Berkenalan Dengan Teori Kritis (Bagian 2)

only_human___

Oleh : Asran Salam*

Pemikiran yang memperahui Teori Kritis selanjutnya atau ketiga adalah kritik ekonomi politik Marx. Perlu dipahami bahwa pemikiran Marx tidak bisa dilepaskan kritiknya terhadap pemeikiran Hegel. Karl Marx menilai bahwa gagasan “renkonsiliasi” Hegel itu, tidak berarti apa-apa. Pada kenyataanya, keadaan tetap sama—tak ada yang berubah. Untuk itu, Marx kemudian menempatkan dialektika Hegel dalam konteks materil (dialektika kritis dan revolusioner).

Berangkat dari pijakan tersebut, kemudian Marx menganalisa perkembangan ekonomi. Hingga lahirlah kritik ekonominya terhadap kapitalisme. Marx menilai ekonomi telah melahirkan dua kelas yakni kelas borjuis (kapitalis) dan kelas proletar (buruh). Dalam relasinya terjadi penghisapan—ekpsloitasi—dari kelas borjuis terhadap kelas proletar. Dalam terori nilai lebihnya, Marx menilai bahwa pada proses kerja, kelas borjuis (kapitalis) mengekspolitasi tenaga kelas proletar.

Dalam analisnya terhadap kapitalisme (ekonomi politiknya), Marx tidak hanya menampilkan peta atau kenyataan dan kerja-kerja kapitalisme akan tetapi disetiap proses analisanya termaktub upaya emansipatoris. Pada posisi ini, juga bisa dibilang sebagai salah satu yang membedakannya dengan Hegel.

Di sini pula kemudian Teori Kritis menurunkan arti kritisnya yang ketiga setelah yang pertama kritisme Kant dan yang kedua kritis pengertian dialektika Hegel. Selanjutnya, salah satu analisa Marx yang penting dan juga memiliki relasi dengan Teori Kritis adalah prediksinya bahwa kapitalisme akan hancur dengan sendirinya disebabkan oleh kontradiksi internalnya.

Sama dengan dua tokoh yang menjadi inspirasi sebelumnya, Teori kritis juga memiliki perbedaan dengan analisa-analisa Marx. Atau dengan kata lain, Teori Kritis meninggalkan beberapa teori Marx. Di antara teori Marx yang ditinggalkan oleh Teori Kritis yang pertama adalah teori tentang nilai pekerjaan (nilai lebih).

Sebab bagi Teori Kritis dalam masyarakat industri maju, bukan nilai pekerjaan melainkan ilmu pengetahuan dan teknologilah yang menjadi tenaga produktif utama. Kedua adalah analisis kelas Marx. Teori ini ditinggalkan oleh Teori Kritis karena dalam masyarakat kapitalisme lanjut kelas borjuis dan kelas proletar sudah melebur dalam satu sistem kapitalis.

Kedua kelas ini sudah sama-sama “dijajah” dan ditindas oleh sistem di mana proses produksi ditentukan oleh teknologi yang sudah tidak terkontrol lagi. Ketiga adalah teori kaum proletar sebagai subjek revolusi, lalu digantikan dengan kaum intelektual. Alasannya adalah kelas proletar tidak bisa lagi diharapkan karena sebagai subjek revolusi, mereka sudah melebur dengan sistem.

Keempat adalah mengganti kritik ekonomi politiknya kepada yang lebih menyeluruh yakni kritik terhadap rasio instrumental. Rasional instrumental ini menurut Teori Kritis, sudah menghasilkan budaya Industri yang telah menghalangi perkembangan individu yang otonom dan independen. Pada kritik rasio instrumental ini, Teori kritis kemudian lebih melangkah jauh dalam mengkritik posivistime, objektivisme dan saintisme.

Pemikiran yang keempat mempengaruhi Teori Kritis adalah psikoanalisa Freud. Psikoanalisa Freud dipakai oleh Teori Kritis untuk mengkritik ideologi. Psikoanalisa merupakan pelengkap analisis Marx dalam mengkritik ideologi. Marx menilai bahwa kesadaran manusia tidak bisa dipisahkan dengan realitasnya.

Kesadaran manusia sangat ditentukan oleh kondisi sosialnya. Dengan kata lain, yang dasariah atau primer yang menentukan kesadaran masyarakat adalah kenyataan. Bukan kesadaran yang menentukan kenyataan atau kondisinya. Sedangkan dalam kondisi sosial yang ada kelas penguasalah yang banyak menentukan dan membetuk kesadaran masyarakat. Kesadaran ini yang terima begitu saja oleh masyarakat, sehingga bagi Marx ideologi adalah kesadaran paslu—sesuatu kenyataan yang dibentuk oleh penguasa.

Perihal analisa Marx di atas, bagi Erich Fromm belum memadai sebab Marx tidak menjelaskan secara detail mengapa kesadaran ditentukan langsung oleh kenyataan. Menurut Fromm ada missing link antara bangunan atas yang ideologis dan basis yang sosio ekonomis dalam kritik ideologi Marx. Pada ruang inilah Teori Kritis (Erich Fromm) meminjam psikonalisis.

Fromm menganalis bahwa Ideologi perlu ditinjau dengan hubungan naluri seksual. Karena ideologi semacam fantasi yang dapat memuaskan naluri seksual itu. Sehingga bagi Fromm, psikoanalisa dapat menunjukkan bahwa ideologi manusia adalah produk dari keinginan-keinginan, naluri-naluri instinktif, interes-interes dan kebutuhan-kebutuhan tertentu, yang pada dirinya sediri secara tak sadar menemukan pengakuannya sebagai rasionalisasi yakni sebagai ideologi.

*Penulis adalah pegiat literasi di Paradigma Institute