Berbahagialah Bagi Orang-orang Yang “Lentur”

                                                               Sumber : Internet

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

Kita tak bisa ingkari, begitu banyak peristiwa memilukan di sekitar kita, baik telah ataupun sementara berlangsung. Pembunuhan, penyingkiran, pemerkosaan, perampokan dan segala bentuk kejahatan-kekerasan struktural. Yang baru saja terjadi adalah, pemukulan yang berujung kematian terhadap seseorang yang dicurigai akan mencuri di masjid padahal tidak. Peristiwa tersebut terjadi di sebuah kota kecil dan konon pelakunya adalah orang-orang yang sedang menginap atau melakukan kegiatan keagamaan di masjid. Peristiwa-peristiwa memilukan tersebut seakan-akan mengaminkan tesis Thomas Hobbes bahwa manusia adalah serigala pemakan sesamanya. Tak pandang bulu apakah “serigala” tersebut beragama, berharta, berpendidikan, menyandang gelar-gelar kehormatan, tapi tujuan asali mereka tetap sama yaitu “memakan”.

August Comte (1798-1857) yang sering digelari (ataupun diejek) sebagai bapak sosiologi beraliran positivistik, punya pandangan menarik soal harapannya terhadap kualitas “emosi-emosi murah hati” manusia. Dalam buku Comte yang berjudul A General View Of Positivism Comte menjelaskan bahwa “cinta universal” adalah sesuatu yang sifatnya intrisik pada manusia. Walaupun “emosi-emosi murah hati” terkadang kalah oleh agresivitas ego, tapi pada dirinya terdapat kualitas keindahan kata Comte, dan selayaknya untuk ditumbuh kembangkan sembari menahan kekuatan antagonis yang menahannya. Perkataan Comte tersebut memperlihatkan harapan akan kualitas kebaikan pada diri manusia, mengingat Comte saat itu sedang hidup dalam suasana revolusi Eropa yang mencekam.

Harapan Comte tersebut sebenarnya dikonfirmasi oleh beberapa penemuan-penemuan paleontologi serta studi di bidang neurologi. Dalam riwayatnya Homo Sapiens menunjukkan kecenderungannya yang kuat untuk menciptakan bentuk-bentuk seni yang paralel dengan perkembangan sistem-sistem keagamaan. Contoh misalnya lukisan-lukisan goa masa Paleolitik di daerah Leang-leang Maros yang berumur 40.000 tahun ataupun yang ada di Perancis yang berumur 30.000 tahun, memperlihatkan bagaimana agama dan seni saling mengandaikan, saling menumbuhkan dan saling menghidupi (sehingga bagi saya proposisi keagamaan yang menganulir seni adalah sebuah anomali).

Beberapa ahli neurolog mengatakan bahwa, perkembangan sikap religius nan estetis dari Homo Sapiens tersebut, sangat berkaitan dengan perkembangan Neokorteks pada bagian otak kita. Neokorteks memungkinkan kita menjadi makhlukh yang tak sekedar “memakan”, tetapi menjadikan kita sebagai makhlukh “pencari makna”, menjadi makhlukh yang mampu kebingungan nan cemas, cemas akan nestapa dirinya terutama kematian. Tapi memang “pelepas dahaga” dari kecemasan adalah makna, tanpa “pelepas dahaga” tersebut maka kita akan mudah terjatuh pada keputusasaan. Agama dan Seni di awal-awal riwayat Homo Sapiens membawa mereka pada “kelembutan” dan “kelenturan” sehingga mereka tak mudah “ditekuk” oleh kerasnya kehidupan.

Saking lenturnya sampai-sampai Anne Frankl mengatakan bahwa penderitaan adalah prestasi (Leistung). Apa maksud dari proposisi “Penderitaan adalah prestasi” ?, yaitu menghadapai derita “secara tepat dan jujur”. Anne Frankl lalu mengatakan bahwa “pretasi sesungguhnya dari penderitaan…tak lain adalah proses pematangan (reifungsprozess)”. Penderitaan bisa berbuah prestasi jika dan hanya jika kita mampu mengepung derita dengan makna dan penderitaan yang bermakna adalah “penderitaan demi…”.

Tapi bagi saya affirmasi Frankl terhadap derita bukan berarti “menyerah” dan tidak ingin “mengantisipasi” derita dan sumbernya. Tapi sebelum kita bisa mengantisipasi ataupun mentransformasi derita beserta sumbernya, terlebih dahulu kita harus lentur alias tak mudah ditekuk oleh “derita”, di situlah agama-seni punya andil besar. Andai manusia tak lentur dihadapan derita, maka peradaban sungai Nil, sungai Indus dan sungai Kuning takkan pernah lahir. Jika bencana alam yang tak bisa dikontrol dan diprediksi menjadi sumber derita tak mengapalah, tapi yang jadi soal jika yang menjadi sumber derita, dalang ketidak adilan dan “serigala” adalah manusia itu sendiri, menggunakan legitimasi agama, ideologi, cita-cita nasional pula.

Pertanyaan-pertanyaan seputar kejahatan alias sisi kelam manusia tak henti-hentinya diajukan, seakan-akan pertanyaan-pertanyaan tersebut tak pernah “mati” sebagaimana agama yang tak akan pernah mati pula. Sekitar sebulan yang lalu, dalam sebuah ajang perkaderan kawan-kawan HMI saya diajukan pertanyaan yang serupa. Lalu saya menjawab pertanyaan tersebut dengan mengajukan dua solusi (khusus konteks Islam), solusi pertama bahwa kita harus melampaui literalisme-legalistik dan solusi kedua kita harus mempu mendayagunakan tiga macam bentuk epistemik dalam khazanah intelektual Islam (berdasarkan pembagian yang dilakukan Abid Al-Jabiry).

Mengapa kita harus melampaui kecenderungan literalisme-legalistik dalam beragama ? salah satunya, karena literalisme akan membuat kita tak “lentur” dalam menghadapi arus sejarah, membuat kita gagap dalam mengantisipasi globalisasi serta kaku dalam menjawab isu-isu substansial kemanusiaan dan akan mudah ditekuk oleh godaan untuk berbuat tak adil. Jika kita tak “lentur” dalam menghadapi peristiwa-peristiwa negatif, semisal kekerasan maka alih-alih kita akan memutus rantai kekerasan, yang terjadi adalah sebaliknya, kita akan mereproduksi atau menduplikasi kekerasan yang sama, maka lahirlah apa yang kita kenal dengan istilah “spiral kekerasan”.

Jika kita tak lentur dalam menghadapi isu-isu ketidakadilan, maka kita akan terperangkap dalam sikap mistis dan naif. Alih-alih mencari akar sebab permasalahan, justru kita terjebak dalam tindak “blaming of victim”, kita akan salah kaprah dalam mengindentifikasi korban, bahkan kita bisa saja justru turut memperkuat struktur ataupun sistem yang melahirkan ketidakadilan. Selain itu literalisme-legalistik tak berangkat dari asumsi bahwa keberagaman adalah sesuatu yang steril dari setting sejarah-budaya-politik-ekonomi, dan inilah yang disukai oleh para demagog yaitu para aktor yang senang mengaduk-aduk (memanfaatkan) perasaan primordial massa (agama, suku, ras dll.)

Lalu soal solusi yang kedua, tak bisa kita pungkiri bahwa dalam khazanah intelektual Islam saat ini, terjadi dominasi epistemologi bayani (bentuk epistemologi yang mendasarkan diri pada teks legal keagamaan, semisal ushul fiqh dan fiqh ), dan terjadi semacam pendangkalan-penyingkiran terhadap epistemologi burhani ( yang berlandaskan pada aql, semisal falsafah) serta kecurigaan yang berlebihan terhadap epistemologi irfani (yang berlandaskan pada al-qdzauq/intuisi bathin). Padahal peradaban Arab-Islam di abad pertengahan tumbuh berkembang tak sekedar hanya ditopang oleh para fuqaha, justru para pionirnya lebih banyak dari para dokter, ilmuwan, filosof dan para darwisiy setelah abad ke 8 H. Dengan kata lain pendayagunaan ketiga bentuk epistemik tersebut akan melahirkan “kelenturan” luar biasa dalam menantisipasi momentum-momentum sejarah. Maka dari itu, tak salah jika di antara para kaum sufi ada ungkapan yang terkenal “Berbahagialah bagi orang-orang yang lentur karena mereka tak mudah untuk ditekuk”.

Advertisement