Beyond The Limit, Reframe The Future

Catatan untuk Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke-XXII

Oleh : Agusliadi Massere*

Advertisement

Dalam konteks kehidupan pelajar, Ikatan Pelajar Muhammadiyah merupakan wujud praksis daripada titah Ilahi QS. Ali-Imran/3: 104. Secara aksiologis kehadirannya membawa sebuah nilai dan misi besar menunjukkan “rel” kehidupan yang harus dilalui oleh seorang pelajar/remaja. Termasuk mencegah agar pelajar/remaja tidak tergelincir dan tetap berada dalam rel menuju “stasiun” harapan. Dan bahkan secara filosofis dan paradigmatik memberikan bekal berupa modal sosial, intelektual dan religious-spiritualistik, karena dirinya akan melanjutkan perjalanan berikutnya yang penuh dengan kompleksitas.

Kesadaran akan perjalanan dan modalitas yang telah mengalami internalisasi, baik secara personal maupun institusional, membangun sebuah kultur dan cara pandang untuk senantiasa mampu bersikap, berpikir dan bertindak melampaui batas-batas yang melekat dan mengitari dirinya. Begitupun senantiasa mampu merancang masa depan baru sebagai sebuah keniscayaan dan sekaligus sebagai eksternalisasi dari dimensi psikologisnya (dream). Masa pelajar/remaja memiliki dream yang indah dan ideal.

Mungkin terasa bahwa hanya kali ini, perhelatan kolosal dan forum tertinggi (Muktamar XXII) dalam tubuh Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dibingkat dengan tema “Beyond The Limit, Reframe The Future”. Apalagi mungkin dimaknai sebagai respon cerdas dari krisis yang melanda (pandemi Covid-19) dan merebut peluang “peradaban digital”. Atau dipandang sebagai titik temu dari dua pendulum ekstrim: negatif-tantangan dan positif-peluang (pandemi covid19 dan peradaban digital). Sesungguhnya bukan hanya karena itu, DNA IPM⸻dan mempengaruhi algoritma paradigmatiknya⸻sejak awal berdiri, seiring perjalanan sejarah, sikap, pikiran, perilaku dan tindakannya bisa dimaknai sebagai sebuah “Beyond The Limit, Reframe The Future”.

Sebagai contoh sederhana ketika presiden Soeharto pada saat itu mengeluarkan kebijakan yang menegaskan, bahwa satu-satunya organisasi pelajar dalan lingkup pendidikan formal (sekolah) adalah OSIS. IPM secara cerdas merespon dengan cepat melakukan reformasi internal. Merubah dirinya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Di IRM-lah saya lahir secara ideologis, mengalami sebuah proses seperti yang dirumuskan oleh Pierre Bourdieu. Mengalami proses “habitus” dalam sebuah arena yang sangat dialektis dan dialogis, akhirnya bisa melakukan sebuah praksis terbaik tanpa kecuali dalam menghadapi badai sekalipun.

Muktmar XXII IPM berlangsung dari tanggal 25 s/d 28 Maret 2021 yang dilaksanakan secara online (tepatnya Hybrid: gabungan antara online dan offline, dengan membagi titik kumpul sebanyak 34, masing-masing di ibu kota provinsi). Muktamar kali ini mengusung tema “Beyond The Limit, Reframe The Future”.

Sikap, pemikiran dan tindakan IPM sebagaimana bermuara pada tema tersebut, bukan hanya respon spontan dan cerdas terhadap situasi⸻khususnya krisis/pandemi Covid19⸻tetapi secara teologis, ideologis dan filosofis telah memiliki akar yang kokoh. Selain realitas konkret yang telah digambarkan di atas.

Setelah membaca Blue Print Materi Muktamar XXII IPM dan berbagai produk pemikiran yang lahir sebelumnya, bisa ditemukan  dan dipahami dengan jelas akar teologis, ideologis dan filosifis tersebut. Relevan dengan hal tersebut, saya menangkap dua point penting dari sambutan Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah)⸻dalam pembukaan Muktamar⸻Pertama, urgensi merubah paradigma; dan kedua, memperluas dan memperdalam cara pandang terhadap sesuatu atau fenomena dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.

Secara teologis dan filosifis, sikap, pemikiran dan tindakan IPM yang “Beyond The Limit” (melampaui batas krisis, melintasi/menembus batas) dan “Reframe The Future” (merancang ulang masa depan baru) hal itu merupakan tafsir progresif dan praksis empirik daripada QS. Ali-Imran/3: 110. Dalam bahasa sederhana, bahwa “IPM tidak mau fokus atau hanya menggunakan pendekatan “teori kritis” dan “kesadaran kritis” sebagai alat baca masalah. Tetapi berdasarkan ayat (110) tersebut, mengutamakan “kesadaran progresif”, sebuah kesadaran yang senantiasa berorientasi kemajuan atau masa depan dan melihat  segala sesuatu dari kacamata “optimistik”. Selain daripada itu memiliki ikhtiar untuk senantiasa menjadikan diri sebagai umat yang terbaik, menebar keteladanan dalam kehidupan.

Selain QS. Ali-Imran/3: 110 tersebut, diperkuat oleh pemahaman teologis yang selama ini menjadi basis dan etos pergerakan Muhammadiyah⸻sebagai induk IPM⸻yaitu surat Al-Ashr. Atau sering dikenal dengan teologi Al-Ashr’. Teologi ini diintegrasi-interkoneksikan⸻meminjam istilah Amin Abdullah⸻dengan pemahaman filosofis dari Appreciative Inquiry. Maka ditemukanlah sebuah cara pandang yang sangat berkemajuan dan bahkan setiap realitas yang ada⸻apapun itu tanpa kecuali pandemi Covid19⸻denga penuh rasa optimis, berorientasi peluang, kesadaran akan hikmah positif dan bahkan ibrah dari setiap peristiwa yang ada.

Minimal dari tiga basis tersebut yang menjadi akar pemikiran dan pergerakan IPM sehingga bagi dirinya Pandemi Covid19 bukanlah sebuah problem, melainkan sebagai sebuah peluang dan momentum mewujudkan sesuatu yang spektakuler (saya rasa Muktmar Online ini adalah yang pertama di Indonesia dan bahkan dunia). Selain daripada itu mampu menjadi teladan peradaban, begitupun untuk merancang ulang masa depannya. Maka tepatlah tema tersebut.

Meminjam perspektif yang terkandung dalam tema muktamar, begitupun merujuk pada Appreciative Inquiry (yang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai sebuah teori tetapi sebagai sebuah paradigma), saya pribadi, jika adik-adik pimpinan IPM Kab. Bantaeng berkonsultasi tentang tema kegiatan, maka saya seringkali menawarkan sebuah tema yang masih ada juga orang memandang sangat “melangit”. Bahkan dipandang negatif dan ada juga “menyerang ruang private” saya menyematkan hal negatif hanya karena kebiasaan perumusan tema yang dipandangnya “negatif”.

Namun bagi saya yang sangat menyadari tentang “Beyond The Limit” dan “Reframe The Future”, begitupun Appreciative Inqiury⸻yang idealnya sebagai paradigma⸻akan senantiasa melakukan hal tersebut, perumusan tema yang masih dipandang “melangit” oleh segelintir orang. Karena pimpinan dan kader IPM idealnya sudah perlu dibingkai dan berani meninggal keterbatasan dirinya hari ini, demi menatap masa depannya. Minimal masa depannya, ketika dia telah menempuh jenjang pendidikan tinggi, maka mau tidak mau, sadar atau tidak akan senantiasa bergelut dengan diskursus pemikiran yang bisa dipandang “melangit” itu. Belum lagi jika saya hubungkan dengan teori habits, energi dan frekunesi, meskipun tidak untuk dibahas dalam konteks tulisan ini.

Hanya perlu disadari bahwa kemampuan untuk melakukan “Beyond The Limit” dan “Reframe The Future” syarat utamanya sebagaimana pernyataan Haedar Nashir yang telah saya sebutkan di atas, perlu ada perubahan “paradigma”. Kemudian jika berbasis pada pemahaman agama maka penting pula mengedepankan pendekatan yang dikenal dengan Bayani, Burhani dan Irfani.

Selain yang ditawarkan oleh Haedar Nashir, maka tidak kalah pentingnya tawaran paradigmatik dari Rhenald Kasali dalam buku karyanya, Change (2005: 113-173). Dan pandangan paradigmatik Rhenald Kasali ini pula yang sesungguhnya dikutip oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah dalam sambutannya pada Pembukaan Muktamar XXII IPM. Ada tiga hal penting yaitu: to see, to move, dan to finish. Ketua IPM menyampaikan⸻yang saya ikuti dalam pembukaan secara online tersebut⸻bisa dipahami bahwa tema tersebut akan gagal dilakukan jika kita melakukan tiga kegagalan: failure to see, failure to move, dan failure to finish.

Dalam upaya melakukan “Reframe The Future” maka salah satu modal modal utama yang harus dimiliki adalah to see.  To see (melihat) bukanlah melihat secara kasat mata, atau melihat dengan mata kepala, tetapi melihat yang dimaksudkan di sini adalah melihat dengan “alam mental”. Dan bagian saya termasuk melihat secara filosofis dan paradigmatik. Tidak hanya sampai to see, tetapi termasuk harus ada to move dan wajib to finish.

Tiga penentu gagal tidaknya sebuah rancangan masa depan dari Rhenald di atas relevan dengan konsep 5 Keberanian yang harus dimiliki dari perspektif dari Kyai Kondang Aa Gym yaitu: Pertama, berani bercita-cita; Kedua, berani memulai; Ketiga, berani berproses; Keempat, berani berkorban; dan kelima, berani mengevaluasi. Keberanian pertama relevan dengan to see. Keberanian kedua, ketiga dan keempat relevan dengan to move. Dan keberanian kelima relevan dengan to finish.

Tulisan ini hanya sepercik dari samudera perspektif dari tema muktamar tersebut, yang saya selaku yang telah lahir dari “rahim ideologis” IPM, pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Perkaderan Pimpinan Daerah Ikatan Remaja Muhammadiyah (PD. IRM) Kabupaten Bantaeng periode 2002-2004 dan selaku Sekretaris Umum PD. IRM Bantaeng periode 2004-2006 bermaksud mengirmkan oleh-oleh dari Bantaeng untuk Muktamar XXII IPM.

*Agusliadi Massere adalah Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Kab. Bantaeng yang sekarang menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023.