Begini Cara Kiai Bahar Belajar dan Mengajarkan Agama

KHITTAH.co, Makassar – K. H. Baharuddin Pagim berproses jadi ulama sejak masih belajar di Madrasah Muallimin. Dengan bekal sebagai lepasan Muallimin yang mondok selama enam tahun, ditambah ketekunannya untuk belajar pada para ulama, baik di dalam lingkungan Muallimin, maupun di luar,  menjadikan Baharuddin Pagim  matang dalam hal paham keagamaan.

Secara pemikiran, Baharuddin Pagim banyak terpengaruh oleh pemikiran keagamaan yang ia kaji dari K.H. Makmur Ali. Bahar belajar kepada Kiai Makmur tentang perjuangan Islam dan kepada K.H. Djabbar Asyirie ia belajar terkait ulama Zuhud. Hal ini membuat gambaran dari kedua tokoh tersebut sangat berpengaruh terhadap kepribadiannya.  Selain itu, ia juga banyak belajar dari K.H. Bilalu melalui pengajian Durratumasihin atau mutiara-mutiara nasihat, serta K.H. Mustari melalui kajian Tafsir Jalalain.

Dari banyak belajar kepada ulama-ulama itu, bekal paham agama Baharuddin semakin matang. Hal ini akhirnya membuat ia mulai banyak mengisi pengajian sebagai ulama yang sangat menjunjung tinggi pada kemurnian agama sesuai dengan Alquran dan Hadis.

Dalam setiap pengajiannya, dia banyak menekankan bahwa Islam harus dipahami dari sumber aslinya, yaitu Alquran dan Sunah. Menurut Kiai Bahar, fanatik itu hanya kepada Alquran dan Hadis, dan menolak untuk fanatik terhadap satu ulama saja, termasuk itu ulama Muhammadiyah sekalipun.

“Dulu pernah suatu waktu, saat Dr. S. Madjidi banyak berpengaruh terhadap pemikiran orang-orang Muhammadiyah di Sulsel. Saya merasa, hal itu mesti dikoreksi. Bagaimanapun, kita tidak boleh terlalu fanatik terhadap beliau.” (dalam Wawancara, Jumat, 3/11/2015).

Selain itu, ia juga banyak berpesan untuk belajar agama kepada semua ulama tidak dibeda-bedakan. Intinya,  berprinsip pada Quran dan Hadis, tidak berdasar pada pendapat pribadi. Ia manganut Ijma jama’i, bukan pendapat pribadi. Hal lain dari Baharuddin, sekalipun terkadang menemukan perbedaan bersama teman-temannya di Muhammadiyah, akan tetapi, selalu disikapinya dengan bijak. Menurutnya, sikap ini adalah keyakinan dan prinsip setiap orang.

Sosok Bersahaja

Baharuddin dikenal sebagai pimpinan yang sangat menjunjung tinggi amanah. Usia bahkan tidak menjadi halangan baginya untuk tetap beraktivitas di lingkungan persyarikatan. Di saat dalam kondisi fisik yang semakin menurun, ia tetap aktif menghadiri setiap acara-acara, baik sebagai peserta, mau pun sebagai penceramah. Dalam menjalankan kesibukannya, Baharuddin kerap hanya ditemani motor tua. Setelah tak dapat lagi mengendarai kendaraan sendiri, ia difasilitasi oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel sebuah mobil Toyota Kijang beserta supir untuk menunjang aktivitas-aktivitasnya.

Kebersahajaan inilah yang membuat ia disukai banyak orang, baik rekan-rekannya sesama warga Persyarikatan Muhammadiyah, maupun orang-orang yang mengenalnya. Di Masjid Hisbul Wathan dekat rumahnya, Baharuddin juga merupakan Ketua pengurus masjid. Di lingkungan tempat tinggalnya, Baharuddin juga dikenal sebagai orang yang ramah. Warga sekitar rumahnya mengaku tidak pernah melihat Ustaz Bahar terlibat konflik dengan tetangga sekitar.

Baharuddin menempati rumah di suatu gang sempit, di Jalan Satando, sejak tahun 1959. Rumah dengan luas 8×5 meter persegi. Di rumah inilah, Baharuddin bersama istrinya, Hj Sitti Marhaba membesarkan sepuluh anak-anaknya. Ia pernah ingin pindah dari rumah itu, tapi dilarang oleh banyak warga. Mereka meminta Baharuddin untuk tetap tinggal di sana. Ia bagi warga setempat dianggap sebagai teladan.

Kini Sang Kiai telah berpulang, semoga kader-kader muda Muhammadiyah dapat mengikuti jejaknya.

 

Advertisement