Cara Asyik Membaca ala Kartini

Kartini (Foto: Wikipedia)
R. A. Kartini (Foto: Wikipedia)

Oleh: Ahmad Husain *)

Tahukah engkau semboyanku? AKU MAU! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata “Aku tiada dapat!” melenyapkan rasa berani. Kalimat “Aku mau!” membuat kita mudah mendaki puncak gunung” (R.A. Kartini)

KHITTAH.co, Kita mengenal Kartini sebagai tokoh yang memberikan perhatian terhadap posisi marginal perempuan diantara hak-hak kaum lelaki. Berbicara tentang Kartini pasti akan bersinggungan dengan emansipasi. Padahal ada makna praksis dalam kisah kehidupan Kartini yang patut menjadi pelajaran bagi kita untuk mencapai kesuksesan.

Membaca dan menulis. Itulah dua praksis yang dilakukan Kartini, sebuah pertunjukan bahwa perempuan bisa berdampingan dengan kaum lelaki. Lalu, bagaimana ia  membaca?

  1. Dimulai dari “Aku Mau”.

Menurut Kartini, adanya keinginan dalam diri membuat sesuatu yang dijalani akan lebih mudah. Ungkapan: ‘Aku Mau’ menjadi semboyannya. Mungkin semboyan itulah yang membuatnya terus berusaha untuk menjadi ‘wanita berkemajuan’ di zaman dimana hak perempuan dimarginalkan oleh adat.

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”
― Mohammad Hatta

  1. Baca apa saja

Tidak salah ungkapan: Buku adalah jendela dunia.

Kartini membaca banyak hal, budaya, agama, sastra, keperempuanan, dan sebagainya. Ayahnya memberikan buku-buku yang berbahasa Belanda, Jerman dan Perancis, sehingga tak mengherankan bila pengetahuan Kartini mengenai bangsa Eropa begitu luas dan dalam. Kartini menimba ilmu tidak hanya dari negeri Barat saja, ia memperkaya pengetahuan dari negeri timur juga, ia banyak belajar dari bangsa Koja dan Tionghoa.

Selain itu, Kartini juga banyak membaca surat kabar yang beredar di Semarang kala itu, bahkan menerima Leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang isinya cukup berat. Ia juga membaca majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Bahkan beberapa tulisannya pada majalah tersebut.

  1. Jangan takut istilah ilmiah & kalimat rumit

Membaca bagi sebagian orang mungkin menjadi sesuatu yang menakutkan, membaca adalah kerjaan yang melangit dimana hanya orang tertentu saja yang perlu melakukannya, yakni mereka yang mumpuni. Dua hal yang paling menakutkan dalam membaca adalah istilah ilmiah yang berat dan kalimat yang rumit.

Kartini pun kesulitan akan dua hal itu. Kendati dirinya fasih berbahasa Belanda, bukan berarti ia bisa mengerti istilah-istilah ilmiah yang kerapkali ditemukan dalam bacaan. Lalu apa yang dilakukan oleh Kartini? Ia mencatatnya lalu menunggu dengan sabar hingga kakaknya libur dari sekolah dan pulang ke rumah. Kartini akan menanyakan istilah ilmiah itu kepada kakaknya.

Selain istilah ilmiah, ia kerap mendapatkan kalimat-kalimat atau penjelasan yang sulit ia pahami apa maksudnya. Tapi baginya itu bukan masalah. Semua bacaan ia lahap; buku, surat kabar, majalah, semua tak ada yang terlewatkan. Ia hanya perlu bersabar sedikit karena Kartini yakin bahwa ia dapat memahaminya kelak, mungkin pada bahan bacaan lainnya.

Tak penting baginya untuk bisa langsung mengerti apa yang dibacanya. Ia hanya perlu yakin bahwa suatu saat ia akan memahaminya ketika silang informasi antar buku atau sumber informasi lainnya sudah bisa saling terhubung.

Dalam otak, terdapat sistem yang digambarkan seperti kamar-kamar, dimana kamar tersebut berisikan berbagai informasi yang telah diurai menjadi berbagai kategori dan ditempatkan pada kamar-kamar memori tersebut. Otak bekerja menghubung-hubungkan informasi dari berbagai kamar untuk membentuk satu alur pemahaman.

Nah, jika informasi dalam kamar memori masih sedikit, maka akan sulit memahami sesuatu. Kartini menyadari hal ini, sehingga ia bersikap buas dengan membaca apa saja, paham atau tidak, itu urusan selanjutnya. Ia tak perlu takut untuk tidak paham, membaca tidak perlu membuatnya paham pada saat itu juga.

Jadi membacalah! Jangan takut!

  1. Bertanya/Berdiskusi

Membaca bukan berarti harus sibuk sendiri. Membaca perlu diselingi dengan aktifitas pendukung lainnya seperti bertanya atau berdiskusi. Bertanya berfungsi untuk mengkonfirmasi suatu ide, meminta pendapat atau pandangan mengenai suatu pokok pikiran, atau bahkan meminta penjelasan atas kalimat yang sulit dimengerti.

Kartini beruntung punya kakak yang cerdas, namanya Raden Mas Panji Sosrokartono. Kakaknya inilah yang punya jasa menyuplai berbagai bacaan, baik buku, maupun majalah, bahkan menjadi tempatnya mengadu ketika menemukan istilah atau penjelasan yang rumit.

Kartini tidak semata-mata bertanya buta, ia menuntut kakanya untuk berdiskusi, bertukar fikiran. Inilah asiknya membaca, sekalipun kita membaca materi bacaan yang sama, kadang pemahaman atas bacaan itu jadi berbeda, tergantung siapa yang membacanya.

Tanpa disadari, bertanya/berdiskusi memupuk mental berani berpendapat, berani berpikir beda dan berani menunjukkan diri kepada orang lain. Membaca bukan racun yang membuat kita antisosial. Malah, membaca membuat kita lebih mudah bergaul, tentu dengan lebih rendah hati dan tetap penuh semangat.

“Untuk bisa membaca banyak buku, diperlukan dua hal dimana uang dan waktu tidak termasuk diantaranya. Dua hal tersebut adalah gairah dan kerendahan hati bahwa kita banyak tak tahu.”

― Helvy Tiana Rosa

  1. Menulislah

Menulis mungkin cara Kartini melepaskan dirinya dari kungkungan budaya yang mengesampingkan kehadiran perempuan.

Pada usia 16 tahun, Kartini sudah menulis sebuah esai dalam bahasa Belanda. Tulisannya adalah tentang “Upacara Perkawinan pada Suku Koja.” Kemudian sekitar tiga tahun berikutnya, tulisannya tentang seni Jepara dalam bahasa Belanda juga diterbitkan di Bijdrage Voor Taal, land en Volkenkunde, sebuah jurnal ilmiah sangat bergengsi di Belanda.

Karena kefasihan Kartini berbahasa, dan pengetahuannya yang luas berkat banyak membaca, Kartini menulis banyak surat kepada sahabat-sahabatnya di banyak tempat. Kumpulan surat-suratnya itu (1879-1904) lantas diterbitkan menjadi sebuah buku pada tahun 1911 yang berjudul, “Door Duisternis tot Licht” (Habis gelap Terbitlah Terang).

Bayangkan kawan, Kartini (si perempuan zaman dahulu) bisa membuat karya yang luar biasa. Ia resah akan fikirannya, lalu ia menulis, berkorespondensi dan ia menjadi salah satu tokoh perempuan inspiratif tanpa harus turun berperang, layaknya ‘lelaki’ zaman dulu.

 Akhirnya kartini bilang begini:

Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya”.

Menulis adalah bentuk ril sebuah perlawanan: Melawan lupa!

 

*) Ahmad Husain adalah Petani yang mencintai buku dan kerap menulis di blog orangbiasaji.net