Aku Yang “Kembali” ( Refleksi Sumpah Pemuda)

images

Oleh : Saifuddin Al-Mughny*

Kata AKU dalam tulisan ini bukanlah sebuah peng(AKU)an, yang menegasikan dirinya sendiri di luar orang lain. Ke-Aku-an yang tidak memposisikan diri orang lain sebagai kamu, anda, kalian, kita dan sejenisnya dalam satu frase interaksi. Tetapi kata AKU lebih merujuk pada satu “komunitas” atau identitas tertentu, sekilas meminjam istilah Michel Foucalt yang disebutnya sebagai episteme sesuatu dibalik realitas, atau apa yang dikatakan Juan Paul Sartre dengan penyebutannya entre en soi dan entre pour soi yang berarti berkesadaran dengan tidak berkesadaran sama sekali. Yah, mungkin lebih pada daya kritis terhadap kehidupan kelompok maupun pribadi dalam masyarakat tertentu. AKU yah..mungkin juga itu diksi Khairil Anwar,….seperti sampah yang terbuang,…

Bahkan dalam lintasan sejarah Indonesia bung Karno sang Proklamator pernah berucap bahwa berikan aku sepuluh pemuda, dengannya aku bisa mengguncangkan dunia. Ini bisa dipahami bahwa, kaum muda begitu penting, bukan hanya untuk hari ini, tetapi di masa lalu kaum muda telah menegasikan dirinya sebagai “kaum pencerah”, intensitas yang progresif, petarung dan sebarek julukan yang melekat pada dirinya. Pemuda dalam catatan sejarah pun begitu berjasa dalam proses kemerdekaan, penculikan Soekarno ke Rengas Dengklok adalah upaya memaksa Soekarno untuk meproklamirkan negara Indonesia sebagai negara yang berdaulat.

Bahkan sederetan peristiwa sejarah bangsa dari orde ke orde, pemuda selalu menjadi mainstream dalam mendorong gagasan perubahan, bahkan jatuhnya setiap rezim peran-peran pemuda menjadi sangat strategis. Gerakan-gerakan civil society yang di mentori pemuda adalah “pewarna” kuat bergeraknya demokrasi di negeri ini, dan itu tiak dapat di sangkali. Syahrir, Hatta, Tan Malaka, adalah sosok kaum muda yang menginspirasi bergeraknya kemajuan berpolitik dan berdemokrasi yang baik. Walau pada akhirnya mereka terpental dalam panggung sejarah.

Tulisan ini sedikit “kritis”, sebab AKU yang Kembali, kalau ditelaah secara bijak berarti sesuatu yang pernah pergi. Ini mengandung unsur maknawi bahwa “Pemuda” saat ini telah terjebak pada kubangan kekuasaan, hedonisme, oportunisme, dengan style kapitalisme, kearifan lokal terkesan lepas dari jubah budaya ketimuran. Modernisasi telah berhasil menggusur “idealisme”, kesadarn semu tersuguhkan dalam tata pergaulan kehidupan. Ironis, sebab arus politik dan kekuasaan yang demikian kuat membawa “hasrat” sehingga pemuda “lupa” bahwa di tangannya bangsa ini tergenggam, …. Sekali lagi ditangannya bangsa ini tergenggam..!!. pemuda tak akan akan mungkin “Gagal Paham” sebab ia adalah bagian dari seluruh proses kehidupan berbangsa dan bernegara ini ada.

Pemuda seperti Antonio Lacardo Da Rocha di Brazillia, Joshua (kerempeng dan kurus) di Hongkong, sangat di benci oleh China tetapi ia didik oleh para professornya berhasil menentang serangan kapitalsime dengan gerakan “The umbrella Revolution”. Tentunyya di bangsa yang sangat majemuk ini akan sangat memungkinkan lahirnya kaum muda sebagai pemegang tongkat estafet kepemimpinan. Dari Papua hingga Aceh adalah satu gugusan “khatulistiwa peradaban” yang demikian besar untuk dijadikan landasan pijak membangun ideologi pemuda. Dan hal itu telah di buktikan 88 tahun yang silam, tepatnya tanggal 28 oktober 1928.

Dan bisa dibayangkan bahwa Sumpah Pemuda 1928 bukanlah satu gerakan yang bersifat ceremonial belaka, tetapi di dalamnya ada nilai luhur kejuangan kebangsaan yang perlu di apresiasi, sebab komitment kaum muda untuk Berbangsa, Bertanah, Berbahasa satu dalam bingkai keindonesiaan. Jauh sebelum kemerdekaan itu di kumandangkan semangat pemuda telah berkobar di panggung sejarah, dari Jong Java, Jong Ambon, Jong Bali, Jong Sumatera, Jong Celebes adalah bukti bahwa gerakan pemuda tidaklah sektarian dan dikotomik. Kearifan lokal sebagaiman yang di dengungkan saat ini bukanlah hal yang baru tetapi sudah menjadi mindset kaum muda dalam gerakannya di masa lalu.

Oleh karena itu, Aku yang Kembali adalah, sebuah pernyataan diri atas kejujuran kita sebagai bangsa di mana pemudanya telah berlari kencang meninggalkan “aras kebangsaan” meliuk-liuk dipusaran kekuasaan. Aku yang Kembali, adalah satu komitmen pemuda untuk mengembalikan khittah perjuangannya dalam mendorong cita-cita kebangsaan yang lebih baik, saling mencintai, saling berbagi, saling bertoleransi, saling menghargai, saling bahu membahu demi tegaknya Indonesia yang bermartabt. Pilihan “Kembali” adalah langkah bijak di saat pemuda kehilangan ruh perjuangan, disaat kaum muda terlempar jatuh dipusar ideologi liberal, disaat pemuda mengalami “kesufian” menyepi sendiri.

Displaced culture atau pergeseran budaya yang demikian kencangnya juga pada akhirnya memaksa ghiroh serta idealisme kaum muda mencari bentuknya. Padahal local genius serta local wisdom adalah satu kutub yang besar dari tatanan bangsa ini untuk menumbuhkan semangat itu. Dari etnik menuju nation, adalah catatan kita, bahwa bangsa ini bermula dari kepingan etnik, suku, bangsa, agama, bahasa, budaya, bergerak menuju satu tatanan yang disebut dengan Nation yakni bangsa atau negara. Indonesia tidaklah lahir dari rahim yang prematur, tetapi kondisi kebangsaan yang memaksa harus lahir dari ketidak wajaran. Yah, ketidak wajaran kita untuk merdeka, di mana sekutu serta pendudukan Jepang masih bercokol di tanah bumi pertiwi Indonesia, dengan keberanian Soekarno atas tindakan pemuda, gegap gempita Proklamasi di kumandangkan, begitu herois bukan ?? tapi itulah torehan sejarah bangsa kita yang tak boleh di sepekan.

Soekarno pernah berucap lirih ketika bangsa ini terguncang, dalam kalimat sendu, …berjalan dari “sunyi ke sunyi”, Bung Karno, tahu betul, bahwa dengan pemuda panji-panji kemerdekaan akan di tegakkan, dengan pemuda kita akan bergerak dari peradaban yang satu dengan peradaban yang lainnya. Maka tugas terberat saat ini adalah bagaimana kaum muda mengisi kemerdekaan dengan cita-cita awalnya, meningkatkan taraf hidup bangsa, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan turut andil dalam perdamaian dunia adalah bahasa konstitusional yang perlu di dorong. Pemuda tentunya sangat di harapkan untuk mengambil posisi terdepan untuk itu. Pemuda harus berani keluar dari pakem budaya politik oportunis dan hedonis, pemuda selayaknya harus tampil memainkan irama genre budaya politik yang santun dan bijak sebagai manifestasi dari Refleksi Sumpah Pemuda. Keberagaman Indonesia menjadikannya sebagai bangsa yang besar dan kuat. Dan semuai itu akan menjadi tak berguna bila pemuda tidak ada di dalamnya.

Epilog
AKU Yang Kembali,
Karena kita tak pernah pergi,
Menangislah seperti perempuan…
Karena kamu pemuda yang lemah,

Selamat Hari Sumpah Pemuda

*Penulis adaldirekturtur Ogie Institute Reserach and Political Development