Alvin Toffler Wafat, Berikut Jejak Hidupnya

quote-the-illiterate-of-the-21st-century-will-not-be-those-who-cannot-read-and-write-but-those-alvin-toffler-34-60-46KHITTAH.co-Futurolog Amerika Serikat,  Alvin Toffler, wafat dalam usia 87 tahun, Senin,  27 Juni 2016 kemarin, di kediamannya, Los Angeles. Wafat Toffler diumumkan tanpa pemberitahuan perihal penyebabnya.  Laman The Washington Post, sumber berita ini, bahkan memberitakan wafat Toffler baru pada Rabu,  29 Juni 2016, pukul 11.06 pagi,  kemarin.

Sosiolog, futurolog yang lahir di New York,  4  Oktober 1928 ini dikenal dengan pemikirannya perihal revolusi dunia dengan gelombang teknologi, informasi,  dan komunikasi. Beberapa buah pikirnya dikenal sebagai prediksi masa depan yang paling dekat dengan kenyataan di era 70-an. Nyatanya, prediksi Toffler itu, kini benar.  Berikut rekam jejak Toffler,  penulis mega best seller Future Shock (1970) dan The Third Wave (1980) ini.

Setamat sekolah, Toffler pernah bekerja selama lima tahun sebagai tukang las, perancang bangunan pabrik, dan buruh pada jalur perakitan. Ia kemudian menjadi koresponden di Washington, dan selanjutnya menjadi editor pembantu untuk Majalah Fortune. Ia juga pernah dikontrak oleh IBM untuk meneliti dan menulis makalah mengenai dampak komputer terhadap sosial dan organisasi. Ini membuatnya berhubungan dengan orang-orang terawal yang paham komputer.

Toffler juga pernah diundang oleh perusahaan Xerox dan AT&T untuk menulis tentang laboratorium penelitiannya. Pekerjaan di AT&T inilah yang menyebabkan timbulnya studi mengenai telekomunikasi. Riset Toffler menyarankan kepada manajemen puncak perusahaan untuk memecahkan diri satu dekade lebih awal sebelum pemerintah Amerika Serikat memaksa AT&T untuk melakukannya. Prediksi yang menakjubkan!

Toffler memang dikenal dengan pemikiran prediktifnya yang mumpuni, hingga pada pertengahan tahun ’60-an, pasangan Toffler mulai mengerjakan karya yang kemudian menjadi buku laris Future Shock. Jika dibaca, buku ini bagi berisikan mimpi-mimpi yang mencengangkan. Mimpi-mimpi masa depan, tantangan masa depan!

“Tidak ada yang tahu secara pasti, tapi, bagaimana pun, kita bisa mengidentifikasi pola-pola perubahan yang terjadi… Seorang futurolog memang memiliki tombol keajaiban.” Begitu ungkap Toffler saat diwawancarai oleh sebuah harian dari China dan Majalah Strategy & Bussines tahun 2006.

Pemikiran Toffler  perihal kejutan masa depan (future shock) inilah yang membuat Toffler dikukuhkan sebagai futurolog dan sosiolog berpengaruh. Kejutan masa depan adalah keadaan manusia dengan banyak perubahan dalam hidupnya dalam waktu yang dimiliki sangat pendek. Segala perubahan terjadi begitu cepat, dinamis. Kemajuan teknologi, informasi, dan komunikasi merupakan suatu kekeniscayaan. “Merekalah” penyebab sekaligus solusi. Orang yang menentang ini adalah orang yang mengigau, karena tidak akan ada dan tidak boleh ada orang yang mematikan tombol kemajuan teknologi kehidupan ini. Begitu ungkap Toffler.

Toffler di The Third Wave bahkan menyebutkan bahwa era kini adalah gelombang ketiga kehidupan setelah dua gelombang sebelumnya, yaitu masa pertanian dan perindustrian. Sejarah hidup manusia telah merentang dalam tiga gelombang ini, dan gelombang ketiga, kini adalah era teknologi informasi. Segala lini hidup manusia di masa ini adalah perihal teknologi. Kehidupan manusia bergantung pada komunikasi dan informasi. Siapa yang tidak mengakses informasi, tidak berkomunikasi, dan gagap teknologi, bahkan menarik garis anti atas semua ini, niscaya akan punah!

Terakhir, ungkap Toffler,  the illiterate of the 21st Century will not be those who cannot read or write, but those who cannot learn, unlearn and relearn (Orang buta huruf abad dua satu bukanlah orang yang tidak bisa membaca dan menulis, tapi orang yang tidak bisa belajar, tidak bisa meninggalkan pelajaran yang tidak lagi dipelajari, serta tidak belajar lagi).

Selamat jalan,  Toffler!

Sumber
Laman The Washington Post
Wikipedia
Future Shock-Alvin Toffler (1970)
The Third Wave-Alvin Toffler (1980)