Ikhtiar Gerakan Mahasiswa dalam Membangun Bangsa untuk Kemanusiaan Universal

Abdul Gafur

Oleh: Abdul Gafur (Ketua DPD IMM Sulsel Bidang Hikmah, Politik dan Kebijakan Publik)

​“Tugas Seorang sarjana adalah berfikir dan mencipta yang baru. Mereka harus bisa lepas dari arus masyarakat yang kacau, tapi mereka tidak bisa lepas dari fungsi sosialnya, yakni bertindak jika keadaan mulai mendesak. Kaum intelelektual yang diam disaat keadaan mulai mendesak, telah melunturkan nilai kemanusiaaan” – Soe Hok Gie –

​A. Prawacana
​Kenyataan menunjukkan bahwa hari-hari ini pamor gerakan mahasiswa mengalami fluktuasi, bahkan bisa dikatakan semakin menurun jika yang menjadi perbandingan adalah gerakan mahasiswa prareformasi. Menurut Eko Prasetyo ternyata kita belum lepas dari masa lalu, kita dibesarkan oleh bayang-bayang Soeharto, sudah tidak ada lagi caci maki untuknya kini, bahkan sebagian rakyat bangga dengan prestasi ekonominya, dimasanya rakyat mengenang haru; uang sekolah murah, harga barang terjangkau, dan pekerjaan tersedia, itulah masa terbaik pembangunan yang tidak bisa dicapai oleh rezim saat ini (Prasetyo, 2015)

​Kalaupun gerakan mahasiswa masih ada yang terlihat dan mampu bertahan dikampus, mereka adalah sekolompok minoritas ditengah lautan mahasiswa yang semakin membanjiri kampus-kampus di hampir seluruh pelosok negeri, minoritas ini pun dikangkangi oleh lautan massa mahasiswa lebih doyan dengan gerakan “hedonis”, bahkan sepertinya mengarah menjadi gaya dan tren baru bagi yang menyandang predikat mahasiswa. Yang lebih menyedihkan dalam kritik Maulana Asfar Nurdin yang mepertanyakan bahwa betulkah gerakan mahasiswa untuk menyuarakan kepentingan rakyat , atau hanya sekedar komoditas untuk mencapai kepentingan sesaat, misalnya popularirtas dan amplop untuk pemuas birahi kita, lalu masih bisakah kita disebut menyuarakan jeritan rakyat melalui aksi (Nurdin, 2009), tentu tidak semua demikian, tetap ada gerakan yang berangkat dari idealism perjuangan itu sendiri.
​Memasuki abad millennial kondisi tersebut tentu tidak boleh kita diamkan, situasi demikian tidak boleh menjadi tradisi yang terus menerus dirawat, jika demikian tentu itu ancaman besar bagi bangsa ini, dimana masa depan bangsa Indonesia bertumpu pada generasi mahasiswa yang ada pada saat ini. Tantangan gerakan mahasiswa diabad digital memang telah berubah, hal demikan pulalah yang menyebabkan kelompok gerakan mahasiswa mengalami disorientasi, kelompok gerakan mahasiswa gagap menghadapi perubahan yang begitu cepat, sementara mereka terlena dengan historia dan kejayaan gerakan mahasiswa dimasa lalu, lebih celakanya alfa untuk menemukan jalan alternative dalam memajukan gerakan mahasiswa saat ini.
​Hal lain seperti disampaikan Bambang Eka Cahya Widodo dalam pengantar buku Millennial Voters bahwa generasi millennial memilki karakteristik tersendiri yang membedakannya dengan generasi-generasi sebelumnya, mereka akrab dengan teknologi komunikasi instan, generasi millennial hidup diera banjir informasi, yang berakibat pada goyahnya tatanan-tatanan social mapan yang selama ini diyakani oleh masyarakat, (Pahlevi Dkk, 2018), dalam gerakan mahasiswa hari ini pun tentu tidak lepas efek perubahan dari generasi yang disebut millennial saat ini.

​Sementara itu dalam dimensi social, penetrasi gaya hidup yang komsumeristik efek arus pasang globalisasi telah menjadikan gerakan mahasiswa cenderung kehilangan sensitivitas social, mahasiswa dan generasi muda terjebak pada gaya hidup yang hura-hura sehingga melupakan poin penting sebagai kelompok yang dianggap punya kepedulian social yang tinggi, jika demikian maka fungsi social of control yang sering dilabelkan pada mahasiswa akan memudar. Situasi ini terjadi karena menurut Eko Prasetyo teori-teori kritis tidak ditularkan, mahasiswa disajikan pendekatan yang lazim, hukum yang tunduk pada konstitusi dan ekonomi berhamba pada sistem pasar. (Prasetyo, 2015)
​Kisruh yang yang dihadapi itulah menjadi tugas dan tanggung jawab bagi kelompok mahasiswa yang masih bertahan sampai hari ini, ditengah tantangan yang memarjinalisasi peran-peran kelompok mahasiswa untuk menemukan jalan alternatif agar tetap memiliki peran dan sumbangsih terhadap pembangunan bangsa dan kemanusiaan.

​B. Ikhtiar Gerakan Mahasiswa dalam Membangun Bangsa untuk Kemanusiaan Universal

​Sejarah panjang doktrinasi dan euphoria gerakan mahasiswa yang diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi harus berubah haluan, kumpulan slogan dan mitos tentang aktivisme gerakan yang selalu digaungkan tidak boleh melenakan dan meninabobokan mahasiswa. Maulana Asfar Nurdin mangatakan segala sesuatu akan kehilangan ruh gerak yang dinamis, ketika sebuah kemapanan dipelihara dan berusaha dilanggengkan, tanpa menginginkan adanya perubahan, ketika gerak pembaharuan yang biasanya menginginkan pembukaan diri diri telah dipasung, maka pada titik itulah, sebenarnya kita telah memulai suatu fase kematian (Nurdin, 2009). Oleh karena itu, kelompok gerakan mahasiswa harus menemukan pola baru, jika tidak, maka itulah akhir cerita romatisme gerakan mahasiswa sebagai penentu masa depan peradaban.
​Abad millennium, zaman dimana kita hidup saat ini, mengahadirkan tantangan yang berbeda, percepatan teknologi dan informasi menyebabkan satuasi yang sangat dinamis, perubahan dapat terjadi dalam hitungan detik. Gerakan mahasiswa harus kembali ke jalur yang strategis dengan syarat keluar dari pola tradisionalis.
​Konsekuensi globalisasi adalah menjadikan setiap manusia sebagai warga Negara global, interaksi global telah menyebabkan runtuhnya sekat-sekat territorial dan pembatasan ruang dan waktu, meskipun Zuly Qodir melakukan kritik terhadap globalisasi yang menurutnya perdebatan tentang globalisasi sebenarnya dimulai dari perkembangan dunia yang mengarah pada adanya kolonialisme fisik dimana semangat beberapa Negara kaya dan besar untuk memperoleh bahan baku mentah dari Negara-negara kaya namun belakangan dimiskinkan, seperti Indonesia yang berada diwilayah asia tenggara (Qodir, 2009),

​Terlepas dari efek globalisasi dalam aspek ekonomi politik juga globalisasi globalisasi berdampak pada percepatan perubahan sebagaimana simon peres mengatakan kekuatan globalisasi sebagai pengalaman orang yang bangun pagi dan melihat segala sesuatu sudah berubah (Sani, 2011), artinya generasi muda dalam hal ini mahasiswa harus memiliki kemampuan adaptif terhadap perubahan. posisi gerakan mahasiswa pun harus keluar dari sekat primordial yang selama ini membelenggu. Gerakan tidak lagi berangkat dari kepentingan kelompok masing-masing, tetapi patologi social yang dihadapi harus didasari oleh pikiran untuk kemaslahatan peradaban.
​Namun, sebelum masuk dalam aspek tersebut ada yang perlu diperkuat pada setiap individu mahasiswa, terkhusus individu-individu mahasiswa yang bergabung dalam barisan organisasi-organisasi gerakan kemahasiswaan. Fakta memperlihatkan pada kita, bahwa peradaban manusia mengalami kemajuan luar biasa, terutama perkembangan teknologi dan informasi, namun kita juga harus jujur, pada aspek lain peradaban umat manusia mengalami krisis luar biasa bahkan makhluk yang bernama manusia terancam punah jika tidak segera keluar dari berbagai krisis yang dihadapinya.

​Seperti kajian Fritjof Capra bahwa pada awal abad kedua puluh, kita menemukan diri kita berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks yang multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan dan mata pencaharian, kualitas lingkungan dan hubungan sosial, ekonomi, teknologi dan politik. Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi – dimensi intelektual, moral dan spiritual, suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia, untuk pertama kalinya kita dihadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata dan semua bentuk kehidupan di planet ini (Capra, 2014)
​Oleh karena itu, saat ini, Indonesia sangat membutuhkan generasi muda yang memiliki kepribadian yang kuat dan moralitas tingi, dan tentunya tanpa menanggalkan nilai-nilai intelektualitas. Tiga aspek tersebut diatas adalah masalah serius yang dihadapi oleh generasi mahasiswa hari ini. Poin tersebut mutlak dibutuhkan sebagai jalan untuk membangun bangsa yang tidak hanya krisis dalam aspek fisik, tetapi mengalami dekadensi moral yang luar biasa.

​Sebagaimana dipesankan oleh Buya Ahmad Syafii Maarif dalam pengantar buku tri kompetensi dasar; peneguhan jatidiri kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah bahwa kerja intelektual adalah kerja seumur hidup, itupun tidak akan pernah tuntas dan memuaskan, ada saja yang kurang, ada saja yang tidak genap, yang pasti kerja intelektual memerlukan dosisi tinggi untuk terus berfikir dan berfikir terus dengan stamina spiritual yang prima, di lingkungan yang sedang membusuk secara spiritual intelektual, tingkat kesabaran itu perlu dinaikkan ke tingkat yang lebih atas tanpa bosan, kerja semacam ini jalas tidak mudah, tidak seperti kerja demonstrasi yang lantang berteriak, seorang intelektual idealnya adalah juga rumah kearifan, tempat orang bertanya mengenai masalah – masalah besar yang menyangkut kebanaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam arti yang luas (DPP IMM, 2007).

​Mahasiswa dalam hal ini adalah kelompok yang dipersiapkan untuk membangun peradaban bangsa kedepan harus mengasah sejak awal dan memperkuat kompetensi intelektualnya. Kampus dan organisasi gerakan mahasiswa menjadi pondasi yang sangat penting dalam mewujudkan nilai tersebut.
​Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai salah-satu gerakan mahasiswa yang ada di Indonesia tentu bertanggung jawab secara moral untuk mengkonstruksi kader-kader militan yang dibutuhkan peradaban hari ini. Secara konsepsi IMM telah memberikan satu gagasan penting dalam memperkokoh dan mempesiapkan generasi muda unggul untuk memajukan bangsa dimasa depan.

​Dalam tradisi gerakan IMM dikenal istilah Trilogi, yaitu penguatan dalam tiga dimensi intlektualitas, spiritualitas dan humanitas. Jika konsep tersebut mampu untuk diinterpretasi dalam diri setiap kader, maka cita-cita peradaban menuju kemanusiaan universal bisa kita wujudkan bersama. Trilogi jika dibagankan akan menyerupai bentuk piramida, dengan kompetensi intelektual dan kompetensi spiritual menjadi penopang kompetensi humanitas.

​Kerangka besar ini harus kita perkuat, karena hal ini akan menjadi ukuran seorang kader mampu menjalankan fungsi dalam berbagai aspek kehidupan, sebagai seorang mahasiswa tentu ruhnya adalah kualitas intelektual yang dimilikinya, karena dengan intelektualitas lah seorang mahasiswa mampu menjalankan fungsi kemahasiswaannya dengan baik, kritisime dan argumentasi terhadap fenomena sosial bisa dihidupkan dalam ruang publik jika ada intelektulitas, dengan demikian gerakan mahasiswa akan maju sesuai dengan perkembangan zaman.
​Oleh Rifma Ghulam Dz menggambarkan kalau Intelektual sering dilawankan dengan kebebalan, jika intelek berarti reflektif dan mencerahkan, maka kebebalan adalah sesuatu yang bersifat otoriter, tidak refletif dan tidak mendasarkan pada eksperimen. Kebebalan dicitrakan dalam novel Oblomov karya Ivan Alexandrovic Goncharov (1962) sebagai sesuatu yang melambangkan ketidaktahuan, kelesuan, acuh tak acuh, kemalasan dan kedangkalan (DPP IMM, 2007).

B​erangkat dari pemahaman tersebutlah kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiya harus digenjot untuk terus memgasah diri dan membekali diri untuk menjadi seorang intelektual, sekalipun Antonio Gramci (1997) mengatakan bahwa semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua orang dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual. Gramci membedakan dua jenis intelektual, yaitu: Pertama, intelektual Tradisional, yang representasinya ada pada mereka yang secara terus menerus melakukan hal hal yang sama dari generasi ke generasi. Kedua, inteketual organik, sosok personifikasi yang gigih dalam perenungannya, reflektif atas konteks historinya, dan revolusioner memperjuangkan manifest perenungannya bagi kaumnya (DPP IMM, 2007)

​Untuk membangkitakan semangat intektual inklusif dalam diri kader IMM maka menurut Abd. Rohim Ghazali, dibutuhkan tiga rumus untuk memperluas wawasan: Pertama, kajian – kajian kritis terhadap segala fenomena yang berkembang ditengah-tengah masyarakat, terutama yang menyangkut kehidupan beragama, disamping perkembangan politik, ekonomi dan pengaruh perkembangan teknologi bagi kelestraian lingkungan hidup dalam skala horizontal dan vertical. Kedua, mengupayakan terbentuknya sarana dan iklim yang kondusif bagi terbentuknya dan berkembangnya komunitas ilmiah dikalangan anggota. Ketiga, mengadakan gerakan sosial, sebagai bentuk aktualisasi dari bekal-bekal keilmuan yang telahn diserap baik dari kampus maupun dari lingkungan aktivitas gerakan IMM sendiri (DPP IMM, 2007)
​Dengan terus mengintenskan gerakan-gerakan inteletual pada setiap individu kader, sebagaimana konsep – konsep yang terjelaskan diatas, maka potensi gerakan mahasiswa yang yang dicitakan oleh IMM tidak akan mengalami stagnasi, akan tetapi akan terus bergerak secara progresif untuk merespon berbagai dinamika yang ada dilingkungannya.

​ Spiritualitas menjadi penyanggah selanjuntnya, konsekuensi IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam adalah menjadikan ajaran dan nilai dalam Islam sebagai pijakan untuk memperkuat moral dan integritas. Spiritualias menjadi kompetensi yang wajib dihidupkan dalam individu kader, mengingat krisis yang dialami oleh kehidupan bumi hari ini akibat berkembang pesatnya ilmu pengetahuan namun kering dalam aspek nilai moral dan integritas, baik terhadap kamanusiaan maupun alam semesta. Akan tetapi, persoalan yang muncul kemudian adalah seperti dijabarkan Saleh P. Daulay bahwa polarisasi islam di tengah – tengah masyarakat merupakan sebuah fenomena mutakhir yang sulit dielakkan, polarisasi yang terjadi biasanya merujuk pada cara pandang umat islam dalam mengiterpretasikan dalil – dalil yang terdapat didalam Al – Quran dan Hadits (DPP IMM, 2007).

​Dalam situasi yang demikian bagaimana posisi IMM, secara umum pertentangan dalil – dalil agama terdapat dua paham, kelompok pertama adalah kelompok yang memahami dalil secara tekstual, kelompok yang kedua adalah kelompok yang mencoba memahami dalil berdasarkan konteksnya. Yang menjadi pijakan tepat bagi IMM dalam hal gerakan spritualnya adalah doa Nabi Muhammad SAW. “hidupkanlah aku bersama orang – orang miskin, matikanlah aku bersama mereka dan bahagiankalah aku di surga bersama meraka” menurut Zakiyuddin Baidhawy doa nabi ini adalah sebentuk manifestasi yang menegaskan posisi untuk berpihak kepada orang – orang miskin secara serius, karena kebanyakan orang-orang melarat di tengah – tengah masyarakat luas atas nama Allah kini dan esok, di sinilah signifikansi kehadiran kader-kader IMM dengan religiusitas dan spiritualitas baru yang lebih berpihak dan membebaskan (DPP IMM, 2007).

​Dari pernyataan itu Nampak jelas posisi tepat IMM dalam membangun gerakan spiritualnya, focus gerakan spritualitas IMM adalah memaksimalkan pemahaman teks dalin Quran menjadi gerakan praksis dalam merespon implikasi-implikasi sosia, ekonomi dan politik.
​Konsekuensi yang kita yakini adalah apabila, kompetensi intelektual dan kompetensi spiritual dijiwai setiap individu kader IMM, maka dampaknya adalah termanifestasinya kompetensi humanitas. Kualitas Humanitas menjadi ukuran seorang kader dianggap memenuhi dua unsur sebelumnya. Tingginya nilai-nalai kemanusian sangat dipengaruhi seberapa baik dan kuat akan pemahaman intelektualitas dan spiritualitas yang dimiliki seorang kader.

​Seperti halnya uraian Buya Ahmad Syafii Maarif bahwa doktrin Islam dalam bentuknya yang sejati selalu mengaitkan keimanan dengan keesaan Allah dengan prinsip kesatuan umat manusia, Al Qur’an menegaskan “manusia adalah umat yang tunggal”. Akan tetapi dalam pengalaman sejarah, selalu saja ada kecendrungan sebagian umat manusia untuk menghancurkan perumahan kemanusiaannya (Maarif, 2018).

​Gagasan dan cita-cita besar tersebutlah yang terus diusahkan IMM dalam membangun dan memajukan gerakannya, itulah yang menjadi sumbangsih gerakan IMM dalam manjalankan tugas bernegara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana kecerdasan manusia Indonesia menjadi syarat bangsa ini maju dan disegani dunia. Jika demikian cita-cita lain dari bangsa ini adalah mewujudkan kemanusiaan universal yang adil dan berkadaban dapat tercapai.
​Karena kita ketahui bahwa hakikat dasar kemanusian, termasuk kemestian merupakan bagian dari sunnatullah (Madjid, 1995). IMM sebagai organisasi gerakan mahasiswa akan memformulasi gerakan mahasiswa umum dengan menggunakan pendekatan tri komtensi yang dimilkinya. Sehingga mampu keluar dari pola lama, dan mengahdirkan gerakan yang lebih nyata dan membangun peradaban kemanusiaan kita. Sebagai paragraf terakhir mengutip pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Haedar Nashir bahwa Muhammadiyah dalam melakukan gerakan pencerahan berikhtiar mengembangkan strategi dari revitalisasi (penguatan kembali) ke transformasi (perubahan dinamis) untuk melahirkan amal usaha dan aksi – aksi sosial kemasyarakatan yang memihak kaum dhua’fa dan mustadh’afin serta memperkuat civil society (masyarakat madani) bagi kemajuan dan kesejateraan bangsa (Nashir, 2019). IMM sebagai anak kandung dan organisasi otonom muhammadiyah tentu sejalan dengan Muhammadiyah dalam mengarungi peradaban menuju kahidupan yang menjadikan kemanusiaan sebagai puncak spiritualitas tertinggi.

​C. Penutup
​Krisis peradaban umat manusia hari ini harus segera dijawab, generasi muda, kelompok mahasiswa, sebagai pewaris masa depan dunia harus segera mempersiapkan diri, tantangan dan kompleksitas persoalan manusia modern hanya bisa diselesaikan, jika penduduk bumi meninggalkan segala bentuk sentiment sektoral yang potensial melahirkan konflik horizontal.
​Manusia modern hari, harus mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan sabagai pijakan bersama untuk keluar dari krisis multidimensional yang dihadapinya. IMM sebagai bagian dari penduduk dunia harus memulai, dengan memperkuat basisnya melalu triogoi gerakannya, untuk menjawab dan memajukan bangsa dan peradaban dunia.

​“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” -Pramoedya Ananta Toer-​