Gema Revolusi dari Kuliah Umum FKIP Unismuh Makassar

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel menyampaikan Kuliah Umum di Unismuh Makassar (Foto: Fajar Pendidikan)

KHITTAH.CO, MAKASSAR – Gaung revolusi kembali menggema. Namun kali ini bukan tentang politik dan kekuasaan. Revolusi ini dikumandangkan dari kaum pembaru pendidikan yang hadir di Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

“Membangun Potensi Diri Menuju Terciptanya Sumber Pendidikan yang Potensial dan Berkarakter Menyongsong Era Revolusi 4.0” menjadi tema yang terpampang di backdrop Kuliah Umum Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unismuh Makassar. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan Irman Yasin Limpo didaulat menyampaikan Kuliah Umum dengan tema itu. Acara dihelat di Aula Fakultas Kedokteran Unismuh Makassar, Selasa, 26 Februari 2019.

Menurut Dekan FKIP Unismuh Makassar Erwin Akib Ph.D, Irman diundang dalam Kuliah Umum ini karena dianggap memiliki sejumlah ide terobosan dalam dunia pendidikan di era digital. “Kita patut berbangga, karena Kepala Dinas Pendidikan Sulsel mendapatkan pengakuan secara nasional dari Kemendikbud. Hal itu saya dengar langsung dari Dirjen GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan-red),” terang alumni Program Doktor Universitas Teknologi Malaysia (UTM) ini.

Erwin menambahkan, kegiatan akademik semacam ini akan menjadi tradisi rutin di FKIP Unismuh Makassar setiap awal semester perkuliahan. “Kami ingin para dosen mengawali proses perkuliahan dengan menimba inspirasi dari para tokoh pendidikan. Sehingga dalam mengajar, mereka dapat menebarkannya kepada para mahasiswa calon-calon guru profesional di masa datang,” terangnya.

Kuliah Umum dibuka oleh Rektor Unismuh Makassar, Prof. Dr. Abd. Rahman Rahim, dan diawali oleh pengajian yang dibawakan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Unismuh Makassar,  Dr. Muh. Syaiful Saleh. Ratusan peserta memadati Aula Kedokteran Unismuh ini, yang terdiri dari dosen, kepala sekolah, guru, dan mahasiswa FKIP Unismuh.

Revolusi Pendidikan ala None

Mengawali pemaparannya, Irman menegaskan bahwa yang membawakan kuliah adalah Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, bukan dirinya secara pribadi. “Secara personal saya tahu diri, apalagi dalam perspektif akademik. Namun sebagai Kepala Dinas Pendidikan, secara struktural saya berkewajiban menyampaikan challenge dan hope yang kita hadapi di dunia pendidikan,” tegas None, sapaan akrab Irman Yasin Limpo.

Menurut Irman, di Dinas Pendidikan Sulsel ia memiliki 33 orang Widyaswara yang merupakan tamatan luar negeri, dan minimal menguasai dua bahasa asing. “Itu dilakukan agar kita memiliki dapur dengan chef yang standar. Indomie nya bisa dari Kemendikbud, tapi bumbu racikannya kita siapkan sendiri,” pungkasnya.

Irman menambahkan, jika manajemen pendidikan di Sulsel hanya mengikuti standar nasional, maka ia memastikan kita akan jauh tertinggal.  “Manajemen  sekolah-sekolah di Jawa sudah jauh lebih maju. Kita harus melakukan lompatan, kita harus melakukan revolusi manajemen,” ujarnya.

“Revolusi itu pasti melewati tikungan tajam. Pasti ada korban. Bahkan mungkin saja sopirnya yang jadi korban,” tukasnya, yang disambut tawa sebagian hadirin.

Saat ini, lanjut Irman, upaya lompatan tersebut telah menampakkan hasil. “Dua tahun yang lalu kualitas pendidikan menengah kita hanya berada pada peringkat 19 nasional. Baru-baru ini di rembug nasional Kemendikbud, Sulsel sudah berada di peringkat keempat,” jelas Irman, disambut tepuk tangan peserta.

Strategi lompatan yang dianjurkan Irman adalah dengan memberi perhatian serius terhadap Pendidikan Anak Usia Dini. “Mohon maaf Pak Rektor, saya selama ini menyuarakan, jangan hanya anggaran pendidikan tinggi yang terus ditingkatkan, padahal anggaran PAUD kurang diberi perhatian,” pinta adik bungsu Syahrul Yasin Limpo ini.

Kepala Dinas Pendidikan Sulsel ini menyatakan bahwa aspirasi tersebut juga telah ia sampaikan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) dan Mahkamah Konstitusi. Kepada Menpan-RB, Irman meminta agar meningkatkan kuota rekrutmen PN untuk guru PAUD.

“Saat ini saya juga sedang menggalang dukungan kepala dinas pendidikan se-Indonesia untuk meminta Mahkamah Konstitusi agar mengakui PAUD sebagai bagian dari Satuan Pendidikan. Jika demikian, maka guru PAUD juga berhak memperoleh sertifikasi” tambahnya.

Tantangan Era Digital

“Bangun tidur, benda pertama yang kita sentuh bukan lagi pasangan kita, melainkan hape. Internet of thing adalah bagian yang tak terpisahkan dari keseharian kita. Aktivitas keseharian kini banyak dibantu oleh aplikasi dan robot. Kini teller bank tidak dibutuhkan lagi. Bank ada di Hape kita. Tanpa kita sadari, revolusi sedang terjadi dalam kehidupan kita,” pungkas Irman menjelaskan dunia yang kita hadapi sekarang.

Oleh karena itu, menurut Kadis Pendidikan Sulsel ini, ada beberapa kompetensi yang wajib dimiliki oleh generasi Z. Generasi Z adalah generasi yang lahir setelah tahun 1990, atau orang-orang yang lahir di generasi internet—generasi yang sudah menikmati keajaiban teknologi setelah kelahiran internet.

Kemampuan berpikir kritis adalah kompetensi penting di Abad ke-21. Sebenarnya keterampilan ini bisa didapatkan melalui pelajaran Matematika, sayangnya matematika lebih sering dianggap momok menakutkan bagi siswa. Fenomena itu bahkan terjadi di sekolah yang dianggap sekolah unggulan. “Padahal jika peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, secara otomatis mereka akan memiliki kemampuan problem solving,” ungkap Irman.

Kemampuan berkolaborasi juga tak kalah penting. Irman mencontohkan bagaimana moda trasportasi daring seperti Gojek, mampu membangun bisnis dengan kekuatan kolaborasi. “Ada yang punya aplikasi, ada yang punya motor. Seharusnya model kolaborasi juga dibangun dalam dunia pendidikan.”

Irman mendorong agar ada integrasi antar pelajaran, seperti olahraga dan matematika. Atau kolaborasi siswa yang memiliki perbedaan kecerdasan. Sejatinya, setiap anak memiliki kecerdasan yang menonjol. Ada yang menonjol dari segi kecerdasan matematika, adapula yang menonjol dalam bidang musik. Peran guru seharusnya mengorkestrasi semua keterampilan tersebut. “Ubah mindset, jangan mengistimewakan satu-dua orang.”

Tantangan selanjutnya adalah inovasi. Salah satu karakter Generasi Z adalah anti regulasi. Inti ketaatan bagi mereka adalah kesepakatan. Ketidaknyamanan yang mereka rasakan, membuat mereka memberontak. Dan kita cenderung lebih menghakimi pemberontakan. Perubahan zaman ini perlu dipahami oleh para guru.

Menjawab tantangan-tantangan tersebut, Irman tak hanya ‘berkhotbah’. Salah satu inovasi yang ia lakukan dengan merintis aplikasi “JK E-Panrita”. Aplikasi digital ini merekam semua aktivitas pelajar, guru dan Kepala Sekolah, serta big data SMA -SMK se Sulsel. Semua itu bisa dicek secara real time di layar monitor Dinas Pendidikan Sulsel.

Selain itu, dibawah kepemimpinannya, kini Dinas Pendidikan juga sedang menggarap konsep home schooling. Gagasan tersebut berupa sinergitas guru, orang tua, dan masyarakat dalam pendidikan. Dalam ide ini, guru tak lagi hanya berada di sekolah, dan hanya berhadapan dengan siswa. Guru juga harus menggerakkan orang tua dan masyarakat sekitar. Kita tunggu inovasi selanjutnya!