Bapak adalah Ayah yang Amanah

Eva ZulfEva dan Ayahiah Hasanah)

Mahasiswi Universitas Negeri Makassar (UNM)/ Ketua Bidang Media Komunikasi PC IMM Makassar

Entah bagaimana korelasinya, hari ini, disemua media sosial, aku sangat ingin mengunggah fotoku bersama Bapak. Rasanya rindu yang kemarin baru saja diredakan melalui panggilan telepon membuncah seketika. Barangkali ini yang disebut kontak batin. Mungkin. Aku hendak menelepon rumah, tapi pulsaku tak cukup sama sekali. Lalu kuluapkan rindu itu melalui tulisan betapa aku merindukan dan memohonkan kesehatan beliau.

Malam hari setelah selesai berbenah buku pelajaran untuk besok pagi, telepon genggamku berdering. Nampak di layar foto keluarga dengan nama kontak “Bapak”. Aku bergegas mengangkatnya. Namun yang menyapa adalah Mamak. Sayup-sayup suara laki-laki paruh baya sedang batuk keras. Aku kenal pasti suara siapa itu.

“Bapak sakit, Mak?” Tanyaku menyela pembicaraan Mamak.

“Iya, Bapakmu sibuk sekali urus pembangunan masjid. Belum lagi proyek pembangunan kelas TPA dari PNPM. Itu lagi mbelajari laporan bangunannya.” Jelas Mamak.

“Pantesan gak tau nelpon.

Sejak periodisasi kepemimpinan Pak SBY memberikan kebijakan PNPM-Mandiri, Bapak dipercayakan warga menjadi bagian dari tim di desa. Beliau memulainya dari bawah. Menjadi kuli dalam proyek, meningkat menjadi anggota, naik lagi menjadi sekretaris, dan menjadi ketua sampai sekarang. Banyak proyek yang telah diselesaikannya, seperti: Gedung kelas TPA Hindu, TPA Baiturrahman, jembatan, pengurukan jalan, pos kamling, plengsengan selokan, plat deker, dan beberapa proyek lain. Namun, fitnah manusia tidak pernah terhindarkan. Bapak sering dituding korupsi dan menghabiskan jatah proyek untuk keperluan kuliah anaknya, aku.

Pasalnya, beliau sangat jarang terlihat bekerja sebagai buruh tani selayaknya pekerjaan pokok beliau sehari-hari tapi masih bisa membiayai hidup anak istri. Kalau bukan hasil korupsi, dari mana lagi? Begitu kata tetangga. Saking seringnya, Bapak hanya meluapkan emosinya sambil ngarit rumput. Tidak jarang yang diarit malah jari atau kakinya. Nasib baik jari beliau tak putus. Sapi yang berada dikandang kami pun hanya sapi gadai. Kami di upah anak sapi kedua. Alhamdulillah, sekarang sudah beranak pinak menjadi empat.

Saya percaya, Bapak adalah pribadi yang jujur dan dapat dipercaya. Kami melihat betapa beliau gigih bekerja diluar proyek. Menanam jagung setelah subuh, lalu ngarit rumput atau kadang nyemprot, lalu pulang ke rumah pukul tujuh dengan membawa sayur mayur atau bekicot. Setelahnya, beliau sarapan dan bergegas ndaud (mencabuti bibit padi) di sawah orang. Kalau petak bibitnya sedikit, beliau dapat lekas pulang sebelum dhuhur. Setelah dhuhur, Bapak mengecek dan mengawasi pekerjaan proyek sampai ashar. Ashar lanjut ke kebun menyemai bibit ubi jalar. Tidak langsung pulang, tapi langsung ngarit rumput lagi karena sapi-sapi kami sedang bunting kedua induknya.

Sebelum magrib beliau tiba dirumah dan langsung memberi pakan dan minum ternak-ternak kami. Selain sapi, ada manila dan ayam. Bapak sangat cekatan dalam bekerja. Bahkan, jika saya sedang memasak nyambi cuci piring, beliau tak tega menyuruh saya mencuci baju beliau yang penuh lumpur dan duri-durian sawah. Beliau mencuci sendiri bajunya. Selepas magrib, kebiasaan beliau adalah minum kopi lalu tidur. Normalnya, setelah minum kopi seseorang akan terjaga. Namun, saking lelahnya beliau bekerja seharian penuh, kopi tak lagi mempan meredakan ngantuknya.

Pukul delapan kami anak-anaknya telah pulang dari langgar membangunkan Bapak untuk makan. Tapi beliau memilih sholat dahulu lalu makan bersama. Cengkrama, diskusi, semua kami bicarakan sambil makan. Makan malam usai, bapak bergegas membuka laporan kemajuan proyek atau sekadar mempelajari SOPnya. Sebagai orang desa yang sekolahnya tak sampai SMA, Bapak terdidik secara otodidak perihal proposal, laporan, desain bangunan, matematika campuran dan pengetahuan arsitektur lainnya yang bagi beliau sungguh berat belajar diusia lanjut.

Tiga tahun bergelut dengan proyek dan tetek bengeknya, Bapak bertransformasi menjadi warga biasa yang mulai diperhitungkan keberadaannya. Kemampuannya mengelaborasi waktu dan kecepatan beliau mempelajari SOP diapresiasi dan beliau diminta untuk mengajari tim proyek dari desa lain. Pernah suatu waktu dalam momen evaluasi, Wakil Bupati mengatakan “Proyek Bapak rapi, paling bagus sekecamatan. Mantap!” Lalu tangan Bapak dijabat dan berfoto bersama. Esok harinya, Bapak tersenyum sumringah sepanjang jalan sambil membawa koran dari kantor desa. Pertemuan itu diliput media cetak setempat dan Bapak menjadi satu-satunya tim proyek yang wajahnya masuk koran. Bangga beliau tak terdefinisikan. Senang!

Kinerja Bapak yang profesional, fitnah yang tidak terbuktikan, kejujuran dan dedikasi bapak untuk membangun desa di apresiasi Kepala Desa dan kaurnya dengan memilih Bapak menjadi anggota BPD. “Tanggung jawab semakin banyak, sirah tambah mumet (kepala tambah sakit).” Cerita beliau kepada Mamak. Kerja keras beliau menjadi tauladan bagi kami, anak-anaknya, bahwa hidup ini adalah perjuangan yang tiada henti. Terus berusaha mengerjakan apa saja selagi bisa tapi jangan coba-coba mencuri yang bukan hak kita.

Fenomena ‘Ayah Gagal’ di masyarakat tidak terjadi di rumah kami. Saat anak-anak yang beranjak dewasa merasa ‘benci dan kikuk’ dengan ayahnya sendiri tidak terjadi dalam keluarga kami. Meski Bapak tidak sekolah tinggi dan profesi utamanya adalah petani, beliau tidak mudah emosi. Sebab Bapak selalu membiasakan diri menjadi teman bagi kami sehingga anak-anaknya sukarela tanpa dipaksa akan menceritakan kehidupan atau masalah diluar rumah dengan senang hati. Kalaupun kami melakukan kesalahan besar, Bapak tidak serta merta menghukum kami dengan tangan, tapi beliau mendudukkan kami dengan dialog perasaan. Sharing dengan penuh rasa kasih sayang. Lalu beliau memberi kami tugas tanggung jawab merawat ternak pagi sore secara disiplin agar tidak punya kesempatan membuang-buang waktu main-main dijalanan. Beliau bisa menjadi teman karib yang asik, partner diskusi yang keren, pelindung bagi segala rasa kabung. Ya, meski tidak sehebat cara Rosulullah, setidaknya peran Ayah setidaknya demikian.

Fenomena begal motor disampaikan oleh Ustadz Bachtiar (Juri Hafidz Qur’an Trans TV) dalam sebuah ceramahnya bahwa hal tersebut disebabkan oleh ‘Ayah Gagal’. Ayah yang gagal menjadi teladan bagi anaknya. Ayah yang gagal mendidik istri menjadi agennya dalam menanamkan nilai-nilai ketauhidan kepada anaknya. Broken home bukan hanya ketika terjadi perceraian dan perpisahan tapi saat dimana anak-anak tidak memeroleh perhatian dan nilai-nilai keteladanan dari orang tuanya. Nafkah materi saja tidak cukup untuk membesarkan anak.

Selayaknya pohon yang semakin tinggi semakin kencang diterpa angin, Bapak kami  adalah sosok yang berhasil tidak terombang-ambing dibawa angin. Bagi kami, beliaulah ayah yang amanah, ayah yang tak sekadar membiayai ngaji dan sekolah, ayah yang tak sekadar memberi nafkah tapi teladan untuk menjalani hidup dengan berkah. Lekas sehatlah, Bapak.

Teruntuk Bapak kami, Suwandi.

Semoga kami menjadi investasimu menuju taman surgawi.

Makassar, November 2015 Silam.