Demonstrasi, Dari Literasi ke Restorasi (2)

Oleh:  Accang (Aktivis IMM Cabang Gowa/Mahasiswa UIN Alauddin Makassar)

Baca: Demonstrasi, Dari Literasi ke Restorasi (1)

KHITTAH.CO- Literasi diketahui sebagai bentuk penuangan ide dan gagasan dalam secarik kertas, apalagi dalam era modernisme ini sudah banyak alternatif lain yang bisa kita gunakan untuk membentuk sebuah tulisan yang siap memainkan opini publik.

Berdemonstrasi dengan jalan literasi secara teknis, juga lebih efisien dan lebih efektif. Efisiennya karena tidak langsung turun kelapangan berlawanan dengan terik matahari dengan berbagai retorika yang belum tentu orang dengar karena hingar bingar jalan dan cukup hanya dengan secangkir kopi, sebatang pulpen dan secarik kertas maka siap untuk melakukan upaya restorasi.

Terkait efektifitasnya karena melalu tulisan seseorang lebih mampu mencerna apa yang menjadi keresahan dan kritikan kita terhadap pihak yang dituju, apalagi ketika dibaca langsung oleh yang bersangkutan akan pastilah menimbulkan sebuah dialektika perasaan, dan tulisan menjadi sebuah instrumen yang mengkontraksi pikiran mereka yang ingin kita kritik untuk membenah diri berdasarkan maksud tulisan kita. Kata maman suherman seorang jurnalis media yang juga kerap muncul di stasiun televisi swasta, bahwasanya secara statistik menunjukkan tingkat minat literasi di indonesia dibandingkan negara lain 0,001 persen. Ini mengindikasikan bahwa SDM indonesia memang hanya bisa menjadi penganut buta yang senantiasa dimanfaatkan keberadaannya untuk menambah kuantitas dari setiap aksi demonstrasi yang sering terjadi, tanpa memikirkan kualitas berfikir setiap individu itu sendiri yang sesungguhnya memiliki nilai lebih dalam melakukan sebuah tindakan restorasi.

Berdemonstrasi lewat Tulisan dengan harapan menimbulkan sebuah perubahan, terkadang hanya dipandang remeh karena bentuknya yang terlihat sederhana karena hanya sebuah kerta dan konstruksi kata yang tersusun, tidak seperti orang yang berdemonstrasi di jalan, yang dapat mencuri perhatian, namun yakin dan pasti ketika di bandingkan antara aksi demonstrasi jalan dengan demonstrasi-literasi akan lebih menggugah dan merdeka ketika berdemonstrasi dengan jalan literasi sebab alternatif ini lebih memudahkan kita untuk mengkonstruk kegelisahan menjadi sebuah kritikan yang lengkap dan terhindar dari keterlupaan dalam menyampaikan aspirasi, jika aksi demonstrasi jalan kemungkinan kecil hanya dipandang sebagai tindakan yang sarat menimbulkan konfrontasi akibat wujudnya yang terlihat tidak lah lebih dari sekedar pemberontak. Dan kita tentunya juga harus lebih inovatif dan cerdas dalam mengkrikik sesuatu agar tidak di permainkan oleh permasalahan yang sifatnya dinamis dan berkompleksitas tinggi yang tidak mungkin hanya bermodalkan turun kejalan. (*)