Berkesempatan Ikuti Program AIMEP di Australia, Ini Cerita Sekretaris MPK Muhammadiyah Takalar

Syahrul (ujung kiri)

KHITTAH.CO, Australia- Sekretaris Majelis Pendidikan Kader (MPK) Muhammadiyah Takalar memperoleh kesempatan melakukan kunjungan ke Melbourne, Australia dalam kegiatan Australian Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP) 2018. Sebuah program kerjasama Indonesia Australia untuk mengetahui kehidupan komunitas Muslim di Australia. Kegiatan ini berlangsung di selama dua pekan dan para peserta akan mengunjungi Melbourne, Canberra, dan Sydney dari tanggal 30 April – 13 Mei 2018.

Hari ini adalah hari keempat. Mantan ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah Takalar itu melakukan meeting dengan Dr. Hass Dellal OAM, seorang Executive Director di Australian Multicultural Foundation (AMF) dan Chairman of the Special Broadcasting Service.

“Kami banyak bicara tentang kerja – kerja sosial AMF dalam membangun kesadaran komunitas tentang multikulturalisme dan perdamaian, melawan sikap anti sosial, mengkampanyekan hubungan sosial antar komunitas (khususnya komunitas Muslim Australia),” cerita Syahrul lewat pesan WhatsApp.

Lewat AMF, para peserta juga banyak belajar tentang beberapa ide – ide yang bisa dilakukan dalam program untuk membangun relasi antar komunitas. Salah satunya mereka sebut sebagai “Building Resilience in the Community eLearning Modul”. Sebuah program yang  kemudian terwujud dalam sebuah aplikasi android.

Selain melakukan meeting dengan AMF, para peserta juga diterima  oleh Professor Abdullah Saeed, Sultan of Oman Chair of Arabic and Islamic Studies dan juga seorang Director of the National Centre of Excellence in Islamic Studies di Universitas Melbourne, Australia.

“Kami banyak bicara tentang Islamic Studies. Saya merekam petuah beliau. Semacam kuliah umum. Dan beliau adalah seorang ‘Imam’ tanpa jamaah dalam komunitas Islam di Australia. Bagi beliau, siapapun yang tertarik belajar Islam, beliau akan terima dengan senang hati. Kalau tidak, yaa terserah mereka,” ungkapnya.

Professor yang bukunya cukup banyak dibaca oleh akademisi muslim di Indonesia ini, khususnya di Muhammadiyah, terus aktif menulis tentang Islamic Studies sampai sekarang.

“Buku terakhir beliau juga akan terbit dalam waktu dekat ini. Dan itu bisa diakses di Amazon”, kata Syahrul yang begitu senang bisa bertemu dan berbincang dengan tokoh Islamic Studies ini, khususnya di Australia.

Sebagai sedikit gambaran, Islam di Australia adalah Islam yang sangat multikultural. Sebagian dari mereka hidup dalam komunitas – komunitas berdasarkan etnis tempat mereka berasal. Sehingga praktik Islam juga berbeda antara satu sama lain. Oleh pemerintah Australia, mereka diberikan hak-hak yang sama dan setara dengan masyarakat lain di sana. Tak perbedaan, ataupun ketidakadilan. Sehingga beberapa diantara mereka mengaku senang hidup disana.

Tapi bagaimanapun, tantangan tetap saja hadir dalam komunitas-komunitas mereka. Beberapa diantaranya adalah persoalan issue Islam di timur tengah dan persoalan para imam serta patriarki atau kekerasan dalam rumah tangga bagi perempuan islam. Oleh sebab itu, di Australia, anda akan banyak menemukan organisasi atau komunitas yang memperjuangkan hak – hak mereka.