Diksuswati IMM Sulsel: Kepemimpinan IMMawati dan Habitus Literasi

Suasana Diksuswati II DPD IMM Sulsel di Sidrap, 2 Desember 2017.
ADVERTISEMENT

KHITTAH.CO, SIDRAP– Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sulawesi Selatan (DPD IMM Sulsel) menggelar Pendidikan Khusus IMMawati (Diksuswati) II Se-Indonesia Timur di Gedung Serbaguna ‘Aisyiyah Sidrap, Sabtu, 2 Desember 2017.

Kegitan yang berlasung tiga hari ini diberi tema “Meretas Identitas Immawati dengan Membumikan Budaya Literasi sebagai Media Dakwah Zaman Millenial”.

Diksuswati merupakan ajang konsolidasi IMMawati yang dilakukan untuk memperkuat internal organisasi, khususnya IMMawati serta mempererat silaturahim.

Mantan Ketua Bidang IMMawati PC IMM Kota Makassar dalam paparannya menjelaskan, jenis Kelamin tidak menjadi tolok ukur dalam berkepemimpinan. IMMawan atau pun IMMawati sepanjang ia mampu menghegemoni, berarti sudah layak jadi pemimpin.

“Lagian perempuan atau IMMawati punya senjata yang ketika diasah dengan baik sangat ampuh dalam memimpin, yaitu kekuatan perasan yang menyentuh qalbu dan argumentasi kuat yang menyentuh nalar, seperti  yang dikemukakan Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Perempuan,” ujar Sudarmi.

Hal senada juga dilontarkan Nurfitri Alamsari yang menjadi pengarah pada kegitan tersebut. Ia berharap, Diksuswati II ini membuat kita lebih sadar untuk menjaga budaya literasi.

“Budaya literasi harus menjadi habitus IMMawati. Karena kecerdasan IMMawati adalah sebuah keniscayaan sebagai bagian integral dalam organisasi dakwah sebesar IMM,” ungkap Fitri.

Namun, ungkap Fitri lebih lanjut, kecerdasan bukan untuk dibandingkan, melainkan untuk diamalkan, didakwahkan, dan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. IMMawati sebagai muslimah di Ikatan harus senatiasa membaca sesuai denga firman pertama perintah “Iqro” sebagai modal dalam meningkatkan kapasitas diri.

“Sehingga di level kepemimpinan mana pun di struktural IMM atau setelah selesai menjadi kader yang berkualitas, dimana pun ditempatkan, baik dalam konteks persyarikatan bangsa dan ummat, terlebih lagi sebagai madrasah ula, IMMawati bisa berkasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Koordinator Steering, Yayuk Astuti Hafid, menyampaikan, menjadi kader IMM adalah takdir dan menjadi pimpinan IMM adalah pilihan.

“Ber-IMMawati bukan hanya tentang takdir dan pilihan, tetapi tentang amanah dan pertanggungjawaban. Ini semua untuk suksesi kepmipinan termasuk pada Musyda yang akan datang,” tutupnya.

Pada Diksuswati II ini juga dihasilkan 29 esai  perihal gerakan perempuan yang nantinya akan dibukukan.