Happy New Hope

Oleh : Muh. Asratillah Senge

 

KHITTAH.co – Apapun ekspresi kita, apapun kegiatan kita (zikir bersama, berdiam di rumah ataupun bakar petasan), berapapun uang yang kita belanjakan menjelang pergantian tahun. Saya yakin (dan ini agak subjektif) “harapan” lah yang mendorong bibir kita untuk tersenyum saat tahun berganti. Konon menurut beberapa fenomenolog, yang justru menghidup-hidupi kehidupan manusia adalah dua hal yang nampaknya bersebarangan jauh, pertama adalah kematian dan yang kedua adalah harapan. Dalam rentetan kematian para syuhada (martir) peradaban, maka mekarlah kuncup harapan. Begitu pula dalam ikhtiar menggapai harapan, kematian seringkali menjadi bayarannya.

Jika merujuk ke Heraclitus harapan itu ibarat api, “dunia ini…dahulu, sekarang dan seterusnya adalah Api yang terus menyala, yang kadang berkobar dan kadang meredup”. Karena harapan itu juga diibaratkan api, maka demikian pula dengan hasrat yang seringkali diibaratkan kobaran api yang menjalar tak terkendali, membakar serta melahap yang berdekatan dengannya. Jangan-jangan nyala “api harapan” kita di setiap pergantian tahun bukanlah “api harapan” sepenuhnya, tapi mungkin kobaran “api hasrat” kita.

Lawan dari harapan sebenarnya bukanlah kematian tetapi “ketakutan”. Lalu “ketakutan” seperti apa ?, atau lebih tepatnya “ketakutan” terhadap apa ?. Pernahkah anda merasa sibuk seharian ?, tapi sebenarnya tidak sibuk apa-apa (tidak berkerja, tidak mencari uang), tapi anda merasa perlu sibuk dengan berkeliling kota atau pusat-pusat perbelanjaan, sibuk bergosip ria (offline maupun online). Dengan kata lain yang ditakutkan oleh orang-orang saat ini adalah “tidak melakukan apa-apa”, begitu pula saat-saat pergantian tahun baru, kita merasa cemas ataupun takut jika tak ada aktivitas sama sekali, maka muncullah meme “apakah ada acara malam ini ?”.

Kebudayaan kontemporer kita (khususnya di kota-kota besar) sangat kental akan apa yang kita sebut “aktivitas”; aktivitas yang berarti menjadi sibuk. Dr. John Pieris saat memberikan pengantar dalam buku Erich Fromm yang berjudul Revolusi Pengharapan (2007) pernah berkata “celakanya, banyak orang mengira diri mereka sangat sibuk, tetapi tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka itu sangat pasif. Mereka terus-menerus menumbuhkan rangsangan dari luar, menjadi buah bibir orang lain (publik mania), menonton TV atau film-film, bepergian dan hal-hal lain yang lebih merupakan kesenangan konsumtif, mereka selalu berlari tak pernah berhenti”.

Kenapa mereka tak pernah berhenti “berlari” (menyibukkan diri) ? karena “ ada dorongan untuk melakukan sesuatu keluar dari kecemasan yang mengepung saat mereka berhadapan diri sendiri” kata Dr. John Pieris. Bagi sebagian orang mungkin tampak sepele, tapi akan berimbas pada demokrasi kita. Ketidak mampuan kita dalam membedakan antara harapan dan hasrat banal, akan menciptakan semacam illiterasi kebudayaan, semacam situasi yang membuat kita asing (teralienasi) antara satu dengan lainnya walaupun kita sering berkumpul dan “jalan bareng”. Hubungan kita dengan sesama akan menjadi hubungan yang “imperatif hipotetik”, hubungan yang kurang lebih bersyarat (baik dalam hubungan politik, akademik, ekonomi bahkan pertemanan).

Terence bernah berkata “Homo sum, nil humani a me alienum puto” yang artinya “saya manusia dan tak ada manusia lain pun yang asing bagi saya”. Dengan lain maksud, keterasingan kita terhadap sesama, pada dasarnya diakibatkan oleh keterasingan yang lebih dalam, yaitu keterasingan terhadap diri (kemanusiaan) kita sendiri. Masyarakat dimana yang terdiri dari individu-individu yang terasing sedkit banyaknya adalah masyarakat yang sakit, dan masyarakat yang sakit adalah sarang bagi banalitas. Bila setiap orang menyadari kemanusiaan dalam dirinya maka tidak akan ada kejahatan di atas dunia ini, tidak ada lagi yang merasa dialah penguasa atas nasib manusia lain kata Goethe.

Dan masih “hangat” dalam ingatan kita, akan pertunjukan politik kleptokrasi, perampokan bersama-sama (dan ditutupi bersama-sama) atas uang rakyat, tersangka pun begitu pandai mengelak, bermain drama agar punya alasan untuk tak dikorek keterangan darinya. Tapi yang lebih aneh sebagian dari kita justru memaklumi, se akan-akan di pintu depan halaman demokrasi politik kita telah tertulis “the end of morality”. Mungkin bagi yang berpenghasilan menengah ke atas, peristiwa tersebut tak begitu memilukan hati, tapi bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin akan memandang hal tersebut sebagai “tikaman berkali-kali” terhadap harapan yang mereka rajut buat republik ini. Lalu ditambah para tokoh ormas yang hanya terampil meniup “bara” politik identitas tanpa memperlihatkan ikhtiar tulus untuk melakukan redistribusi nilai-nilai lebih sosial,politik dan ekonomi terutama kepada mereka yang miskin dan tak memiliki akses sama sekali.

Begitu gencar kita melakukan upacara-upacara, apel siaga, hari libur nasional pun bertambah dan tak lain dan tak bukan agar bisa menjadi sarana efektif untuk menyampaikan pesan politik ke rakyat, bahwa “republik” ini masih kuat menjadi tempat bergantungnya 250 juta lebih harapan. Tapi begitu gencar pula kita memangkas sedikit-demi sedikit harapan mereka. Dan apalah arti kemanusiaan mereka tanpa adanya harapan ?, “Ketika harapan lenyap, kehidupan berakhir, baik secara aktual maupun potensial. Harapan adalah elemen intrinsik struktur kehidupan manusia, elemen intrisik dinamika roh manusia” kata Erich Fromm.

Erich Fromm dalam Revolusi Pengharapan (2007) pernah bertanya, lalu apa artinya berharap ?. Erich Fromm menjelaskan harapan tidaklah identik dengan penantian pasif. Katanya, pengharapan itu bagaikan harimau yang sedang memasang kuda-kuda, yang akan merebut mangsanya jikalau momennya tepat. Baginya reformisme yang meletihkan (dalam bahasa saya “banalitas pragmatis politik”) ataupun avonturisme pseudo radikal (ekstrimisme yang digerakkan oleh para demagog) bukanlah pengharapan sejati. Berharap artinya bersikap terbuka, siap setiap saat menerima yang belum lahir, dan tak kecewa jikalau pengharapannya mengalami deviasi.

Untuk menutup essay sederhana ini, saya ingin mengutip langsung perkataan Erich Fromm dalam buku yang sama “tidak ada artinya mengharapkan yang sudah ada, atau yang tidak mungkin ada. Mereka yang memiliki pengharapan tidak akan duduk berpangku tangan, juga tidak lalu melakukan kekerasan. Mereka memiliki visi yang kuat dan menghargai semua tanda-tanda kehidupan baru, serta siap untuk membantu kehidupan baru yang siap lahir”. Lalu pertanyaan buat diri kita sebagai individu ataupun bangsa, “seberapa kuat visi kita ?”.