BEM FK Unismuh Gagas Proyeksi Gerakan Mahasiswa Kedokteran Melalui Webinar Kepemimpinan

ADVERTISEMENT

KHITTAH.CO, MAKASSAR– Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran (FK) Unismuh Makassar menggelar kegiatan WEBINAR LKMM-SK 2020 (Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa dan Sekolah Kastrad).

Tercatat, participant pada kegiatan webinar ini berjumlah 200 yang merupakan seluruh mahasiswa FK UNISMUH dan IKA (Ikatan Alumni) FK UNISMUH dengan menyongsong tema “Integritas dan Strategi Adaptabilitas Organisasi di Era Disrupsi”. Kegiatan ini dihelat, Selasa 15 September 2020.

Ketua Dewan Legislatif Mahasiswa (DLM) FK Unismuh Lestari Putra mengatakan, beragam topik yang dibahas dalam webinar ini, dengan narasumber dari multi-disiplin ilmu yang notabenenya adalah kontributor dan influencer generasi milenial.

Topik materi tersusun secara sistematis bermula dari Peran Mahasiswa Kedokteran Dalam Gerakan Tajdid Muhammadiyah Elly Oschar, Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel); Adaptasi Pergerakan Mahasiswa Dalam Gelombang Disrupsi (Sherly Annavita, Milenial Influencer); dan Prognosis Mahasiswa Kedokteran Dalam Gelombang Disrupsi (dr. Rais Reskiawan, Mahasiswa Ph.D Neurosains University of Nottingham UK).

“Kita berharap lewat seminar ini lahir mahasiswa yang mampu merespon sebuah isu kebangsaan,” ungkap Lestari Putra, Rabu (16/9/2020).

Elly oschar (Narasumber I) menegaskan “gerakan tajdid Muhammadiyah adalah gerakan advokasi yang memperjuangkan kaum lemah berasaskan integrasi nilai-nilai pencerdasan dan pembebasan (terbebas dari segala tindak-tanduk penindasan dan pembodohan). Karenanya, BEM FK UNISMUH sebagai lembaga pelanjut dan pelangsung gerakan muhammadiyah sudah seyogyanya bertanggungjawab dalam memastikan serta memperjuangkan kebijakan yang tidak merugikan kedua pihak, baik mahasiswa maupun birokrasi kampus.”

Terpisah, Sherly Annavita (Narasumber II) mengatakan “realitas sekarang adalah sejarah yang terulang. Tuturnya, makna disrupsi ialah memotong jalur-jalur pikiran konvensional. Perubahan bisa terjadi ketika kita siap melawan arus (status-quo). Sejarah hanya mencatat pemainnya, dan sehebat apapun penontonnya itu tidak akan tercatat dalam sejarah. Hari ini bukan soal kompetisi tapi kolaborasi. Yang mahal dari sebuah karya bukan ide gagasannya tapi secepat apa eksekusinya, ini bukan tentang disparitas perbedaan tapi mendekatkan jarak persamaan. Pilihannya hanya dua; ciptakan pembaruan atau galakkan pembaharuan. Kunci besarnya pun hanya dua; berubah segera atau segera tertinggal.”

Dr. Rais Reskiawan selaku narasumber terakhir di webinar ini dengan menyatakan gerakan mahasiswa kedokteran saat ini sudah maksimal secara eksistensial, tapi nihi dalam esensial. Beliau juga menjelaskan miniatur keorganisasiaan yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari kita adalah makna sosial yang terkandung di Shalat Berjamaah, yakni berawal dari barisan shaf dengan keteraturannya hingga ma’mumnya yang dibolehkan untuk mengingatkan Imamnya jika khilaf dalam rukun dan bacaannya. Hemat saya, prognosis mahasiswa kedokteran di era disrupsi bergantung pada critical thinking-nya (berpikir kritis) sebagai modal dan kunci utama dalam beradaptasi dalam situasi paceklik saat ini.