Berpolitik harus Ber-uang!

ADVERTISEMENT

KHITTAH.CO, MAKASSAR- Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menjelaskan perihal dua perbedaan corak kepemimpinan dan politik  antara transaksional dengan transformasional yang sering terjadi dalam politik. Rabu 24 Januari 2018 di balai sidang Muktamar Unismuh Makassar.

“Konsep kepemimpinan dan politik transaksional menekankan kepada adanya interaksi tranksaksi dan kesepakatan atau perjanjian antara aktor politik dengan satu pihak, dengan rakyat pada suatu pihak lain. Kepemimpinan dan politik transaksional menghadirkan ranah-ranah transaksi di antara partai politik”

Menurut Din, para ahli memberikan perbedaan mendasar antara kepemimpinan dan politik transaksional dan Transformasional dengan menekankan kesepakatan antara kedua belah pihak, tentu pihak yang ingin tampil dikekuasaan menjadi pemimpin, baik eksekutif maupun anggota legislatif.

“Konsekuensinya adalah terjadi deal-deal tertentu dan kesepakatan-kesepakatan tertentu maka sering tujuan itu tidak lebih dari memenuhi kesepakatan-kesepakatan tertentu”

Lanjut, Kepemimpinan dan Politik transaksional itu dianggap tidak progresif dan banyak diperhadapkan dengan politisme yang tidak membawa kepada kemajuan bangsa.

“oleh karena itu dibutuhkan Kepemimpinan dan politik yang Transformasional yang bercirikan mendorong terjadinya transformasi, terjadinya perubahan didalam lingkungan suatu bangsa dan didalam kehidupan suatu masyarakat.

Namun, jika dikaitkan dengan politik transaksional di Indonesia belakangan ini, maka politik transaksional ialah istilah lain dari politik uang, yang bersifat politik dagang, yang kemudian menimbulkan seseorang harus beruang dengan jumlah yang besar ketika ingin terjun ke politik

Jika aktor politik berhasil menang di dalam perlombaan demokrasi itu, maka Ia harus mengembalikannya uang yang telah digunakannya, maka ini akan membawa keburukan. Sehingga membuka peluang korupsi, kolusi, maupun praktek buruk lainnya,Tutupnya(*)