Iman yang Menubuh

ADVERTISEMENT

Oleh: Syahrul Alfaraby (Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah)

​KHITTAH.CO — Pakaian, baik cadar ataupun celana bukanlah penanda keimanan. Hal yang demikian pernah disampaikan oleh Menteri Agama RI dalam sebuah wawancara. Dari peryataan beliau, ada tendensi ideologis untuk menindaki mereka yang dianggap menyimpang dari patron kebangsaan dan kenegaraan yang pancasilais. Dan beberapa umat Islam pun geger. Ada yang marah, tersinggung, tapi juga biasa saja.
​Iman dengan demikian menjadi menarik didudukkan kembali. Apakah iman itu? Atau sejauh manakah iman harus menjadi bagian dari laku keseharian kita sebagai masyarakat beragama di Indonesia? Atau sejauh manakah sebenarnya iman mendefenisikan keberagamaan kita?
​Struktur esensial iman, menurut Toshihiko Izutsu, meliputi mengakuan dalam hati, mengakuan secara verbal, dan mengaktualkan dengan amal perbuatan. Manusia secara tubuh fisik adalah wadah ekspresif berlansungnya iman dan setiap aktualisasinya dalam kehidupan sehari – hari.

​Hari ini kita menyebutnya ‘amal perbuatan’. Sehingga bisa dikatakan, ukuran iman bisa ditakar dengan perangai dan segala tindak tanduk yang melahirkan sesuatu yang ‘positif’ dalam hidup.
​Manusia menjadi subjek sekaligus objek bagi iman itu sendiri. Dalam hadist nabi, misalnya, Jibril harus mengambil rupa manusia dalam meminta jawab perihal iman kepada sang rasul, hingga didapatkan jawab bahwa iman sebagai percaya kepada Tuhan, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan Dia, utusan-Nya dan hari kebangkitan. Dari dialog itu, iman juga mempunyai penanda spasi dan jarak. Ada sebuah ‘makam’ yang menuntun manusia untuk menaiki tangga ketuhanan. Iman dengan demikian adalah sebuah safari spiritual untuk sampai kepada Dia yang absolut.

​Iman yang Positif

​Sejarah mencatat bahwa pernah terjadi perseteruan pelik dan runyam perihal iman. Pertikaian itu terjadi sekitar abad pertengahan, dimulai dari aliran khawarij yang keluar dari pasukan Ali Bin Abi Thalib hingga Aliran As’ariyah dan Mu’tazila. Harun Nasution mencatat dalam bukunya Teologi Islam, bahwa persoalan tersebut menimbulkan perkembangan konseptual iman dan menginisiasi perkembangan pemikiran hingga lahir dan tumbuh pesatnya peradaban Islam.

​Iman dalam sejarah yang dinukil Nasution adalah relasi antara manusia versus Tuhan dan manusia versus manusia (kekuasaan). Relasi di sini melihat manusia hadir sebagai pelaku iman sekaligus menjadi tujuan iman itu sendiri dan tuhan. Manusia, dalam berhadapan dengan teks atau wahyu qur’an yang metafisik senantiasa menggunakan tubuh fisiknya. Sejak Adam as hingga akhir abad 21, manusia dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan yang metafisk selalu melibatkan tubuh yang biologis. Disana, ada suara yang mengucap syahadat, ada hati yang diliputi sabar dan taqwa, ada gerak tubuh yang merentang ritual salat, hingga amal perbuatan baik kepada diri sendiri ataupun sesama ciptaan. Iman dengan demikian adalah lingkaran laku yang senantiasa melibatkan tubuh fisik manusia untuk untuk segala perangai positif.

​Tidaklah seseorang dikatakan beriman jika dia masih menyakiti tetangganya atau saudaranya dengan kata – kata yang buruk. Pada zaman kiwari, dimana interaksi antar sesama begitu intens dan cepat, manusia bisa dengan mudahnya menciptakan laku kebencian dan permusuhan satu sama lain. Manusia akhirnya gagal dalam meraih iman yang damai, semacam iman yang positif. Iman yang mengantarkan pada kebaikan dan cinta kasih kepada sesama. Bukan iman yang membenci atau iman yang merusak semesta dan kemanusiaan.

​Iman Pasca Sapiens

​Apakah iman, lewat tubuh fana kemanusiaan, masih relevan diperbincangan, ketika doa dan segala ritus keagamaan telah berpindah dalam rumus – rumus algoritma dan dunia maya? Di Jepang misalnya, para rahib dan biksu telah diambil alih oleh robot atau mesin – mesin teknis teknologis.
​Pengajian di majelis taklim tidak lagi mengharuskan ibu – ibu hadir di sana, tetapi kehadiran itu telah berpindah ke dalam ‘siaran langsung’ via Handphone cerdas. Sedekah tak mengharuskan lagi kehadiran antara yang memberi dan menerima. Biarlah uang itu dikelola oleh mesin –mesin cerdas atau sistem yang lebih akurat. Iman dengan demikian telah mengalami transformasi. Iman yang melibatkan verbalisme, tubuh, dan kehadiran telah berpindah ke dalam perangkat – perangkat tekhnologis, layar datar, atau dunia digital.

​​Pertanyaan pelik kemudian muncul. Sejauh manakah manusia mendefenisikan iman mereka pada abad dimana sapiens atau manusia yang melibatkan tubuh biologis mereka telah tergantikan mesin – mesin dan perangkat cerdas?

Ketika seseorang ingin bercadar atau tidak, atau sekedar berucap selamat natal bagi sodara mereka yang berbeda keyakinan, atau secara diam – diam berhubungan baik dan saling bertukar relasi yang intens pada mereka yang berbeda keyakinan, kita dengan semena mena, memberi label tak beriman kepada mereka?
​(Begitu pendek pengetahuan, begitu mudah penghakiman, dan semua itu atas nama Tuhan).