Bagaimana Agama Bermula ?

Oleh : Muh. Asratillah Senge

(Esai pengantar saat membawakan materi di SII LKIMB UNM, 27 April 2019)

 

Khittah.co _ Kita tidak tahu, dari mana agama bermula. Walaupun secara hipotetik, kita seringkali berkesimpulan bahwa secara fitrawi manusia adalah makhlukh yang bertuhan, dan kebertuhanan atau keberagamaan sudah ada, sedari manusia ada. Tetapi yang menjadi tanya adalah, apakah ada garansi, bahwa visi keberagamaan yang kita punya saat ini sama dengan visi keagamaan yang dimiliki oleh manusia puluhan ribu silam, apakah mereka memiliki persepsi Tuhan yang sama dengan kita ?.

Menurut Sloek dalam “Devotional Language”, salah satu situs di Grosse Chauvet, yang diperkiran dibuat pada 30.000 SM, memberikan kita sedikit petunjuk tentang hal tersebut. Gambar-gambar arkeologis yang ada didinding gua, memberikan beberapa petunjuk arkeologis, bahwa saat itu masyarakat Homo Sapiens mengalami pertambahan penduduk secara dramatis, yang berpotensi melahirkan tensi sosial. Lukisan-lukisan tersebut bukan sekedar seni, tetapi juga semacam korpus ritual yang dibentuk untuk mengendalikan konflik, dikodekan melalui gambar dan disebarkan dari generasi ke generasi. Ini adalah sistem ideologi awal yang tersimpan selama tiga puluh ribu tahun lebih.

Situs arkeologi semacam labirin Lascaux yang merentang dari sebelah selatan Perancis hingga sebelah utara Spanyol, bagi sebagian arkeolog adalah tempat suci untuk melaksanakan beberapa jenis acara. Gua-gua yang ada di labiran Lascaux bisa disepadankan dengan candi-candi pada agama-agama yang lebih kontemporer. Lukisan-lukisan di dindingnya adalah sebuah ikonografi yang mencerminkan sebuah visi (penglihatan) akan dunia luar. Manusia saat itu lebih mudah mengekspresikan kedalaman bathinnya melalui gambar ketimbang konsep-konsep. Inilah yang disebut dengan Shamanisme, yang berkembang di Afrika dan Eropa hingga ke siberia dan Amerika di masa Paleolitik.

Seorang Shaman, adalah seseorang yang dapat berhubungan dengan arwah-arwah, dan percaya ia terbang menembus angkasa untuk berkonsultasi dengan dewa-dewa tentang lokasi perburuan (aktivitas yang sangat penting bagi manusia saat itu). Dalam masyarakat Shamanisme ini, mereka merasa tidak ada perbedaan tegas antar spesies, manusia bisa menjadi hewan dan hewan dapat menjadi manusia. Sehingga mereka saat menyembelih hewan buruan mereka, berada dalam situasi psikologis yang dilematis. DI satu sisi hewan mesti diburu atau disembelih untuk penyediaan asupan makanan, dan si sisi lain para hewan ada dalam rangka untuk melindungi (memberi makan) kehidupan spesies manusia, dan ini digambarkan dalam sebuah mitos, bahwa pada awalnya manusia melakukan perjanjian khusus dengan sang Penguasa Hewan.

Karen Armstrong dalam The Case for God ; What Religions Really Means, mengatakan bahwa semua agama kuno didasarkan pada apa yang dinamakan filsafat perennial. Filsafat ini memandang setiap orang, benda dan pengalaman adalah replika atau manifestasi dari dunia sakral yang sifatnya lebih tangguh dan badi dibanding dunia kita. Saat para pemburu kuno, memburu mangsanya, mereka merasa bersatu dengan pemburu pertama (archaetype hunter), lalu setelah perburuan mereka selanjutnya terlibat dalam penderitaan dan sakit korban buruan. Sehingga ada semacam persambungan mental bahkan ontologis antara manusia dengan wujud-wujud lainnya.

Jadi agama beserta mitos dan ritusnya, diawal kemunculannya sebagaimana seni, adalah upaya manusia untuk membangun arti dihadapan kepedihan dan ketidakadilan hidup yang tiada habisnya. Manusia adalah makhlukh pencari makna, sekaligus makhlukh yang rentan untuk berputus asa. Mereka menemukan agama dan seni, untuk membantu diri mereka menemukan nilai dalam kehidupan, walaupun kenyataan seringkali memperovokasi bahwa “hidup sama sekali tidaklah bernilai”. Mitos dalam agama, tidaklah menuntut kebenaran empiris bahkan kontradiksi dengan aturan-aturan daasar dalam logika, tetapi setiap mitos yang bagus akan banyak memberikan kita sesuatu yang begitu berharga tentang kesulitan yang begitu sering merundung manusia. Kita tak bisa menuntut mitos untuk menunjukkan kebenarannya kepada kita, yang bisa kita lakukan adalah bersikap terbuka terhadapnya.

Kalau kita mau jujur terhadap hasil-hasil penemuan dimasa paleolitik beserta interpretasi terhadapnya, maka agama pada awalnya bukanlah seperangkat dogma atau satu set doktrin siap saji, yang kapan pun bisa kita santap. Adanya inisiasi, upacara-upacara perburuan, pengurbanan, simbolisme menunjukkan bahwa agama adalah kerja keras. Sebagaimana dalam hal kelihaian membuat puisi, prosa, lukisan, pahatan patung beserta karya seni lainnya, pertanyaan pertama yang relevan bukanlah pertanyaan “apakah agama yang kita anut itu benar atau tidak ?”, tetapi “apakah kita punya kecakapan dalam beragama atau tidak ?”. Meururt Walter Bruket dalam Homo Necans, ritual-ritual dalam agama awalnya bukanlah ekspresi dari “kepercayaan” yang mesti diterima dengan iman buta, ritual bukanlah konsekuensi dari seprangkat ide-ide resmi dalam teologi tertentu, justru pemahaman (ide) agama merupakan buah dari pengalaman terlibat dalam ritual.

Ritual dan mitos, sebagaimana seni, menumbuhkan modus kesadaran yang berbeda pada manusia. Kesadaran berbeda inilah yang menjadi pintu utama untuk masuk ke dalam agama. Ritual dengan segala geraknya, perjalanan ke tempat yang sulit dijangkau, nyanian atau lantunan lagu maupun ayat yang terdengar begitu ajaib di telinga kita, akan menjadi media agar persepsi kesadaran normal kita sehari-hari ditarik hingga kebatas-batasnya, dan pada momen itulah transendensi menjadi mungkin. Begitu pula dengan mitos-mitos, dengan rangkaian narasi yang heroik, ketabahan yang terkadang tak masuk akal dalam menghadapi derita, pertarungan dengan hewan-hewan menyeramkan dan sebagainya. Ritus dan mitos, membantu kita mengalami ekstasis, pada waktu itu seperti itu, kita merasa seperti mendiami kemanusiaan kita secara utuh daripada biasanya sekaligus mengalami peningkatan wujud.

Saat manusia modern lebih mengandalkan modus “logos” dalam mencari pengetahuan , maka ritus dan mitos, menjadi sesuatu yang diasosiasikan dengan “cerita bohong”, “berita yang diada-adakan” bahkan “dusta”. Padahal mitos keagamaan semisal kisah penciptaan awal manusia (adam dan hawa/ adam dan eva) dalam tradisi agama ibrahimik, kisah pribadi pertama yang bernama Phurusa (dalam tradisi agama lembah sungai Nil) yang lalu mengorbankan dirinya agar kemudian dari dirinya berkembang biak manusia yang banyak, mitos to manurung dalam epos Bugis, mitos Mahabrata dan mitos-mitos lainnya, bukanlah ditujukan sebagai peristiwa historis yang betul-betul terjadi di masa silam. Mitos adalah narasi kemanusiaan, narasi yang menggambarkan peristiwa yang akan senantiasa terjadi pada diri eksistensial manusia. Narasi pertarungan, kengerian, kepahlawanan, kasih sayang yang memenuhi narasi mitos keagamaan, tidak lain adalah proyeksi dari segala hal yang mungkin dalam labirin jiwa manusia.

Maka hal paling bijak dalam menghadapi ritus dan mitos keagamaan adalah, bersikap terbuka terhadapnya. Sikap terbuka, menuntut sikap ke-rendah-hati-an, ada sikap aporia (menunda penilaian apalagi tuduhan) di sini. Ke-rendah-hati-an menuntut sikap tidak angkuh, sebab musuh dari agama bukanlah “kekufuran” dan “setan”, tetapi “keangkuhan”.