Gugur Bunga, Mujahid Muhammadiyah (In Memoriam Irianto Sulaeman dan Muhammad Jafar Anwar)

Oleh : Haidir Fitra Siagian

Suatu malam sebelum tidur, putra sulungku yang saat itu baru kelas satu SMP di Pondok Pesantren Darul Fallah Unismuh Makassar Bissoloro Kecamatan Bungaya Kabupaten Gowa, pernah membuat pertanyaan teka-teki kepada adik-adiknya. “Apakah yang paling dekat dengan kita?”. Orang tua! Benar. Guru! Benar. Teman! Harta! Benar. “Semua jawaban itu adalah benar. Yang saya tanya adalah yang paling dekat” katanya.

Saya tak tahu, mengapa pertanyaan itu begitu penting dia ajukan kepada adik-adiknya. Sampai-sampai, putraku ini mengambil sebatang spidol warna hitam. Lalu menulis pertanyaan itu pada dinding tripleks tua dalam kamar tidur kami. Isi pertanyaannya tetap sama: “Apakah yang paling dekat dengan kita?”. Semua jawaban adik-adiknya pun dia tulis dalam dinding tripleks itu. Lalu dia menulis jawabannya yang paling dekat adalah “kematian”. Tulisan itu masih terpampang jelas dalam dinding kamar hingga keberangkatan kami ke Negeri Kanguru akhir Mei lalu.

Saya sempat tersentak dengan jawaban tersebut. “Kematian”. Itu adalah satu pertanyaan dan jawaban yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Saya bersyukur, putraku dapat memiliki pertanyaan teka-teki sebaik dan sepenting itu. Tentu, pernyataan demikian sudah dipelajari di sekolahnya. Para gurunya yang ikhlas dan tawadu, adalah yang mengajarkan itu kepadanya. Saya kira, tidak banyak anak-anak setingkat SMP yang memiliki keinginan untuk menjadikan pertanyaan seperti itu kepada adik-adiknya. Perlu proses dan pemahaman yang panjang dan mendalam.

Atas pertanyaan putraku tersebut, saya menyadari bahwa hal itu tidaklah sekedar pertanyaan. Lebih dari itu, bagi saya adalah nasihat yang terbaik sepanjang masa. Ya, tentang kematian. Memang, ini sesuatu yang tidak pernah diduga. Tidak ada yang tahu kapan datang. Tidak mungkin dipastikan. Ditunda maupun dimajukan, adalah sesuatu yang amat sangat mustahil. Kematian berada pada diri kita. Tak ada jarak. Tak ada bisa memisahkan kita darinya. Itulah yang menyebabkan sehingga kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita.

Bahwa kematian adalah hak prerogatif Sang Pencipta. Usaha apapun yang dilakukan nisaya tak akan mampu membendung datangnya kematian, kepada siapapun, dimanapun dan dalam kondisi yang bagaimanapun. Sebaliknya, jika bukan atas ketentuan Yang Maha Kuasa, niscaya kematian itu tidak bisa dimajukan. Tidak ada yang mampu mempercepat kematian. Dulu beberapa kasus yang terjadi, dimana seseorang sudah dianggap telah tewas karena dihukum mati dan ditembak tentara dengan senjata laras panjang, ternyata bisa lepas dari kematian. Hal ini tentu bukan karena apa-apa, lebih kepada bahwa Tuhan Yang Kuasa belum menghendakinya mati.

Gugurnya Bunga yang Harum

Hari ini, saya mendapat kabar duka dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dua kader Muhammadiyah yang telah mengabdikan diri untuk Persyarikatan Muhammadiyah selama ini, telah memenuhi panggilan Sang Khalik dalam usia yang masih produktif dan cukup muda. Tak pernah kita menduga bahwa keduanya akan meninggal dunia dalam kondisi saat ini. Yang pertama adalah Kakanda Drs. Irianto Sulaeman, M.M. dan yang kedua adalah Kakanda Dr. Muhammad Anwar Jafar, M.Pd. Keduanya adalah bagaikan bunga-bunga yang mengeluarkan semerbak keharuman di taman raya yang indah, Persyarikatan Muhammadiyah. Bunga-bunga yang penuh manfaat, pun telah ramai menebarkan benih-benih kebaikan kepada sesama, bahkan di luar tubuh Persyarikatan.

Terhadap keduanya, saya dan keluarga menyatakan turut berduka cita, dengan iringan doa agar Allah Swt. menerima segala amal ibadahnya dengan pahala yang berlipat ganda, memasukkan kedua almarhum ke dalam golongan orang-orang yang mendapat rahmat-Nya. Sedangkan kepada kelurga yang ditinggalkan, diberikan kesabaran dan ketabahan hati, menerima kenyataan ini sebagai bagian dari proses untuk senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. Hal yang sama pun kepada kita semua, agar menjadi nasihat yang paling berguna sepanjang masa.

Khusus kepada Kanda Anwar Jafar, saya tidak banyak ingat kisahnya, pun tidak terlalu banyak berinteraksi dengan beliau. Yang saya ingat adalah sekitar awal tahun 1990an, beliau adalah aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang KMUP (Kota Madya Ujung Pandang). Ketika kami masih punya warung kecil di Jalan Gunung Lompobattang No. 203, beliau adalah salah satu pelanggan tetap. Biasanya adalah membeli roti dan mie siram, merk megah mie. Jenis mi instan yang paling murah saat itu. Bahkan pernah minta disirami air panas. Saya tahu beliau berasal dari Nusa Tenggara Barat, apakah Bima atau Sumbawa. Yang jelas setelah menyelesaikan kuliah di Ujung Pandang, dia hijrah ke Jakarta. Menjadi pengurus IMM tingkat pusat sekaligus mengadu nasib di ibu kota negara tercinta, hingga beliau meninggal dunia tadi malam.

Interaksi Intensif saat Muktamar Muhammadiyah

Sedangkan kepada almarhum Kanda Irianto Sulaeman, saya banyak sekali berinteraksi dengannya. Boleh dikatakan bahwa almarhum adalah seorang guruku. Saya ingat persis ketika beliau membawakan materi saat TC TM1 Ikatan Pelajar Muhammadiyah Cabang Mamajang KMUP. Kalau tidak salah tahun 1990, di aula SMA Muhammadiyah Disamakan, Jalan Doktor Ratulangi, tak jauh dari Rumah Sakit Labuang Baji. Sekarang menjadi kampus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Makassar. Saat membawakan materi, beliau sangat tegas mengajarkan ilmu kepada kami.

Kemudian beliau pernah dijadwalkan mengisi materi saat TM 3 IPM Sulsel sekitar tahun 1994, di Balai Benih Induk, Maros, depan rumah sahabat saya, Andi Muhammad Irfan AB (anggota DPRD Sulsel). Almarhum tetap datang ke lokasi bersama seseorang. Beliau minta diganti sebagai pemateri dan menyodorkan seorang pemateri yang lebih kapabel, alumni IPM juag, yang dia antar langsung. Namanya adalah Muh. Iqbal Samad, S.E., M.T. Materi yang dibawakan adalah ilmu ekonomi. Beberapa waktu lalu, pria yang membawa materi ini telah dilantik menjadi pejabat Walikota Makassar hingga tahun 2020 yang akan datang.

Kak Anto, nama sapaan akrab kepada almarhum. Pernah juga saya undang membawakan materi tentang administrasi dalam penataran pimpinan oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah Sulawesi Selatan tahun 1997 di Balai Diklat Depag Jalan Sultan Alauddin depan Masjid Abrar. Ketua panitia penataran saat itu adalah Bang Jayadi Nasyanto Kamaluddin, sekarang dosen Ilmu Pemerintahan Fisip Unhas. Saat itu saya sebagai sekretaris panitia.

Pada awal tahun 2000an, almarhum meminta kepada saya agar dilibatkan dalam kepanitiaan Muhammadiyah tingkat wilayah Sulawesi Selatan. Saya lalu mengusulkan namanya kepada Pak Kiyai Nasruddin Razak, Ketua PWM Sulsel saat itu, sebagai Sekretaris Panitia Milad Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Kabupaten Pinrang. Milad tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Darul Arqam Punnia. Hadir Pak Syukrianto AR dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Wakil Gubernur Sulawesi Selatan yang baru saja terpilih H. Syahrul Yasin Limpo. Saat itu pemerintah membantu seratus juta Rupiah untuk pondok pesantren.

Interaksi saya yang paling intens dengan almarhum adalah pada tahun 2015 lalu di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar. Saat itu menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-47. Posisi saya adalah Ketua Bidang Kesekretariatan Panitia Penerima. Sedang beliau sebagai panitia bidang pameran dan gerak jalan santai. Kurang lebih dua bulan kami selalu bersama di sekretariat lantai II Menara Iqra. Biasanya saya datang ke sekretariat setelah mengajar di kampus UIN Alauddin Makassar. Walaupun tidak satu bidang, tapi almarhum selalu nampak di sekretariat, ada atau tidak ada urusannya. Terutama jelang duhur sampai maghrib.

Usia kami mungkin terpaut lima tahun lebih. Dia senior saya dalam berbagai hal. Tapi jika ada urusan kami yang mendesak, saya minta tolong kepada almarhum. Dan dia tidak segan-segan melaksanakan “perintah”ku, atau permohonanku. Misalnya menjemput tamu dari panitia pusat dan membawanya makan malam. Kadang kami tak pegang uang. Uangnya dulu yang dipakai. Dan seterusnya. Memang demikianlah adanya kita di Muhammadiyah. Untuk urusan kebaikan yang mendesak, harus siap mengabdikan diri. Tak perlu memersoalkan jabatan dan usia, apalagi senioritas. Karena tujuan kita adalah memperbanyak amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Inilah wujud selogan Pemuda Muhammadiyah : Fastabiqul Kaerat.

Wassalam
Masjid MAWU University of Wollongong, 11.07.19 ba’da duhur