Angkatan Muda Muhammadiyah Maros Bahas Kemandirian Pemuda di Era Millenial

Khittah.co, Maros – Dalam Rangka menyambut sumpah pemuda, Angkatan Muda Muhammadiyah Maros yang terdiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Nasyiyatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah menggelar Dialog Publik. Dialog yang mengangkat tema “Kemandirian Pemuda di Era Millenial” bertempat di Cafe Basement PTB Maros. (27/10/2018)

Adapun narasumber dialog yakni Nurjaya (Wakil Rektor I Universitas Muslim Maros), Rahmat Rizal (Ketua Pemuda Muhammadiyah Maros) dan Asratillah Senge (Direktur Profetik Institute).

Dalam Pemaparannya, Nurjaya menjelaskan terkait realitas yang terjadi saat ini. seperti jumlah Handphone lebih banyak dari Jumlah penduduk Indonesia. Hal ini bisa menjadi positif dan negatif.

“Pemuda hari ini belum mampu mengembangkan segala potensinya. Sebenarnya Silaturrahim juga bisa menjadi modal besar ini merupakan kekuatan jaringan dalam mengembangkan sektor usaha agar dapat berkolaborasi melakukan inovasi. Pemuda harus mempunyai karakter yang kuat. Karakter tersebut lebih dapat diciptakan dalam ruang pendidikan informal, kapasitas diri harus dibentuk dengan niat dan semangat kepemudaan” Jelas Kandidat doktor Administrasi Publik Universitas Hasanuddin ini.

Sementara itu, Rahmat Rizal menjelaskan bahwa konteks pemuda bukan lagi soal usia tetapi siapa yang masih memikirkan masa depan orang banyak disitulah ia disebut sebagai pemuda. Pemuda hari ini harus tahu mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan. Pemuda Islam jangan lupa Shalat lima waktu, Dhuha, Infak dan Sedekah. Sekiranya pemuda ini memperhatikan hal tersebut insya allah akan menjadi modal bagi pemuda. Terkadang pemuda kurang keberanian dalam mengambil langkah tersebut padahal dalam dunia usaha kita harus lebih banyak ACTION dan bukan menjadi jobseeker (pencari kerja) tetapi pemuda harus menciptakan lapangan pekerjaan sebagai usia produktif.

Sementara itu, Muh Asratillah Senge mengatakan bahwa kemandirian pemuda harus punya tiga hal yang yaitu pertama, kemandirian budaya bagaimana menjadi alat keluhuran budi kemudian tajam dalam pemikiran artinya mindset harus berubah dimana prestise masyarakat haruslah lebih agung tidak hanya sebatas materi namun lebih kepada nilai. Kedua, kemandirian politik yaitu rasionalitas politik kita harus berbasis nilai dimana kata kami harus diganti menjadi kata kita bahwa setiap kebijakan politik didasari oleh kepentingan bersama bukan lagi berasa kepentingan kelompok, ras, suku atau golongan tertentu. Ketiga, kemandirian ekonomi. Kita harus dibangkitkan karena untuk melangsungkan kenegaraan ini pendapatan perkapita harus di atas rata-rata atau berada pada angka kesejahteraan, minimal wirausha harus melampaui 2,0% jumlah penduduk kita.

“Olehnya itu, di sektor kebudayaan saya merekomendasikan agar para pemuda tetap menjadi pribadi otentik di tengah derasnya arus digitalisasi kehidupan. Perlunya para pemuda yang memiliki talenta politik, agar lebih menekankan politik “ke-kita-an” ketimbang politik “ke-kami-an”. Dan yang terakhir, saya menyarankan agar pemuda memanfaatkan peluang-peluang di sektor ekonomi kreatif” Jelas Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan ini.