IMM Gowa Unjuk Rasa di Dua Tempat, Ini Tuntutannya!

 

Aksi IMM Gowa di Fly Over, Jum’at (13/1/2017)

KHITTAH.CO- Puluhan mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan LMND Kabupaten Gowa yang tergabung dalam Aliansi Suara Pembela Rakyat (Super) menggelar aksi unjuk rasa di Fly Over Jl Urip Sumoharjo Makassar, pada Jum’at (13/1) sore. Mereka menggelar aksi dengan long March dari Kampus I UIN Alauddin, kemudian di Fly Over Urip Sumoharjo dan kampus UIN kembali.

Dalam aksinya, aliansi dua organisasi mahasiswa tersebut menyatakan sikap penolakannya terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2016 Tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dianggap mengekang dan Menguras kehidupan rakyat.

Ketua Cabang IMM Gowa, Abd Gani mengatakan aksi mereka untuk meminta presiden Jokowi sebagai kepala Negara agar cerdas dalam menawarkan solusi pengelolaan APBN, bukan mengorbankan rakyat miskin dengan menaikkan harga pajak, bbm dan lainnya.

“Jika pemerintah mampu mengelola BUMN dengan baik, maka itu cukup sebagai solusi untuk menutupi utang dan menambah pendapatan Negara. Nasionalisasi aset Negara adalah hal yang perlu dan yang harus dilakukan oleh pemerintah,” bebernya.

Aksi ini juga menuntut untuk di kembalikannya UUD Tahun 1945 Pasal 33 ayat 1 dan 2, bahwa cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara, bumi-air dan yang terkandung didalamnya untuk dipergunakan sebesar-besar demi kemakmuran rakyat.

Pernyataan sikap dari aksi tersebut dibacakan Jendral Lapangan, Muh Andi Aprianto. Adapun tuntutan mereka adalah menolak Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2016, menolak asing yang meraja lela di Indonesia, nasionalisasi aset Negara, serta penegakan UUD Tahun 1945 Pasal 33 ayat 1 dan 2.

Mereka juga mengultimatum, jika peraturan tersebut tidak dicabut dan aspirasi diabaikan, maka indikasi pemerintahan Jokowi-Jk katanya semakin jelas tidak pro rakyat dan lebih pro kepada asing dan aseng.

“Secara de jure Indonesia ini merdeka namun itu diatas kertas saja, secara de facto bangsa kita dikuasai oleh konglomerat, asing, kapitalis non pribumi yang sudah mencengkam kukunya sejak dulu. Tragis Tanah Air Merdeka ini. Rezim berganti rezim, pribumi hidupnya seperti itu saja, masih melarat dalam kemiskinan dengan leher tercekik oleh kebijakan seperti ini,” tutur salah seorang mahasiswa saat menyampaikan orasinya.