Esai Tentang Firasat Akan Mati Muda

Asratillah

Oleh : Muh. Asratillah S

 

KHITTAH.CO _ Mungkin sekitar empat tahun yang lalu, saya mengalami rangkaian mimpi yang aneh, saking anehnya sehingga mendorong saya membuat hipotesis bahwa saya akan wafat pada umur 33 tahun. Walaupun saya berusaha menjelaskan (dengan teori-teori psikologi terutama melelaui pengetahuan saya yang terbatas akan psikoanalisis) bahwa mimpi saya mungkin adalah residu yang diakibatkan oleh intensnya saya membaca buku-buku bergendre filsafat eksistensialis dan tasawwuf saat itu, ditambah rasa muak akan situasi politik praktis yang saya geluti, tapi tak tahu mengapa saya tetap menarik hipotesis bahwa saya akan mati muda, pada umur 33 tahun. Dan saya menulis esai ini pada tanggal 3 september hari selasa tepat sehari sebelum saya berumur 34 tahun. Jika anda sempat membaca esai ini, maka hanya ada dua kemungkinan penulisnya telah “berpulang” atau masih “beredar” entah di warkop mana, he..he.

Kematian mempunyai pesonanya sendiri, mungkin karena kenyataan hidup yang paling pasti untuk “me-nyata” adalah kematian, disamping kematian mengundang deretan respon religius dari agama-agama seluruh dunia, memicu spekulasi filosofis terutama tentang moral, hingga ada yang menjadikan “kematian” sebagai bagian dari siasat politiknya. Saya bersepakat dengan Heidegger bahwa kematian bukanlah “sekedar berhenti-untuk-hidup” atau “berhenti-untuk-menjadi” (becoming), tetapi kematian adalah cara berada dari manusia itu sendiri. Kematian adalah salah satu kunci penting untuk memhami persoalan filosofis manusia, karena manusia adalah “ada menuju kematian” ungkap Heidegger.

Agama yang kita percayai memang memberikan kita seperangkat “doktrin siap pakai” dalam menghadapi dan memaknai kematian. Tapi “doktrin siap pakai” ini tetaplah sesuatu yang bersoal bagi saya, mengapa ? karena “doktrin siap pakai” akan kematian sebenarnya adalah milik “orang kebanyakan”. Contoh misalnya narasi bahwa saat sakratul maut, itu penanda malaikat maut sedang menarik “ruh” sang calon mayit, bagi saya narasi itu adalah narasi milik “orang kebanyakan”, padahal pengalaman akan kematian, adalah kematian yang sangat personal sifatnya. Peristiwa kematian akan berdampak efektif pada ke-diri-an kita jika dan hanya jika kita berusaha memaknai kematian tersebut secara personal pula. Dan ini pula lah yang menjadi soal bagi gerakan-gerakan populis berbasis agama, karena bagi gerakan-gerakan tersebut, agama bukanlah sesuatu yang dimaknai, diperkaya, ditelisik, dialami secara personal, bagi mereka agama sepenuhnya “milik orang banyak” sehingga mesti sama dengan “orang banyak”.

Tapi itu tak berarti bahwa “orang banyak” adalah sesuatu yang “jahat”. Sekali lagi dengan meminjam Heidegger, manusia (Dasein) tidak berada dalam “semesta yang kosong”, manusia (dasein) adalah “ada yang berada dalam dunia”, manusia adalah dia yang selalu terlibat/sibuk (sorge) dengan dunia. Tetapi manusia seringkali memilih untuk menjadi anonim, mengutip Robert Feldman “semakin bertambah dewasa seseorang, akan semakin cekatan tumbuh dalam berbohong”, kebanyakan orang sibuk merencanakan/membuat kebohongan untuk mengantisipasi apa yang dipikirkan orang lain tentang dirinya. Kita sibuk untuk mengantisipasi kata “orang banyak” tentang diri kita, sehingga kita menjadi “tak berwajah”, identitas lenyap dalam kerumunan, kehilangan jati diri dan menjadi “people self” (Man-Selbst). Dan ini berarti menjadi tak autentik di hadapan kematian.

Tak ada yang tak cemas (angst) di hadapan kematian, sebab kematianlah sumber kecemasan yang paling hakiki. Tapi cemas dihadapan kematian bukanlah berarti pengecut di hadapan kematian. Menjadi pengecut di hadapan kematian, berarti menjadi pribadi yang in-autentik, menjadi pribadi yang menyerah di hadapan arus sejarah, menyerah saat menghadapi opini “orang banyak”, takut saat menghadapi labelling (liberal, antek PKI, kaum Radikal, kampret, cebong, agen mata-mata, agen Zionis dll.) “orang banyak”. Maka dari itu saya memilih untuk terus menulis esai.

Walaupun menulis, bukan satu-satunya cara untuk menjadi autentik, tapi saya mesti jujur dengan diri sendiri. Saya tidak punya fisik yang kuat dan minim akan keterampilan tangan (terutama pertukangan), sehingga saya juga sering merasa iri jika melihat ada pemiliki rumah yang mampu memperbaiki atap rumah atau kusengnya sendiri, memegang palu dan paku pun sulit saya lakukan secara benar. Tapi tak tahu mengapa (dan untuk ini saya sangat berterima kasih buat ayah saya, yang senantiasa mengajarkan tuk meluangkan waktu menyapa aksara), saya selalu saja punya waktu luang untuk membaca buku-buku dan memantau informasi melalui berita di media massa, dan tentu saja ini adalah bahan baku yang berlimpah untuk membuat tulisan (terus terang, dalam seumur hidup saya, tidak pernah mengikuti pelatihan membaca ataupun menulis).

Dalam tradisi Marxian, kerja adalah cara manusia untuk me-manusiakan dunianya, dan jika menulis esai bisa dianggap kerja (andai anda menganggap dan berharap kerja mesti menghasilkan duit banyak secara berkelanjutan , maka kemungkinan besar anda akan kecewa dengan menganggap menulis sebagai kerja), maka itulah cara saya me-manusiakan dunia dimana saya “ada-di dalam-nya”. Untuk menolak larut dalam “orang banyak”, saya mesti berjarak terhadapnya, agar bisa mengamati dengan “cukup jernih” opini-opininya, mendengar dengan “cuku jelas” teriakan-teriakannya, merasakan dengan “cukup terang” selera-seleranya. Dan tak hanya cukup “berjarak” dengannya, saya juga mesti “mempertanyakan” dan “memperkarakan”.

Dan tak sedikit yang bertanya “apa ujung dari pertanyaan dan gugatan-gugatan anda ?”, bukankan “lebih baik diam, urus urusan sendiri dan tak usah menyibukkan diri dengan segala persoalan-persoalan politik, budaya dsb.”. Untuk pertanyaan kedua saya hanya sering menjawab “saya tak ingin punya kematian yang sia-sia”, dan untuk pertanyaan pertama saya punya dua poin jawaban. Pertama, dalam tindak “mempertanyakan” ataupun “memperkarakan”, mengandaikan adanya “harapan”. Menerima situasi begitu saja, berpura-pura menganggap segalanya baik-baik saja, bagi saya justru memperlihatkan sikap yang tak ber-pengharapan . Mungkin ada yang berkata “bukankah kita mesti bersyukur akan semual hal, susah ataupun senang”, sepakat saya tentang itu, tapi bersyukur bagi saya lebih syahdu jika dimaknai “memelihara dan membudidayakan” apa yang sudah baik sembari “menerobos” segala hal apa yang masih “bobrok”, “korup”, “tidak adil” dsb.

Kedua, tak mesti ada jawaban pasti nan final dari setiap gugatan dan pertanyaan yang saya layangkan, karena jawaban akhir yang belum ada tak berarti bahwa pertanyaannya lah yang salah. Sebagaimana dalam dialog-dialog Socrates saat menggugat dan mempertanyakan anggapan-anggapan “orang banyak” tentang “keadilan”, “keberanian” dan “kepatutan”, maka sebagian besar berujung pada kebutuan (aporia). Tapi kebuntuan dalam hal ini, tidak sama dengan “tak berarti sama sekali”. Aporia justru membawa kita pada kesadaran bahwa pengertian awal kita tentang sesuatu, tidaklah memadai. Karena tidak memadai, maka kita tak boleh terburu-buru untuk berpuas diri, dan senantiasa “membuka” akal-budi tuk menyambut “suara-suara” lain.

Pada akhirnya saya bersyukur, bisa sampai ke detik ini. Bisa bertemu dengan orang tua yang mencintai buku, bertemu dengan sosok Istri yang mencintai lelaki yang gila buku, bertemu teman-teman ngopi yang berbahagia karena buku, dan bersyukur karena saya masih memiliki asbab kebahagian dan kemewahan yang sederhana yakni buku. Semoga tetap demikian, dalam kesederhanaan. Amin