Amanatia Junda dan Waktu Untuk Tidak Menikah

Oleh : Syahrul Al-Farabi

Kumpulan cerpen Amanatia Junda tiba – tiba menjadi buah bibir oleh para pembaca di awal tahun 2019. Buku yang berjumlah 178 halaman yang diterbitkan oleh Mojok ini berjudul ‘Waktu Untuk Tidak Menikah’. Untuk pembaca karya sastra di Indonesia, buku itu menjadi sihir tersendiri, khususnya bagi mereka yang masih lajang. Sihir tersebut hadir dalam sebaris pertanyaan retoris ; apa gerangan yang membuat kita harus menunda sebuah pernikahan?

Cerpen ini menjadi buku yang cukup laris di awal tahun 2019. Empat belas cerpen di dalamnya memuat gaya dan makna yang berbeda satu sama lain. Bagi saya, judul yang ditawarkan Junda di sampul bukunya menjadi hal pertama yang menarik para pembaca. Di sana ada sebuah keberanian melawan nilai umum yang telah dipegang kuat di masyarakat. Nilai bahwa pernikahan adalah puncak dari segala kebahagiaan.

Cerpen ini berkisah tentang Nursi yang diminta segera menikah oleh orang tuanya pada umur 28 tahun. Orang tuanya menyiapkan seorang laki-laki yang baru dikenal oleh Nursi. Laki – laki itu bernama Laksmo. Nursi pada mulanya enggan dan ragu untuk menikah karena dia belum begitu mengenal calon suaminya. Tapi karena terus didesak oleh orangtuanya, maka mau tidak mau, dia harus menikah dengan laki – laki yang baru dikenalnya itu. Tetapi beberapa peristiwa sebelum pernikahan membuat Nursi kemudian membatalkan pernikahan tersebut. Hal ini dikisahkan oleh Junda dengan beberapa rentetan kisah yang pilu dan cukup problematik.

Pertama, menjelang pernikahannya, Nusri mendapat telpon dari sahabatnya, Reni. Perempuan ini sempat menangis dan bertutur tentang kehidupan ekonomi keluarganya yang ambruk. Reni dan suaminya diusir oleh warga. Perusahaan tempat mereka bekerja diboikot oleh warga. Idealisasi pernikahan di kepala Nusri akhirnya retak. Tetapi dia sudah berjanji pada Ayah dan ibunya untuk menikah.

Selain itu, Laksmo, calon suami Nusri adalah pemuda yang masih asing baginya. Hal itu diperparah ketika melihat kakak kebanggaannya, Permana, beradegan ciuman tangan dengan begitu mesra di semak pohon pisang sebelum acara pernikahan dimulai. Nusripun mulai goyah dan kecewa. Dan hal terakhir yang membuat Nusri sangat terpukul adalah ketika mengetahui anak semata wayangnya yang dia temukan di dalam kardus beberapa tahun lalu harus terbaring sakit di Timalayah. Nusri menangis sejadi – jadinya. Dia tidak tahan lagi dengan segala perasaan dan persoalan yang terjadi padanya. Menikah, pada saat itu, menjadi prosesi singkat yang tak akan membawa kebahagiaan apa-apa.

Junda merangkum kisah di atas dengan cukup baik. Dengan bahasa sederhana, dia mampu merekam keadaan batin Nusri dan beberapa persoalan sosial ekonominya sebagai ukuran pembatalan pernikahan dengan Laksmo. Ketika beberapa orang melihat pernikahan sebagai segalanya tentang kebahagiaan, Nusri lewat tangan Junda justru melihat kebahagiaan hadir bukan dari pernikahan, tetapi hadir lewat kerinduan dan kepeduliaan pada seorang anak, sahabat, ataupun tempat kerja.

Selaian itu, lewat tangan Junda, cerpen ini berhasil menghadirkan beberapa kritik tentang kekerasan verbal laki – laki pada perempuan. Bagaimana budaya patriarki memandang perempuan hanya sebagai objek yang harus ditundukkan, dengan demikian dikuasai.

Nusri, misalnya, pernah mengalami kisah yang tragis dengan mantan pacarnya, Yunus. Dalam penggambaran Junda, Yunus adalah tipikal lelaki yang memandang perempuan hanya sebagai alat atau benda. Hal ini muncul di halaman 80 pada dialog Nursi dan Yunus via telpon.

“Srikandiku yang tangguh, perempuan itu ibarat mangga. Kalau masih muda, kecut poul! Tapi, masih enak, kan, dibuat manisan? Atau dirujak? Diolah macam – macam bisa, tinggal taburi gula. Kalau sudah tua? Palem kematengan, ya, enggak enak. Mblenyek. Mblenek. Apalagi bekas dimakan codot, jatuh di jalan, nggak ada yang mau mungut, paling banter digilas sama sepeda motor yang lewat. Awas jadi perawan tua, lho, kamu, Sri!”

Atau pada dialog yang lain. Yunus memandang Nusri seperti kue lemper. Sebuah analogi yang sangat sarkastik dan menghina derajat perempuan.

“Tahu lemper nggak kamu, Sri? Kue itu bungkusnya ada dua, yang pertama dibungkus daun pisang kayak kemben, yang kedua dibungkus lagi dengan daun pisang yang lebih lebar biar tertutup rapat. Malah sekarang ada juga yang dibungkus plastik hijau, biar modern, nggak ndeso.”

Seorang Nusri di mata Yunus adalah seorang perempuan yang penuh aib yang harus ditutupi. Dia selalu dipandang murahan. Mereka akhirnya berpisah disebabkan Yunus berselingkuh dengan gadis bakul kutang langganan Nusri.

Kompleksitas Nikah

Dalam beberapa kisah yang dihadirkan Junda dalam beberapa cerpennya, ada semacam ikhtiar perlawanan terkait ide pernikahan dan kompleksitas yang mengelilingi nya. Kisah ‘Baru menjadi Ibu’ atau ‘Pisah Ranjang ‘. Beberapa konflik atau kekerasan secara fisik atau psikis kerap mewarnai juntaian konsep indah tentang pernikahan. Ataupun ide ‘kesempurnaan’ setelah menikah dilangsungkan. Hal itu tentu paradoks dengan beberapa kisah yang dihadirkan Junda dalam cerpennya ini.

Namun terlepas dari itu semua, Junda cukup berhasil mengepak kisah di atas dalam satu judul cerpen yang cukup ‘aneh’. Judul ini semacam antitesis dari cita – cita ideal semua pasangan di alam semesta untuk dapat menikah. Lewat tangan Junda, ada moment ketika manusia memang tidak seharusnya atau menunda pernikahan. Moment itulah yang kemudian dihadirkan Junda kepada pembaca. Dan tentu saja membuat mereka yang lajang mampu sedikit bernafas lega bahwa mereka bukan satu-satunya yang mempunyai perasaan yang sama pada konsepsi pernikahan yang tidak selalu sempurna.

Tetapi cerpen Junda juga tidak lepas dari kritik. Beberapa sistematika menulis masih terlihat rapuh. Antara paragraf yang satu dan lainnya tidak menghadirkan makna yang utuh. Dan yang paling penting dari semua itu, Junda tidak memberikan makna yang begitu dalam tentang nasib dan masa depan mereka yang masih menunda untuk menikah, kecuali masa depan yang masih suram. Namun demikian, saya kira Junda menyimpan potensi ide literasi yang sangat brilian. Dan Waktu Untuk Tidak Menikah menjadi sebuah awal sebuah jalan literasi yang panjang.