Dari Manusia Sebagai Spesies ke Manusia sebagai Tubuh

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) Anggota Masyarakat Post-Filsafat/ Aktivis Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

KHITTAH.CO– Pada saat lain, kita mungkin dapat membayangkan, andaikata tidak ada kata-kata dan dengannya kita juga tidak mampu berbicara melalui bahasa yang dirangkai dengan kata-kata. Dalam bahasa, manusia diciptakan dan dikenal sepanjang mereka menggunakan pengetahuan dengan kata-kata sebagai tanda-tanda tertulis mengenai ciri-ciri proses kelahiran, kesuburan, kematian, kesakitan, dan produksi. Demikianlah pada awal keserbaragaman tanda atau bahasa manusia dengan hasrat mereka untuk makan mengarah pada titik pembalikan waktu rasa lapar. Karena bahasa menerima ketidakhadiran eksistensi tunggal spesies sebagai tanda-tanda yang dapat diubah menjadi subyek yang berbicara lebih banyak suara, isyarat dan tindakan. Rasa lapar bukanlah isyarat pergerakan inderawi belaka, tetapi suara peristiwa tubuh yang menghasilkan banyak spesies untuk bertindak. 

Suara dalam diri manusia dan dalam pergulatan kehidupan sebelum kematian menjemputnya menjadi kata-kata yang tepat digunakan hanya ketika ia tidak dapat dipisahkan dengan ungkapan yang silih berganti memasuki relasi bahasa yang bersuku kata diantara tatanan sebuah proposisi. Menyangkut rasa lapar atau kenyang tidak termasuk proposisi, melainkan tanda-tanda kehidupan ditata dengan kata-kata. “Aku berpikir bahwa Anda lapar hari ini”, “Aku berharap bahwa Anda kenyang malam ini” tidak hanya menunjukkan sebuah proposisi dan pernyataan faktual, tetapi juga sebuah ‘mesin permukaan’, yaitu ketidakjarakan relasi antara kesahihan tatanan proposisi dan hipotesis tata bahasa umum. Jelaslah, kata-kata ‘berpikir’ dan ‘berharap’ disebut kata kerja proposisional. Kata-kata ‘lapar’ dan ‘kenyang’ tanpa tiruan atau parodi merupakan kata ajektiva yang masing-masing mengarah pada kesamaan kata kerja.  Sudah tentu, kata ‘lapar’ mengalami perbedaan tanda atau ketegangan makna, jika ditata dalam kata-kata menjadi sebuah kalimat: “Orang-orang dilanda busung lapar di suatu negeri”, “Mereka tahan lapar di saat musim kemarau berkepanjangan”, “Ayah pergi ke pabrik menahan lapar karena belum makan” atau “Anak-anak tidur nyenyak setelah makan kenyang”. Bahasa atau tulisan alfabetik merupakan kata-kata yang ditemukan dalam proposisi yang akhirnya keluar dari suatu ungkapan lateral mengenai rasa lapar atau kenyang. “Anda sedang lapar”, “Aku telah makan” dan “Anda kenyang”. Di sini, kata kerja, kata ajektiva dan kata keterangan merupakan kesatuan bahasa yang membentuk sebuah kalimat atau proposisi, yang kata-kata tersimpan dan ditemukan begitu nyata berada dalam diri mereka sekaligus di luar dirinya.

Jika seseorang berasal dari keluarga terpelajar yang mampu menulis dan menghitung dan di tempat lain ada orang-orang sebagai warganet berbicara dan mengenal kesenangan diri mereka untuk mengungkapkannya melalui layar virtual, diletakkan huruf-huruf atau angka-angka sudah cukup disentuh dengan jari jemari. Aktivitas menulis atau mengeja kata-kata melalui tangan dan lidah atau mulut (tanda-tanda huruf vokal atau konsonan) dari tubuh (paling tidak menggunakan kata kerja). Meskipun ia bukanlah satu-satunya kekuatan, tetapi penampakan seluruh tindakan dimungkinkan mengarah pada tubuh sebagai bagian dari wujud kehidupan.

Semuanya itu, karena kata-kata atau huruf-huruf telah mengalami perubahan teknik betul-betul mencengangkan. Bagi sebagian dari kita, ia semata-mata tanda efektivitas dalam kehidupan di antara benda-benda merupakan bagian dari susunan bahasa yang dihubungkan dengan tubuh, pemikiran dan kehidupannya.

Susunan bahasa dan benda-benda yang dipelajari manusia lebih mengarahkan dirinya pada kata-kata yang jelas, yaitu mengenai kata-kata yang dirahi, dimuati dan dihasilkan dari dirinya. Manusia mampu berbicara dan menuliskan kata ‘makan’ tatkala dihubungkan dengan sepiring ‘nasi’ yang tersaji di atas meja merupakan ungkapan nyata diantara benda padat yang mengarah pada kata-kata ‘lapar’ dan mengenai keinginannya untuk ‘kenyang’ atau menumpas ‘rasa lapar’. Secara khusus, melalui kata-kata menandai apa yang mereka tulis dan bicarakan menjadi suatu proses pembentukan kemiripan melalui imajinasi. Kemiripan seseorang saat lapar dan kenyang dengan orang lain dan diantara makhluk hidup diletakkan pada sisi timbal-balik imajinasi.

Pergerakan bahasa disusun dari kata-kata, yang digabungkan dengan analogi manusia, dalam  kemiripan yang tidak terpisahkan pada permukaan alam semesta: aliran pembuluh venanya tetap mengalir seperti sungai yang panjang, tulangnya adalah bebatuan, dagingnya laksana lahan yang subur, dan tambang mineral atau logam yang tersembunyi di tambang-tambang diserupai ketujuh organ utama. Rangkaian kata-kata hikmah dalam pemikiran klasik, bahwa ‘manusia adalah suatu miniatur alam semesta’. Tepatlah, kiranya manusia dan tubuhnya masih memungkinkan menjadi sebagian dari atlas atau bola dunia mengikuti jejak-jejak mereka sendiri di alam semesta. Mereka mencoba mempelajari dengan banyaknya perbandingan anatomi yang tidak sesuai lagi apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan dari sekian abad sebelumnya. Manusia yang memulai untuk menggambarkan dirinya dari seluruh arah dalam kemiripan; kembali mengambil tempat, dimana dia berubah dan berpindah diantara benda-benda dan bayangannya. Dari manusialah diletakkan harapan besar padanya dan relasi-relasinya dengan alam sekitarnya dapat terbangun suatu energi kreatif yang dimilikinya. Manusia dengan kekuatan bahasa menghentikan duka cita menjadi suka cita, seperti perjalanan fajar terbit di timur dan tenggelam di barat dan silih bergantinya siang dan malam. Manusialah satu-satunya memiliki kekuatan mimpi, fantasi dan imajinasi yang ditopang oleh teknologi melebihi burung yang terbang dan membuat sarangnya atau rumahnya. Manusia dapat membangun gedung pencakar langit, terbang, bertamasya ke luar angkasa, menjelajah dan menginjakkan kakinya di atas planet lain. Manusia sering menantang takdir melalui daya kreatif; burung hanya tunduk pada hukum alam, dari sejak diciptakan hingga kematiannya, sarangnya atau rumahnya terbuat dari bahan yang sama, bentuk dan ukuran juga demikian. Tetapi, manusia dapat memperlihatkan amarahnya, yang membawa mereka pada ancaman permusuhan, membuat mereka menjadi pembunuh hanya karena perkara perut atau rasa cemburu antara satu sama lain; saling benci dengan lainnya akan diganti dengan rasa simpati sebagaimana udara panas adalah lembab dan diakhiri dengan air, terjalin harmoni tatkala air ditempatkan antara bumi dan udara. Tiba-tiba langit kembali cerah, amarah pun lenyap menjadi tersenyum simpul dan orang-orang yang terlibat didalamnya kembali menemukan harapannya.

Kemiripan senantisa didukung oleh analogi, dijaga dan dilipatgandakan pada alam semesta. Sesuatu yang alamiah akan tetap alamiah, yang memberikan sisi kemiripan diantara benda-benda dalam kehidupan, yang menghilangkan campur baur pada materi. Sifat dasar seseorang mampu mengubah kondisi sekaligus menghancurkan tatanan wujud; kata-kata dan benda-benda menjadi titik keseimbangan alam yang dianugerahkan pada kekuatan manusia untuk menciptakan sesuatu menuju harapan-harapan yang didambakannya. Menciptakan berarti mengetahui melalui proses seseorang untuk berbicara, menyusun kata-kata dalam suatu bahasa yang telah diverifikasi atau diuji dalam hubungannya dengan proposisi dan diantara benda-benda. 

Melalui pengetahuan, manusia mengenal benda-benda dan kemiripan dengannya dalam jenis kata tertentu. Seseorang mampu berbicara berarti untuk mengetahui tentang sebagian kebutuhan pangan yang bernilai gizi atau vitamin yang berguna bagi kesehatan. Seseorang mengetahui kata-kata atau tanda-tanda pada anggota tubuhnya, pada raut wajahnya yang berseri memiripi lintasan permukaan bulan di malam hari. Mereka bangun dari tidurnya dalam keadaan segar bugar di pagi hari. Mereka menggunakan menggunakan bahasa yang dimulai dari ungkapan atau beralih pada bentuk proposisi. Seseorang percaya bahwa mereka bekerja ditandai dengan kucuran keringat di pabrik hari ini. Banyak orang berpikir bahwa mereka tidak mampu menahan rasa haru bercampur gembira di saat makan bersama di malam hari. Katakanlah, kita mengarahkan pengetahuan untuk berbicara pada proposisi, yang menghubungkannya secara timbal-balik antara subyek dan obyek menjadi bahsa ungkapan. Kucuran keringat adalah ungkapan suatu mode kehidupan, rasa haru dan gembira adalah ungkapan dari ekses atau hasil kekuatan bersama sebagai esensi bahasa dan masih terhubung dalam unsur proposisi, meliputi subyek, predikat dan penggabungannya. Dalam bentuknya paling umum, mengetahui berarti berbicara menurut proposisi. Ia menjadi bagian dari representasi yang serempak, yang menggabungkan unsur-unsurnya setelah dibangun antara satu dengan lainnya, yang berfungsi untuk mengisi kekosongan kata-kata yang terhubungkan antara tubuh, pemikiran dan imajinasinya. ‘Mereka bekerja dengan kucuran keringat di pabrik hari ini’ merupakan bahasa partikular. Berbicara pada dirinya sendiri, berbicara untuk mengetahui proses kelahiran, pertumbuhan, masa kejayaan, dan kemunduran suatu kehidupan manusia yang ditulis melalui kata-kata. Dalam kata-kata yang diketahui atau dipikirkan tanpa meninggalkan apa yang mereka bicarakan. Menulis tentang benda-benda yang kosong dari pikiran dan ide tidak lebih di atas nilainya dibandingkan kata-kata yang telah mengisi dan saling menggabungkan antara rantai pembicaraan dan benda-benda yang didistribusikan dalam pengetahuan yang belum sempurna.

Bahasa ditengahi dan disatukan melalui tulisan atau lisan yang tidak lain dari pengetahuan sekaligus keluar dari tanda representasi yang terbentuk sebelumnya. Mereka meyakini proposisi dihasilkan oleh pemikiran dan dimungkinkan ia dibentuk oleh tubuh yang berlipat ganda, dimana bahasa itu muncul. Tatanan wujud ditandai dengan kata-kata yang lentur penggunaannya. Tanda atau bahasa dengan seluruh kekuatan dimungkinkan dapat diperbarui sejauh perkembangan kata-kata melebihi kosa katanya dalam perbendaharaan alamiah. Begitulah manusia, bahasa sebagai mode pengetahuan akan memungkinkan suatu penempatan proposisi seiring dengan bahasa yang diperbarui. Proposisi sebagai esensi tata bahasa akan menghilang dalam pemikiran baru tentang ‘pembacaan senyap’, yaitu relasi antara suara-pikiran tulisan dan kata silih berganti kata muncul secara terorganisir yang menghubungkannya secara timbal-balik dengan apa yang dimaksud oleh tubuh melalui permukaannya jejak, bekas dan tandanya sendiri. Pembacaan senyap atas tatanan kehidupan yang kompleks dan dinamis bukan berarti keadaan mulut atau bibir dan matanya diam dan tanpa berisik. Seseorang berbicara sejalan pengetahuan tentang relasi antara individu sebagai subyek dan predikat dari sebuah proposisi muncul dalam ingatan. Bahasa manusia adalah ingatan itu sendiri bersama jejak-jejaknya. Jika sekiranya, spesies manusia telah punah dan bahasa masih tetap memberikan kita kosa kata baru dan spesies baru yang jejak-jejak atau kenangannya masih ada untuk dijadikan sebagai prasasti peristiwa masa lalu. Spesies baru muncul dari kata-kata baru yang radikal. Dalam ruang gelap yang kita raba-raba, kita masih berbicara dengan kata-kata yang berlawanan; ruang gelap diperbarui dengan ruang terang, jadilah nafsu gelap diganti oleh pikiran yang tidak tertidur lelap di siang hari. Manusia berusaha untuk menemukan apa yang terpikirkan, karena dia belum berpikir sebelumnya; ia bukan kata-kata untuk menggambarkan ruang kosong dari pikiran yang tertidur dan bukan pula menggunakan bahasa universal tentang kebenaran.

Bahasa universal tidak lain adalah bahasa dari kepalsuan dari apa yang kita ketahui maupun samar-samar wujudnya. Ketidakanehan memenuhi permukaan, jika seseorang tidak memaksakan dirinya untuk mengenal lebih jauh tentang keremeh-temehan wujud penampakan, menuliskannya dan menyusunnya kembali kata-kata yang tidak dipikirkan. Sebuah kurva pertumbuhan stagnan menandakan kemerosotan tatanan wujud dari cara berpikir, yang jelas diperhadapkan dengan sisi kehidupan sehari-hari, dari tanda-tanda yang berbalik arah pada kemunduran ilmu pengetahuan tentan spesies masa depan. Tanda perubahan atas kehidupan ke arah masa depan yang diimpikan bersama bukanlah ia dimiripkan pada perubahan mendasar sebuah permukaan tubuh, melainkan mimpi yang dimiripkan dengan kegilaan. Perubahan mendasar yang akan digerakkan oleh orang- orang atau kelompok orang sebagai suatu rentetan peristiwa partikular yang dihubungkan dengan proposisi. Mimpi dan harapan masa depan yang pada akhirnya tidak diubah oleh gembong besar atau pentolan yang berpengaruh dalam cabang ilmu pengetahuan. Rentetan peristiwa partikular dari mereka sebagai barisan kuat seperti kata-kata yang jelas atau kalimat deklaratif dengan cara pandang baru utopis seiring pengetahuan dan bahasa dari setiap masa; ia diterima untuk saling memperbarui antara satu dengan lainnya sekaligus saling melahirkan bahasa dan kegilaan paling bergairah. Bahasa klasik dari spesies yang satu saling menyerap dan saling memperkaya nuanasa kosa kata dengan bahasa modern dari spesies lainnya. Mungkin bahasa ibu pelan-pelan mulai ada pertukaran semu dari bahasa serapan atau asing, jika tidak dikatakan tanda-tanda ketidakhadiran darimana ia pertama kali muncul, antar wilayah dan antar bangsa. Bahasa kuno diperbarui dalam kemungkinan melalui pemikiran yang dimulai dari bahasa serapan, tempat manusia menemukan dan mencari kembali apa yang mereka lupa dari yang pernah diucapkannya.

Spesies manusia memiliki bahasa, mencakup kata-kata atau huruf-huruf yang saling berlalu atau dipinjam dan meminjamkan antara bahasa bangsa yang satu dengan lainnya. Pergerakan dan saling berinteraksinya bahasa dengan kata-kata yang membentuknya masih mempertahankan tata bahasa umum yang bertujuan untuk membatasi sistem perbedaan dan identitas. Tubuh individual dan sosial dikuatkan dan dijalankan secara terbuka menurut penggolongan kata-kata atau bahasa yang memungkinkan terbentuk wilayah diskursus. Misalnya, diskursus kependudukan, kelahiran dan kematian, kebahagian dengan indeksnya atau diskursus kemiskinan beserta jenis, indikator, tingkat atau persentasenya memiliki keterkaitan relasi antara tatanan kata-kata, tubuh dan kuasa. Agar manusia tidak terjatuh dalam sensasi kelaparan, maka tanda kuasa dengan komitmen yang tinggi perlu meningkatkan kualitas kesejahteraan sosial ditandai lebih nyata dalam penampakan antara kata-kata dan tindakan. Sebagai suatu tanda, bahasa yang dimiliki manusia dikembangkan melalui pertukaran, dalam perdagangan, dalam interaksi kelompok melek dan buta huruf, fesyen, pariwisata, keuangan, peperangan, dan seluruh aktivitas kehidupan. Lebih jauh lagi, bagaimana mengekang nafsu berlebihan atau mendietkan kesenangan untuk memenuhi kebutuhan melebihi produk melalui pendisiplinan orang-orang atas tubuhnya dan atas kuasanya sendiri. Dalam tanda-tanda baca yang luput dari pembentukaannya, justeru mereka mendengar suara perih dari orang-orang yang tidak berdaya dihadapan bujuk rayu ekonomi, karena pemenuhan filosofis, biologis dan bahasa dilepaskan keluar oleh mereka sebagai spesies menuju suatu perikehidupan bersama, berkembang dan mempertahankan hidup. Jam-jam yang tersisa digunakan oleh seseorang untuk bekerja tanpa menafikan subyek dan predikat akan dikembalikan dalam proposisi sebagai bagian dari bahasa. Ketidakhadiran perbatasan bahasa bukan lagi pada titik dimana kata kerja pertama kali muncul, melainkan pada kata kerja terakhir dalam proposisi lahir, direkam dan diikuti jejak-jejaknya, dalam ingatan melalui kata-kata atau huruf demi huruf yang dipadatkan melalui tulisan dan berlangsung secara alami dalam kehidupan.

Apa yang harus kita pikirkan atau lakukan, tatkala sama sekali tidak ada tatanan kehidupan yang langgeng, kecuali diselingi kelicikan dibalik kata-kata yang membujuk rayu ditengah tema pembicaraan tentang manusia. Begitulah rentetan tipu muslihat yang tersembunyi dalam kondisi eksistensi yang luput dari pikiran. Sehingga menjadi satu alasan mengapa esensi di setiap kata, dari seseorang yang berada dalam pergerakan kata kerja membuatnya menyusul pula kehadiran kata ajektiva, yang dikaburkan oleh eksistensi mereka yang rawan, muncul dan lenyap mengikuti angin. Ungkapan klasik, bahwa ‘kemana angin bertiup di sana pulalah dia muncul dan lenyap’. Manusia dan kecenderungan eksistensinya yang diragukan akan dihidupkan kembali melalui kata demi kata esensial, yang dihubungkan dirinya dengan bahasa yang hampir tidak dapat dimengerti karakter-karakternya. Kata-kata dalam tindakan pengetahuan lebih tinggi dibandingkan dengan tatanan organik jika fungsinya menghilang dalam kekuatan mimpi dan harapan manusia. 

Berkat mimpi dan harapan, manusia melihat tanda-tandanya sendiri tidak lebih kurang dari kemampuan berselang-selingnya duka cita dan suka cita, keadaan lapar berganti dengan keadaan kenyang dan begitulah seterusnya. Kemampuan berselang-seling peristiwa orgastik diatasi oleh kekuatan dan kecenderunagnnya yang mampu melintasi batas-batas tanda, dari yang diinginkan tanpa pikiran dan tindakan yang senonoh. Manusia adalah nama sekaligus basa-basi pengetahuan yang memungkinkan untuk memahami apa itu nafsu, kebutaan dan kesuksesan. Karena dia ditata secara kreatif, manusia akhirnya melebihi dari sekedar nama, bahkan mereka pun berjuang demi sebuah ketidakhadiran nama (anonimitas dari nafsu ‘berkuasa’); bukan subyek (kesadaran) yang tidak memiliki tubuh, tetapi ketidakhadiran subyek. Sementara itu, pemenuhan hasrat atas obyek dalam ketidakhadiran fungsi kata kerja akan bertentangan dengan dirinya sendiri (mengkonsumsi ilusi, dimana x = obyek sebagai nilai dari produk yang dikonsumsi. Nilai termaterialisasi yang membuat kita terjatuh dalam kehampaan). Dalam diri spesies manusia yang dilekatkan padanya tanda-tanda tanpa nama perjuangan untuk eksistensi diantara kata-kata dan benda-benda; mereka tidak lebih dari spesies yang lebih rendah dalam penampakan wujud alami.

Tatanan wujud diletakkan oleh tubuh baru tidak berasal dari tubuh virtual yang dialamiakan, melainkan tubuh yang berlipat ganda kekuatannya akibat relasi bolak-balik antara seluruh energi yang tersembunyi (hasrat, mimpi, fantasi, imajinasi, dan pikiran) dan kehidupan. Masing-masing nama dilekatkan pada tatanan wujud: organik dan non organik, tetapi nama bagi manusia yang disusun sebagian dan keseluruhan dari kata-kata yang menandakan cara atau respon terhadap sisi pengetahuan tentang nafsu, kebutaan dan kesuksesan. Pengetahuan berarti itu pula pemahaman, demikian pula sebaliknya. Kata lain, spesies manusia bukanlah apa-apa tanpa tubuh dan seluruh energi yang tersembunyi, yang memberikan kenampakan dalam dunia atau menyediakan relasi kemiripan dan kekuatan yang berbeda untuk melihat, berbicara dan menaklukkan alam atau dia menaklukkan bahasanya. Kesenangan sebagai bagian dari energi hasrat untuk mengetahui seiring dengan kesenangan terhadap huruf, bahasa atau buku. Kata-kata yang ditemukan dalam proposisi yang jumlahnya lebih besar; relasi bolak-balik dari apa yang ditandai oleh mimpi dan harapan, pikiran dan hasrat melalui tubuh. Kekuatan tubuh akan membangkitkan kembali suatu rangkaian kata-kata yang tidak mampu diucapkan seseorang. Pikiran, hasrat, indera, dan tubuh tidak saling mereduksi dan menghilangkan antara satu dengan lainnya. Merekalah membuat kita terjaga dan tertidur karena terjalin relasi bolak-balik tanpa kekuatan tunggal atau tanpa pusat gravitasi dari salah satunya. Kekuatan dan kecenderungan yang berbeda dan berlapis-lapis akibat relasi bolak-balik dari tubuh. Jika terjadi kekuatan dan kecenderungan tunggal dari salah satu energi manusia yang tersembunyi, berarti kekosongan energi dari salah satu atau beberapa, karena terdapat celah dari yang lain yang ditandai oleh tubuh sebagai penyebab bagi dirinya sendiri.

Tubuh tidak pernah ditemui secara inderawi di dunia materi, melainkan dalam fantasi, hasrat dan pikiran dengan cara menjalin relasi bolak-balik antara kata-kata dan benda-benda. Tubuh ada dari ketidakhadiran materi; tubuh bukanlah susunan kata-kata benda. Dapat lebih jelas dikatakan, bahwa tubuh adalah bahasa itu sendiri, yang dipinjamkan dalam relasi bolak-balik dengan hasrat, mimpi, fantasi, imajinasi, dan pikiran. Tubuh menunjukkan cara, yang tergabung dalam kata-kata (kata kerja, kata ganti dan sebagainya) yang berbeda-beda artikulasi, tetapi tetap ditandai bukan merupakan bagian dari kata-kata benda.

Dalam relasi bolak-balik yang menandakan kesatuan antara tubuh dan suara dari mulut atau lidah dan tindakan yang diuji kekuatan dampaknya dalam pengetahuan. Karena ia digambarkan, dilukiskan atau diucapkan, maka tubuh menandakan seluruh bahasa atau kata-kata.

Jenis kata-kata yang digunakan akan dipengaruhi oleh tubuh melalui cara pengucapan huruf-huruf vokal dan konsonan yang bersuara dalam rongga mulut. Kata kerja, kata benda dan lainnya datang dari tubuh yang terjalin relasi bolak-balik dengan pikiran, fantasi, hasrat, dan imajinasi. Sekali lagi, dalam eksistensi yang muncul dan lenyap, manusia tidak memiliki apa-apa, jika dia bergantung semata-mata pada apa yang diinginkan atau pada dirinya sendiri. Seseorang berbicara dengan susunan kalimat atau bahasa yang masuk akal, yang diartikulasikan secara logis, tetapi susunan karakter-karakter lebih mirip makhluk hidup yang berkaki empat. Ingatan manusia pun akan menghilang dalam jejak-jejak yang dibentuknya dan dalam namanya.

Paradoks dapat ditemui dalam relasi organik dengan kemiripan fungsi secara umum manusia yang terbukti bukanlah satu-satunya spesies yang memiliki sistem pernafasan, pencernaan atau reproduksi. Lain halnya, jika kita menguji pemikiran tentang cara produksi, dimana individu dan kelompok usaha mencari dengan siapa dijadikan mitra dalam menyediakan alat-alat atau sarana yang dibutuhkan. Bagaimana manusia dalam wujudnya dapat dihubungkan dengan benda-benda yang memungkinkan dapat memengaruhi mode kehidupannya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Kecenderungan manusia untuk memenuhi kebutuhannya bertambah meningkat yang pada saat yang sama menandakan ketidakpuasan dari apa yang dirahinya. Tanda kualitas dimiripi oleh seseorang sesuai taraf simbolik dengan relasi kemiripan: putih dan adil, hitam dan serakah. Tidak ada permainan artikulasi bahasa dan representasi gambar spesies dari keseluruhan spesies yang diketahui. Sebaliknya, relasi kemiripan dirinya sendiri tidak dipisahkan dengan tanda, dari tanda verbal digabungkan dan dikarakterisasi melalui tubuh yang menandakan spesies manusia, yang memungkinkan dapat dipertahankan dalam diskursus. Sehingga kata-kata apapun jenis dan artikulasinya menuju nama yang bukan sekedar nama spesies manusia.

Ada satu persamaan tanpa permainan artikulasi bahasa antara energi hasrat dan mode wujud adalah tatanan mekanis dalam bentuk yang paling sederhana sebuah mode kehidupan yang tidak direduksi, kecuali nama yang distel oleh subyek, kata kerja dan predikat menjadi kata-kata baru. Setiap tambahan celah nama untuk menghindari nama lain yang kosong dari makna akan ditutupi oleh konstruksi mekanis melalui jalinan relasi bolak-balik antara tubuh dan kekuatan dari energi yang tersembunyi. Saat seseorang ‘bereproduksi’ dan ‘berhura-hura’, itu karena manusia sedang menyempurnakan pemikirannya tentang nafsu dan keingintahuan dengan cara yang berbeda; dari bahasa yang juga menyempurnakan dirinya sendiri melalui mekanisme tubuh, yang terjalin relasi bolak-balik antara kata-kata dan kesenangan melebihi nama individual. Secara tidak pelan-pelan, dia bersama namanya dihubungkan dengan tubuh akan keluar dari tempatnya semula akibat kata berubah menjadi kata yang lain dengan jenisnya berbeda-beda.

Pada jalur tertentu, bahasa dan susunan logisnya dinamai tubuh, ia bukanlah suata kata yang diterima secara ulang-ulang. Seluruh benda yang disusun melalui relasi organik hanyalah tanda yang tertuju pada tubuh manusia. Dalam keadaan apapun, tubuh menunjukkan keterlibatan tanda yang dimainkan oleh sebatang hidung begitu jelas fungsi organiknya untuk mencium aroma yang mencurigakan, dibandingkan hanya sepasang masa berkedip-kedip, pikiran dan lamunan kosong. Hal ini, belum merupakan jejak-jejak baru. Dari hasil penggabungan analisis tentang reproduksi yang tidak tuntas dengan suara perih menjadi rantai ketidakhadiran tanda dan topeng kelahiran, kesuburan dan mulut. Tubuh dipahami pertama kali di saat menunjukkan tanda berlawanan dari suara perih, yang tidak direduksi oleh hidung karena berbeda fungsi dan tidak masuk akal, yang membuat bahasa ditarik kembali pada sesuatu yang bukan berasal dari mulut atau lidah lahiriah. Lebih dari itu, hidung, mulut atau lidah dan fungsi organiknya tidak dapat dihubungkan dengan kehadiran tubuh yang melebihi organ-organ gramatikal pernyataan tentang spesies. Dalam batas-batas relasi, tanda pengulangan menyerupai tanda lainnya, saat kemiripan berbeda dengan proses penggabungan. Sebagai suatu pembentukan mekanisme dan tanda, ‘suara perih’ bukanlah status aktual dari eksistensi manusia, melainkan kekuatan mimpi dan harapan akan menampakkan diri dalam keadaan terjaga. Dalam relasi bolak-balik, tubuh, suara perih dan suara-suara lainnya yang sama dan berbeda merupakan ‘strategi’ atau tanda yang sebagian terjadi dalam kehidupan. Suara yang pasti dan tersembunyi menuju suatu obyek pada sebuah tanda atau kata-kata seru. Jadi, ada sesuatu yang tidak lucu, manusia berada antara akar kata dan kosa kata baru dengan setiap organ pengucapannya melalui tubuh.

Perluasan tanda alami dari tubuh paling unik menciptakan jejak-jejak dan bekas adalah tidak lain sebatang hidung dan rasa lapar atau perut. Mereka melebihi struktur organ pencernaan yang melepaskan beban menumpuk di bagian dalam organ. Perhatian kita pada mulut atau lidah untuk menyebutkan kata-kata atau berbicara ditutupi celahnya oleh hidung sebagai pendukung utama fungsi penciuman, bukan fungsi secara relatif dari pernafasan, sekalipun ia bagian darinya. Suatu struktur organik dari hidung menrupakan unit fungsional paling penting untuk mencium, dimana sensasi penciumannya mampu mengukur tanda dan jenis yang tersimpan dalam ingatan. Tentang kekuatan hidung yang memiliki fungsi penciuman terletak pada ketiadaan manipulasi aroma. Sisi pengetahuan yang mengherankan, bahwa hidung sebagai bagian dari tubuh mampu menunjukkan tanda-tanda sedini mungkin berbagai aroma sedap atau, amis atau busuk, lumpur atau gas dalam perbedaan jenis dan kadar. Perbedaan tanpa konsep tentang aroma menghadapi tubuh pada setiap spesies. Begitu pula rasa lapar yang berhubungan dengan struktur organik, jika ia mencapai titik klimaksnya bukan lagi pancaran dari ‘suara perih’ dibalik ketidakhadiran mulut atau lidah untuk memenuhi pangan, melainkan ketidakmampuan kata-kata atau bahasa untuk mengungkapkannya secara panjang lebar hingga malam suntuk. Hidung atau rasa lapar memverifikasi dirinya sendiri, yang melebihi organnya tanpa tersembunyi dari tanda-tanda huruf vokal dan huruf konsonan.

Disamping alam menghamparkan perbedaan-perbedaan dan membatasi mereka menurut unit fungsionalnya dengan masing-masing kekuatan yang dimilikinya, ia menempatkan jalinan relasi bolak-balik tubuh dengan eneergi hasrat, fantasi, indera, dan imajinasi bersama penyatuan bahasa dan representasi pengetahuan (bahasa sebagai obyek ‘tubuh’). Tanda-tanda alam diantara benda-benda bukanlah permasalahan tentang persetujuan atau penolakan diantara manusia pada bahasa, melainkan bagaimana menyelesaikan dan mewujudkan seluruh kekuatan dan kecenderungannya di tengah batas-batas sifat alami. Di lain hal, alam materi yang ditundukkan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan, dari tumbuh-tumbuhan dan binatang yang dialiri air kehidupan, ruang kita untuk beranak pinak, bernyanyi, berbincang, bermimpi, dan bekerja, yang dihubungkannya pada keserasian alam. Masih tetap dikatakan, fungsi organik dari hidung dan perut tidak bisa berdusta sebagai bagian dari esensi hukum alam yang dianegerahi padanya. Pembagian fungsi organik ada mekanisme alami yang dirancang untuk mengestimasi dan meramalkan garis kehidupan melalui kerja pada tingkat tubuhnya dalam cara sangat berbeda.

Ada rahasia kata-kata bagi tubuh yang tidak dapat digerakkan oleh mulut atau bibir, tetapi melalui lidah yang mengeluarkan suata hingga kalimat diucapkan secara pelan-pelan. Kata-kata dari huruf demi huruf terangkai hanya gerakan lidah sebagai permainan khas tanpa bibir di atas kerongkongan. Mengontrol kata-kata atau huruf-huruf untuk diucapkan seiring dengan kontrol atas kehidupan agar seimbang dan teratur melalui tubuh. Pengontrolan kata-kata atau huruf-huruf atas apa yang sedang diucapkan memberikan ruang masing-masing bibir dan lidah sebagai organ yang tidak sekedar pertama kali pencernaan makanan diproses. Dalam sebuah urutan yang betul-betul teratur karena bersamaan bergerak atau bersentuhan diantara rangkaian huruf menuju kata-kata yang dipilihnya. Kehidupan dan bahasa dengan pemikiran menyertainya merupakan mata rantai, yang menunjukkan ketidakhadiran eksistensi yang tunggal (suatu rangkaian silih berganti: canda tawa dan sedih, lapar dan kenyang, berbicara dan diam). Kadangkala spesies manusia lahir sebagai ‘nama setengah hidup’ dari reproduksi ke kematian, dari kesuburan ke kesakitan. Mereka mennggambarkan wajah dengan bentuk mata, bibir, hidung, dan telinga yang menghimpunnya di ibu jari. Dari sini, diskursus adalah akhir dari nama dengan kata-kata yang telah mati lebih dulu.

Manusia bukanlah menggambarkan kesenangan dirinya sendiri sebagai tanda yang menyia-nyiakan dan menghabiskan waktunya dengan alasan untuk menjalani kehidupan yang indah dan luas apa adanya. Manusia bukan hanya terbatas dalam wujud alaminya dan memperpanjang usia produktif, melampaui batas-batas barang-barang kebutuhannya, melainkan juga seiring meluap-meluapnya nafsu amarah dan fantasi kosong yang banyak membuat dirnya tidak berarti apa-apa tanpa tubuh yang menyelimutinya. Untuk tidak lari dari wujud alami, seseorang melanggar garis-garis batas dari tempat yang terakhir dengan cara berusaha sekeras mungkin untuk merahi dan menghadirkan masa depannya. Manusia bukanlah seperti ‘ikan dalam air’, yang mampu bernafas di berbagai tempat sepanjang alam menyediakan keseimbangan baginya. Relasi bolak-balik alam dan manusialah yang menciptakan keseimbangan tanpa permainan kata. Titik keseimbangan dari tatanan wujud menyediakan peran strategis yang membawanya pada satu titik persinggahan, dari jarak yang tidak jauh padanya akan berhadap-hadapan dengan titik-titik yang lain. Peran strategis yang dimainkan oleh manusia untuk mengelola jalan hidupnya secara dinamis dan dia memasuki kembali pada sifat alaminya. Dalam kemampauannya, manusia mengenali daya kreatifnya untuk menengahi kerja keras yang menghasilkan lebih banyak dan bertambah banyak lagi. Bahkan dari hasil ketekunan bekerjanya tanpa disangka-sangka mendapatkan lebih dari kebutuhan sehari-hari tanpa nilai lebih sebagai dasar pemikirannya. Dari situlah tatanan wujud dari kehidupan dimulai kembali, dalam bahasa yang telah diperbarui dan dalam kerongkongan yang tidak parau lagi.

Sebagai akibat dari kerja kerasnya, seseorang mampu menciptakan kondisi dimana aktivitas produksi dan pertukaran berlangsung tanpa tekanan kebutuhan bagi kehidupan, karena dia diberi jeda untuk berdiri di titik persinggahan yang sama.  

Seseorang berkata. “Aku adalah tubuh-organisme sebagai kekuatan”. “Aku adalah manusia, maka sebagai akibat dari kesenangan adalah berpakaian”. Sisi permukaan tubuh ditandai dengan struktur organik tidak sepadan jika merujuk pada energi apa yang tersembunyi, dalam tabiat yang tidak ada campur tangan atas pertentangan antara identitas dan perbedaan jenis dan kadar tatanan organik. Hidup tidak lagi mejauhi kesatuan mekanis, dari perbedaan fungsi yang diurai dan ditata dalam jalinan relasi yang saling mengisi dan saling menopang, yang kemungkinan-kemungkinan terjadi suatu persyaratan tatanan wujud agar manusia memiliki seluruh kekuatan pembaruan diri. Dalam jalan yang berbeda, tubuh yang hidup perlu menantang bahaya sebagai kekuatan manusia yang menerima pengakuan sesuai sudut pandang intelektual. Kehidupan yang berbahaya berarti kehidupan bagi tubuh yang melipatgandakan bahaya lainnya. Mungkin ia lebih sederhana, bahwa mengetahui dan tidak, lapar dan kenyang dan sejenisnya dapat merangsang jika diselingi bahaya-bahaya untuk mengakhiri penggambaran takdir kehidupan. Obyek pengetahuan mengenai seluk-beluk pemenuhan kebutuhan dari sekedar mempertahankan hidup ke permainan berbahaya. Bisa saja demi alasan perjuangan untuk eksistensi, manusia tumbuh dengan kekayaan, dalam putaran waktu mengubah diri mereka pada bentuk ketidakpuasan materi, yang menjaminkan lebih besar atau lebih bernilai dibandingkan dengan hidup itu sendiri. Sedangkan, masa depan mereka yang digembar-gemborkan sedapat mungkin dibayangkan bagaimana wujudnya, jika dihubungkan sisi mimpi dan harapan, melalui tubuh dalam penampakannya. Demi matahari, tubuh bergerak untuk berlipat-ganda dalam bekerja dan ada hari bagi mereka menyisakan untuk berjeda. Secara klasik, tubuh merupakan titik persinggahan yang sulit dipungkiri untuk tidak menyentuhnya pada tanah, iklim, olah raga, kosmetik, busana, dan diet. Tubuh adalah suatu poros pembentukan mekanisme keteraturan; tubuh adalah kelenyapan arus di bawah permukaan. Ia dipuja dalam tanda-tanda dan jejak-jejak di saat manusia memiliki bahasa. Pada satu sisi, tubuh adalah titik infeksi dari hal-hal tertentu. Sisi lain, tubuh adalah titik pergerakan kesenangan sekaligus kesenangan sebagai tubuh. Kekuatan-kekuatannya dapat diperbarui kembali dalam pemikiran. Masih tetap pada tubuh yang hidup. Tubuh adalah energi atau kekuatan.

 Jadi, tubuh bukan lagi melawan organisme, melainkan tubuh yang menantang ‘tubuh yang sekedar hidup’. Menyangkut perluasan tubuh, manusia tidak lagi melawan ‘mesin’, karena dialah mesin itu, dari spesies telah lahir menjadi ‘tubuh baru’ yang berlipat-ganda pada ‘mesin baru’. Ia diciptakan untuk menantang takdir dengan cara menyusun dan mewujudkan peta masa depannya, yang diartikulasikan dengan kata-kata menuju sebuah tatanan wujud yang lebih kreatif. Manusia adalah dari segala hal yang dipertahankan sebagai wujud sekaligus pemikiran tentangnya.