumlah pemuda apabila dinyatakan mantan pasien penyakit jiwa.