Generasi Muda Menjemput Era Disrupsi: Spirit Entrepreneurship Berbasis Islam Berkemajuan (Bagian 2)

ADVERTISEMENT

KHITTAH.CO – Entrepreneur dan entrepreneurship ─ sebagaimana saya kutip dari sebuah media online (Kanal Informasi) ─ berasal dari bahasa Perancis, entreprendre yang bisa diartikan memulai atau berusaha melakukan tindakan. Dalam perkembangannya, terma ini lebih banyak digunakan dalam dunia ekonomi dan bisnis.

Meskipun pada dasarnya sebagaimana diungkapkan oleh Deni Asy’ari, entrepreneur tidak selamanya berhubungan dengan ekonomi dan bisnis, tetapi memiliki makna utama yaitu kemandirian dan kemampuan memberikan nilai atau nilai tambah terhadap sesuatu yang sebelumnya tidak ternilai atau kurang bernilai.

Entrepreneur secara umum bisa diartikan keinginan dan kemampuan seseorang, untuk melakukan perombakan sistem, mengubah ide baru atau penemuan baru menjadi sebuah inovasi yang sukses. Bisa pula disebut wirausaha atau wiraswasta, “wira” artinya berani/pahlawan dan “swasta” artinya berdiri sendiri. Wirausaha maupun wiraswasta pada dasarnya bisa dimaknai sama yaitu seseorang yang berani secara mandiri untuk melakukan usaha sendiri.

Dalam diskusi virtual IPM Bantaeng, baik Deni Asy’ari maupun Mukhaer Pakkanna, pada dasarnya memberikan pemahaman tentang entrepreneurship, bukan hanya dalam dimensi defenisi etimologi, terminologi dan secara utilitas dalam dimensi untuk persiapan teknis operasional dan skill semata, tetapi beliau berdua sampai menyentuh dimensi motivasi yang bersifat duniawi dan ukhrawi lengkap dengan dalil-dalil dan preseden historis-profetiknya (Bagaimana Rasulullah menjadi teladan terbaik dalam hal bisnis dan ekonomi).

Singkatnya ─ terutama disampaikan oleh Deni Asy’ari ─ bahwa sesungguhnya Islam dan Muhammadiyah telah memberikan semangat teologis dan historis tentang pentingnya entrepreneurship. Apalagi Muhammadiyah pada Muktamar ke-47 di Makassar telah meletakkan dasar pijakan secara resmi gerakan ekonomi sebagai pilar ketiga.

Selain itu, kedua narasumber bahkan mampu mengarahkan peserta, memberikan instrumen berpikir ─ seperti yang “direkomendasikan” oleh Rhenald Kasali ─ untuk membaca dan (bagi saya) sekaligus menjawab ─ ”Where we are” dan “Where we are going to”.

Mukhaer Pakkanna menjelaskan kecendrungan era sekarang, memberikan pembanding tentang mental antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain: seperti bagaimana kemajuan Cina, Jepang, Korea dan Jerman. Dan mental-mental ini berkontribusi atau memiliki korelasi positif dengan kemajuan bangsa tersebut. Begitupun bagaimana kondisi bangsa Indonesia hari ini, dan mental apa yang sedang beroperasi dalam benak anak bangsa.

Dari pembacaan “Where we are” dan “Where we are going to” jika dikontekstualisasikan  dalam kondisi bangsa Indonesia dan umat Islam, ada hal yang perlu menjadi perhatian serius. Dibutuhkan pemahaman filosofis dan sikap terbuka untuk mendialogkan dan menerima teladan spirit dari bangsa, bahkan dari agama dan nilai budaya lain.

Mukhaer Pakkanna memaparkan melalui slide materinya tentang kondisi yang paradoks dan kontraproduktif. Apa itu?, ternyata dari aspek kuantitatif, jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam itu sebanyak 87%, sedangkan jika dilihat dari 50 daftar orang terkaya di Indonesia, hanya ada 8 orang pengusaha muslim.

Konteks Indonesia secara keseluruhan dan ini yang menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan Indonesia sulit mencapai kemajuan untuk sejajar dengan bangsa lain adalah ─ berdasarkan data dari Mukhaer Pakkanna ─ rendahnya kaum entrepreneur, hanya 0,8% berada jauh di bawah negara tetangga.

Penduduk Singapura yang menjadi entrepreneur 7,2%, Malaysia 2,1%, Thailand 4,1%, Korea Selatan 4%, China dan Jepang mencapai 10% sedangkan yang tertinggi adalah AS sebesar 11,5-12%. Sebagaimana diungkapkan oleh Mukhaer dari David McClelland, bahwa Negara makmur jika jumlah saudagarnya mencapai 2%.

Berpijak pada data tersebut, dapat disimpulkan bahwa umat Islam Indonesia yang hanya unggul secara demografis tetapi dalam konteks ekonomi tertinggal jauh. Dengan kata lain, umat Islam hanya mayoritas secara kuantitas, tapi minoritas secara kualitas. Hal ini menjadi pemantik bagi saya, sehingga berpandangan bahwa spirit entrepreneurship khususnya umat Islam harus berbasis atau dilandasi paradigma Islam Berkemajuan.

Sebagaimana Etika Protestan sangat mempengaruhi lahirnya kapitalisme, bagaimana etika Tokugawa membuka jalan bagi industrialisasi Jepang, bagaimana filosofi Konghucu mempengaruhi rasionalisasi bidang politik dan ekonomi. Untuk memahami hal ini: Etika Protestan, Etika Tokugawa dan bagaimana filosofi Konghucu salah satunya bisa dipahami dari Zakiyuddin & Azaki dalam ‘Etika Muhammadiyah & Spirit Peradaban’ (2017:1-23). Khusus tentang etika protestan dan korelasi positifnya terhadap lahirnya kapitalisme bisa pula dibaca pada magnum opus Max Weber berjudul The Protestan Ethic and Spirit of Capitalism.

Bagi saya spirit entrepreneurship ─ khususnya bagi umat Islam Indonesia ─ harus berbasis paradigma Islam Berkemajuan. Hal tersebut bertujuan agar memiliki spirit yang kuat dalam menggerakkan ekonomi umat, sehingga mampu “bersaing” dengan umat lain, bahkan dengan bangsa lain.

Dalam tulisan ini, khususnya untuk konteks era disrupsi dan entrepreneurship, Islam Berkemajuan ditawarkan sebagai basis dan paradigma dalam memberikan pemaknaan baru dalam kerangka operasional dan pelembagaan spirit entrepreneurship.

Islam Berkemajuan memiliki semangat membumikan, memewujudkan dalam realitas empirik hal-hal yang bersifat teologis, bahkan senantiasa merumuskan pemaknaan baru yang relevan dengan konteks zaman. Islam Berkemajuan memiliki keterbukaan dan kelenturan sikap untuk berdialogi bahkan menerima etos positif dari umat dan bangsa lain sekalipun. Islam Berkemajuan terbuka atas kajian ilmu sosial kontemporer yang bisa memperkuat pemahaman dan spirit dasarnya yang bersumber dari ajaran Islam.

Menurut saya, Islam Berkemajuan bisa menjadi seperangkat paradigma untuk memberikan kerangka pikir bagaimana membaca sekaligus menjawab “Where we are” dan “Where we are going to”.  Jawaban bagi kedua pertanyaan tersebut, menurut Rhenald Kasali, menjadi syarat utama untuk tetapi eksis dan survive dalam era disrupsi.

Saya juga berpendapat bahwa spirit dan paradigma Islam Berkemajuan bisa menangkap dengan baik sisi teologis dan historis spirit entrepreneurship. Misalnya, bagaimana Rasululullah, sahabat, dan pada masa Abbasiyah melakukan ekspansi wilayah perdagangan. Bahkan setiap jejak ekspansifnya seperti Cina, Maroko dan Spanyol, memiliki kekuatan ekonomi yang luar biasa hari ini, hingga hari ini.

Islam Berkemajuan identik dengan pikiran dan sikap yang maju dan berkemajuan, sebagaimana etika protestan menjadi spirit lahirnya kapitalisme, sesungguhnya Islam Berkemajuanpun, mampu membangkitkan semangat entrepreneur umat Islam untuk menjadi kiblat peradaban baru di tengah era disrupsi.

Penulis: Agusliadi (Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng, dan Komisioner KPU Kab. Bantaeng Periode 2018-2023).

 

.