Habis Kebodohan Terbitlah Pengetahuan (Bag. 2)

Oleh : Dr. Yustin Paisal, MT

 

Al-Kindi, Teori Sains dan Filsafat

Jika Albert Einstein terkenal dengan teori relativitasnya, maka apakah yang menjadi rujukannya? Apakah timbul begitu saja dalam benaknya dan tidak ada sama sekali pertautan dengan pengetahuan yang ditemukan oleh ilmuwan sebelumnya? Untuk pertanyaan ini, terjawab dengan beberapa informasi sejarah.

Sekitar 1100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitasnya, Al-kindi (Alkindus oleh orang eropa, 801 – 873M) telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas (Wahyu,2010). Biografi Al-Kindi antara lain; nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’kub bin Ishaq Ashshabbah bin ‘Imron bin Ismail bin Al-Asy’ats bin Qaya Al-Kindi, dilahirkan di Kufah pada tahun 185 H. Ayahnya bernama Ishaq Ashshabbah, Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Al-Rasyid, wafat 252 H (861 M) (Al-kindi dalam P.Prioreschi, 2002).

Nama Al-Kindi dikenal di kemudian hari melalui kitab-kitabnya yang berjumlah tidak kurang dari 241 buah dalam bidang filsafat, logika aritmatika, kedokteran, ilmu jiwa, politik, musik, dan matematika. Pada masa hidup Al-Kindi penerjemahan buku-buku Yunani ke bahasa Arab sangat pesat dan ia turut aktif dalam kegiatan itu. Ia mencoba mempertemukan atau memadukan agama dan filsafat (Afandi, 2005)..

Azyumardi Azra menuturkan dalam bukunya Historiografi Islam Kontemporer: Wacana, Aktualitas, dan Aktor Sejarah bahwa, “Abu Yusuf Al-Kindi di kalangan Islam pada umumnya dikenal sebagai ahli filsafat (filosof) muslim pertama. Tetapi Al-Kindi sebenarnya bukan hanya seorang pemikir atau filosof, tetapi juga ilmuwan muslim yang menghasilkan karya dan penemuan-penemuan ilmiah awal dalam perkembangan ilmu di seluruh dunia. Karya-karya otentik Al-Kindi berjumlah 200 naskah, terdiri dari berbagai bidang; sejak dari masalah obat, hingga soal fisik atau jasmani manusia. Beberapa karyanya itu diterjemahkan dalam bahasa Latin dan Yahudi.”(Azyumardi Azra,2002).

Al-Kindi, peletak dasar evolusi ilmiah, mengemukakan tentang pengetahuan ilmiahnya bahwa kita tidak harus ragu untuk mengakui kebenaran dan menerimanya, tidak peduli darimana asalnya, tidak peduli apakah itu datang kepada kita dari zaman dahulu atau dari orang asing. “Tujuan saya adalah pertama untuk menuliskan semua karya yang lebih dahulu telah meninggalkan kita pada suatu topik yang diberikan dan kemudian, menyesuaikannya dengan lidah Arab, serta memperhatikan kebiasaan waktu dan kapasitas kita, untuk menyelesaikan apa yang mereka belum sepenuhnya ungkapkan” (Al-kindi dalam P.Prioreschi, 2002)

Beberapa pandangan Al-Kindi tentang filsafat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang benar. Sedang agama menerangkan tentang apa yang benar. Jelas ada perbedaan antara filsafat dan agama. Keduanya bertujuan untuk menerangkan apa yang benar dan yang baik. Agama disamping menerangkan wahyu juga mempergunakan akal, dan filsafat mempergunakan akal. Wahyu tidak bertentangan dengan filsafat, hanya argumentasi yang dikemukakan wahyu lebih meyakinkan daripada argumen filsafat.(Afandi, 2005).

Tentang persoalan metafisik, diantaranya keberadaan Tuhan, menurut Al-KIndi, Tuhan adalah pencipta alam, bukan penggerak pertama. Tuhan itu Esa, Azali, dan Unik. Ia tidak tersusun dari materi dan bentuk, tidak bertubuh dan bergerak. Ia hanyalah keesaan belaka, selain Tuhan semuanya mengandung arti banyak. (Al Kindi dalam Afandi, 2005).

Pandangannya ini kemudian diikuti oleh St.Thomas Aquinas (1225 1274), filosof Eropa dari Sisilia Utara, yang mana terkenal dengan teori five ways bahwa untuk mengenali sifat Tuhan dengan mengenali bukan sifat Tuhan (via negative). Diantara pandangan Teologinya adalah bahwa Tuhan bersifat sederhana, Tuhan tidak terdiri dari bagian-bagian seperti materi penyusun (K.A. Yuana, 2010). Thomas Aquinas telah termotivasi karena membaca karya Aristoteles dan komentar-komentas para filsuf Arab terhadap karya tersebut (James Garvey,2010).

Disini pun, Al-Kindi menjadi salah seorang saksi sejarah hitam penguasa pada masanya, bagaimana para ilmuwan di timur tengah mengalami nasib malang karena keyakinan akan konsep teologis yang mereka pertahankan di satu sisi dan konsep rasionalitas yang juga mewarnai pandangan hidup mereka disisi lain. Dalam bukunya yang terkenal, The Governors and Judges of Egypt, Al-Kindi mengatakan, bahwa, tidak seorangpun yang lolos dari ujian berupa hukuman akibat berbeda pendapat dengan khalifah, apakah mereka seorang faqih, muhaddist, mu’adzin, dan mu’alim. Sebagai hasilnya, kebebasan berpendapat yang merupakan karakteristik penting masyarakat Islam pada beberapa kurun waktu sebelumnya nyaris hilang (M.U.Chapra,2010).

Menurut Al-Kindi, bukti-bukti kebiadaban penguasa pada waktu kekuasaan Khalifah Abbasiyah (750 – 1258 M) diantaranya adalah penjara-penjara penuh sesak dengan orang-orang yang tidak menjawab mihnah (inkusisi; tentang keimanan, apakah al-quran itu makhluk atau bukan, red.) (Dikutip dari Al-kindi oleh Hinds,1993, dalam M.U.Chapra,2010). Bahkan, Imam Ahmad bin Hambal (w.241H/855M), yang sangat dihormati oleh kaum muslimin pada jaman Khalifah Al-Mu’tashim, juga mendapatkan perlakuan buruk dari antek-antek khalifah.

Imam Ahmad kemudian dibelenggu atas perintah Al-Mu’tashim sampai tidak sadarkan diri (Al-Mas’udi (w.346H/957M) dalam M.U.Chapra,2010). Penyebab mengapa Imam Ahmad diperlakukan seperti itu, menurut Al-Kindi, bahwa beliau tidak bersedia menerima pandangan kaum mu’tazilah yang didukung oleh Khalifah Al-Mu’tashim tentang kemakhlukan Al-Qur’an.

Bahkan kaum mu’tazilah menulis pengumuman di masjid-masjid yang mengindroktinasi kaum muslimin pada waktu itu di Kota Fustat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Tuhan yang menciptakan Al-Qur’an. Sehingga konsep Al-Qur’an sebagai makhluk menjadi syahadat mutlak dalam pandangan khalifah Al-Mu’tashim dan kaum mu’tazilah (Dikutip dari Al-Kindi dalam M.U.Chapra,2010). Padahal, boleh jadi mereka mengetahui bahwa “sesamamuslim jangan saling mencela; baik dan buruk seseorang yang hak memberi penilaian hanya Allah; barangsiapa yang melakukan kezoliman kepada suatu kaum maka yang menjadi lawannya adalah Allah!” (Ali bin Abi Thalib, red.).