Geliat Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Bangun Tradisi Literasi

ADVERTISEMENT

KHITTAH.co – Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi modern yang sejak tumbuhnya sudah sangat akrab dengan tradisi literasi. Bahkan dalam pengamatan Dr Sabri Ar, Muhammadiyah adalah salah satu ormas yang hingga kini secara konsisten menerbitkan sejumlah jurnal yang berbasis kampus, buku serta sejumlah majalah.

Tentu hal ini menunjukkan bahwa organisasi yang kini telah berusia lebih dari satu abad memang tak pernah lepas dari tradisi tersebut. Tapi persolan kini mengemuka, muncul pertanyaan bahwa tradisi literasi yang telah lama tumbuh ini apakah akan tetap mampu dipertahankan dimasa yang akan datang? Tentu aktivitas literasi di kalangan angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) adalah salah satu gambaran tolak ukurnya.

Ketua umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Sulawesi Selatan, Elly Oscar mengungkapkan bahwa kesadaran literasi di organisasi yang dipimpinnya cukup mengalami perkembangan. Hal ini menurutnya dilihat dari ghiroh membaca kader IPM yang saat ini terbangun dengan cukup baik.

Di beberapa tempat kami membuat kajian buku yang rutin disetiap pekannya, dengan cara setiap kader harus mempresentasikan hasil bacaanya, satu buku satu kader perpekannya, saya kira ini adalah langkah awal yang baik, tuturya optimis.

Akan tetapi terkait minat menulis Elly mengakui bahwa kader IPM Sulsel sampai saat ini masih dihitung jari yang dapat mempublikasikan tulisannya. Dalam bentuk buku ataupun di media, baik itu di media cetak maupun online.

Jumlahnya masih sedikit, tapi kita sudah sementara dalam proses membangun hal tersebut. Langkah awal IPM Sulsel telah menyediakan website khusus yang dapat dijadikan sebagai wadah kader dalam menuangkan gagasannya, Jelasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulselbar, Nirwana menyatakan bahwa IMM sendiri jauh hari telah menyadari pentingnya kesadaran literasi dalam mengusung sebuah misi gerakan.

“Misi IMM adalah bertanggungjawab untuk meretas berbagai persoalan umat, maka dibutuhkan sebuah aksi nyata, bukan hanya berkutat pada apologi intelektual, sehingga tradisi literasi ini menjadi sebuah keharusan bagi kader IMM,” urainya.

Terkait minat baca kader IMM, Nirwana menjelaskan bahwa kader IMM cukup antusias, bahkan hasil bacaan tersebut didiskusikan dalam bentuk komunitas – komunitas kajian yang berbasis di level pimpinan komisariat maupun pimpinan cabang.

Untuk membangun tradisi membaca, kami telah memprogramkan one book one week, mereka membaca dan membedah. Meskipun hal ini belum merata diseluruh kader IMM yang ada di Sulsel, tetapi kedepan kita mengharapkan kader IMM bisa saling memotivasi untuk meningkatkan budaya membaca. Membaca adalah modal awal yang harus kita miliki sebagai agent of change, apalagi pada posisi IMM sebagai masyarakat kampus, jelasnya.

Nirwana melanjutkan bahwa terkait tradisi menulis, dia mangakui, belum banyak karya kader IMM khususnya Sulsel yang bisa dinikmati baik itu berupa buku atau tulisan yang terbit dimedia.

“Namun sejauh ini sudah ada beberapa di antara kader yang telah mampu mendokumentasikan pemikiran – pemikirannya dipublik, misalnya saja menulis di media cetak dan membuat buku baik individu maupun kompilasi buku berupa rekam jejak pengalaman mereka dalam ber IMM serta menerbitkan buletin mingguan, ini bisa ditemui dilevel komisariat maupun cabang yang di isi sendiri oleh kader – kader.”

Oleh karena itu lanjut Nirwana, saat ini melalui bidang riset dan pengembangan keilmuan Cabang dan DPD juga telah membentuk sekolah paradigma. Pembentukan sekolah paradigma ini sebagai bentuk nyata pencerdasan kader –kader IMM dengan menstimulasi pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dalam membangun kultur literasi.

“Saat ini bidang riset dan pengembangan keilmuan sedang dalam proses pembuatan buku yang merujuk pada tiga kajian pokok sekolah paradigma IMM yakni ideologi, filsafat dan kepemimpinan, begitupun bidang seni budaya dan olahraga sedang memproses sebuah buku yang berbicara Islam dan kebudayaan di Sulsel,” tambahya.

Ketua Nasyitul Aisyiyah (NA) Sulsel, Eka Damayanti mengatakan bahwa di Ortom yang dipimpinnya sendiri juga budaya literasi telah terbangun sejak awal karena membaca dianggap sebagai sebuah kebutuhan dan tuntutan profesi.

“Jadi kalau di NA memang kumpulan ibu-ibu muda, jadi dia mau tidak mau membaca itu adalah hal yang wajib. Membaca juga adalah untuk mendukung pekerjaannya. Tidak mungkin kalau misalnya guru atau dosen kurang membaca? Atau dokter tidak membaca?” urainya.

Menyinggung budaya menulis, Eka mengungkap kalau kader NA sendiri untuk kenasyiahan belum ada buku yang diterbitkan.

“Akan tetapi secara person sudah ada beberapa, sejauh ini sudah ada 4 buku yang diterbitakan, termasuk buku saya sendiri.”

Nasyiatul Aisyiah sendiri lanjut Eka, rencana akhir periode kepengurusannya nanati akan menerbitkan buku internal tentang NA dari Masa ke Masa, Sejerah NA di Sulsel serta kumpulan catatan hasil kajian bersama KH. Djamaluddin Amien.

Berbeda dengan IPM, IMM, dan NA, Ketua Pimpinan Wilyah (PW) Pemuda Muhammadiyah, Syaharuddin Alrif menyadari bahwa di Pemuda Muhammadiyah sendiri budaya literasi secara kelembagaan tidak terlalu menonjol karena tidak ada bidang yang menangani secara khusus terkait literasi.

“Kalau di Pemuda Muhammadiyah memang sedikit, mungkin sekitar 2 sampai tiga orang, itupun secara personal, kalau yang dikenal itu seperti Hadisaputra dan Mucktar Tompo. Yang jelas kultur intelektual terbangun di Pemuda Muhammadiyah, jadi mungkin persoalan waktu luang saja sehingga yang lain belum sempat menulis,” kata Syahar. (Kasri)