Generasi Muda Menjemput Era Disrupsi: Spirit Entrepreneurship Berbasis Islam Berkemajuan

ADVERTISEMENT

Oleh: Agusliadi

KHITTAH.CO – Selain pemilik kehidupan (baca: Allah), satu-satunya yang kekal dalam konteks kehidupan duniawi adalah perubahan─tanpa bermaksud membandingkan apalagi menyejajarkan antara Allah dan perubahan. Perubahan adalah sebuah keniscayaan yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup. Bahkan bisa menjadi sebuah motto kehidupan, “tiada hari tanpa perubahan”.

Judul tulisan ini sesungguhnya adalah tema “Student Preneur Dialogue” ─ secara online ─ yang dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kab. Bantaeng sebagai rangkaian Milad ke-59 IPM. Penyelenggara menghadirkan dua narasumber, Deni Asy’ari (Direktur Suara Muhammadiyah) yang merupakan praktisi ekonomi, dan Mukhaer Pakkanna selaku Rektor ITB Ahmad Dahlan Jakarta, yang juga Sekretaris Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Saya sebagai peserta saat itu, menilai bahwa hal ini penting dipahami oleh generasi muda di tengah kondisi kehidupan dengan laju yang sangat cepat, baik yang bersifat destruktif, maupun penuh kreativitas. Generasi muda pada khususnya, masih banyak yang sering berada dalam “badai” kebimbangan  untuk bersikap dan mewujudkan karya nyata.

Seiring dengan perkembangan narasi besar ilmu pengetahuan ─ istilah ini saya pinjam dari Denny JA, begitupun narasi besar wahyu yang memberikan dan menjadi spirit kehidupan ─ dan perkembangan teknologi (tanpa kecuali teknologi virtual) berbasis digital telah menyeret kehidupan dalam arus dan muara yang dikenal dengan “era disrupsi”.

Membaca buku Rhenald Kasali yang berjudul Disruption (2017: 34-35) kita bisa memahami, secara sederhana, era disrupsi adalah era yang penuh inovasi. Disrupsi adalah inovasi yang menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara baru. Dari buku ini bisa dipahami pula bahwa disrupsi sebagai sebuah inovasi identik dengan inovasi yang berbasis digital. Ditunjang dengan teknologi digital (termasuk teknologi virtual) berbasis digital.

Disruption (disrupsi) pada dasarnya memiliki dua sifat utama yaitu destruktif dan creative. Rhenald Kasali menyadari bahwa inovasi sejatinya destruktif (menghancurkan, mematikan) sekaligus kreatif. Oleh Deni Asy’ari dalam diskusi online tersebut juga mempertegas dua hal ini: destruktif dan kreativitas.

Saya memahami dari Rhenald Kasali bahwa pada dasarnya kreatifitas sebagaimana dalam siklus alam, ada tiga hal yaitu: Pertama. Iteration, kreativitas untuk membuat hal yang sama tetapi lebih baik (Doing the same thing); Kedua. Innovation, kreativitas untuk membuat hal –hal yang baru (Doing the new thing); Ketiga. Disruption, kreativitas untuk membuat banyak hal baru, sehingga yang lama menjadi ketinggalan zaman, kuno, dan tak terpakai (Doing things differently-so others will be absolete).

Dalam pandangan Mark Zuckerberg (dalam Rhenald Kasali, 2017: 36), “Sukses tergantung pada kemampuan kita menyelaraskan ketiganya: Iteration, Innovation, dan Disruption. Jika Anda tidak mendisrupsi diri sendiri, Anda akan mendapatkannya dalam bentuk hadiah dari orang lain.”

Sebagai contoh dampak disrupsi adalah ketika Nokia yang sebelumnya menguasai pasar global kini terhempas oleh Samsung dengan produk smartphonenya berbasis android. Taksi konvensional seperti Blue Bird yang kini dikalahkan oleh Grab. Mall konvensional dikalahkan oleh anak kandung era disrupsi ─ meminjam istilah Deni Asy’ari yang disampaikan dalam diskusi tersebut ─ yaitu “toko digital” atau “mall digital” seperti Bukalapak dan Lazada.

Setelah saya membaca dua buku Rhenald Kasali, Change (2005) dan Disruption (2017), ada hal menarik, reflektif dan filosofis serta memiliki relevansi dengan judul tulisan ini atau tema “Student Preneur Dialogue” IPM tersebut.

Apa itu?, dalam buku Change, pesan utama untuk melakukan sebuah perubahan adalah kita harus mampu to see  bahkan “Seeing is believing”─ini bisa dimaknai, melihat secara mental. Salah satu faktor kegagalan atas perubahan adalah “Failure to See” (gagal dalam melihat).

Sedangkan dalam buku Disruption ditekankan bahwa hari ini, kita tidak hanya membutuhkan motivasi atau “motivasi saja tidak cukup”. Tetapi kita memerlukan strategi untuk membaca “where we are” dan “where we are going to”. Dan bagi saya bukan cuma kemampuan membaca kedua hal ini, tetapi termasuk kemampuan untuk menjawab keduanya.

Berdasarkan pembacaan reflektif dan filosofis tersebut, maka generasi muda harus memahami dan menyadari dirinya sedang berada dalam sebuah spektrum Disruption. Hal ini sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari, sehingga sikap dan tindakan terbaik adalah “menjemput era disrupsi”. Dalam konteks judul tulisan ini, “Generasi Muda Menjemput Era Disrupsi”.

Terma dan spirit “menjemput” bagi umat Islam khususnya Muhammadiyah, relevan dengan etos Al-Ashr─Muhammadiyah telah mengkaji lebih dalam bahkan dijadikan teologi dan etos perjuangannya. Etos Al-Ashr, senantiasa melihat realitas dan perubahan-perubahan yang ada sebagai sebuah peluang, teladan, pembelajaran dan peringatan untuk kemudian mengedepankan sikap optimis dan paradigma apresiatif dalam meresponnya.

Generasi muda dalam “menjemput” era disrupsi tentunya membutuhkan sebuah spirit. Ini penting, karena kedatangan ─ tepatnya kehadiran ─ era disrupsi tidak bebas nilai, bukan sesuatu yang hampa.

Generasi muda membutuhkan spirit entrepreneurship dan agar lebih kokoh serta kompatibel untuk generasi muda Islam pada umumnya dan Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) pada khususnya, maka penting menjadikan “Islam Berkemajuan” sebagai basisnya. Sebagai paradigma yang membingkai spirit entrepreneurship tersebut. (Bersambung)

Penulis: Agusliadi (Mantan Ketua PD. Pemuda Muhammadiyah Bantaeng, dan Komisioner KPU Kab. Bantaeng Periode 2018-2023).