In-memoriam Khadijah Muhiddin Dg Kebo: Keteladan Perempuan Gowa yang Total Bermuhammadiyah

Khadijah Muhiddin Dg Kebo semasa hidup

Dalam buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah disebutkan bahwa dalam hal berorganisasi, seorang warga Muhammadiyah perlu selalu mengaktifkan berbagai kegiatan dan menghadiri acara yang dilakukan oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Sebab seluruh kegiatan yang dilakukan secara resmi oleh organisasi, sudah dimusyawarahkan dan dipertimbangkan dengan matang. Dimana hal itu salah satu adalah wujud upaya meraih tujuan Muhammadiyah.

Menghadiri kegiatan organisasi adalah bagian dari ibadah, syiar dan menanamkan ghirah keagamaan bagi seorang kader Muhammadiyah. Seperti halnya mengadakan pengajian rutin pimpinan, musyawarah maupun kegiatan syiar dakwah lainnya. Semua kegiatan itu adalah bagian penting dalam sebuah organisasi. Semakin banyak diadakan kegiatan, menunjukkan dinamika yang baik dan pertumbuhan organisasi.

Kegiatan apapun yang dilakukan oleh organisasi, perlu didukung dengan sepenuh hati dan penuh kegembiraan. Dalam menghadiri kegiatan tersebut, tidak mesti bagi seorang pimpinan. Seorang kader biasa yang bukan pimpinan, jika memang acara itu terbuka untuk seluruh warga Muhammadiyah, maka sudah wajar menghadirinya. Bahkan bila perlu membantu dengan apa saja yang dimiliki. Tenaga, harta maupun pemikiran.

Jika kegiatan tersebut, berada di tempat yang jauh, datang dengan biaya dan mengurus diri sendiri. Tidak membebankan kepada panitia atau pihak lain. Ketidakadaan biaya bukanlah penghalang bagi seorang kader untuk menghadiri kegiatan organisasi. Yang demikian inilah salah satu ciri khas bagi seorang kader tulen Muhammadiyah, termasuk kader dari Kabupaten Gowa.

Jika ada kader Muhammadiyah atau Aisyiyah yang berjiwa demikian, salah satunya adalah seorang perempuan dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Dra. Khadijah Muhiddin Daeng Kebo. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Semalam, dengan tenang, kader tulen ini, telah berpulang memenuhi panggilang Ilahi Rabbi. Beliau bukanlah seorang ketua atau top leader. Tetapi beliau merupakan sosok yang sangat lekat dan loyal terhadap kegiatan Muhammadiyah maupun ortomnya di “Jazirah Muhammadiyah”, Kabupaten Gowa.

Almahumah telah kembali kepada Sang Pencipta dengan tenang dalam usia sekitar 52 tahun. Meninggalkan seorang suami, Ustadz Arsyad Nyero, yang mengabdi sebagai pembina di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Wilayah Sulawresi Selatan Darul Arqam Gombara Makassar. Hadijah merupakan alumni pesantren tersebut pada awal tahun 1990-an. Beliau pernah pernah mengajar Bahasa Arab di SMP Muhammadiyah Limbung. Ayahnya, Ustadz Muhiddin, merupakan pendiri Muhammadiyah Pallangga. Lahir dari keluarga besar Muhammadiyah. Semua saudaranya aktif di organisasi otonom; IPM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyah, Aisyiyah, baik tingkat Cabang maupun Daerah.

Saya mulai mengenal almarhumah ketika mengikuti Taruna Melati II Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) di Kecamatan Pallangga Kabupaten Gowa sekitar tahun 1994. Saat itu saya menjadi peserta utusan dari Cabang Mamajang Kota Madya Ujung Pandang. Sedang almarhumah bersama dengan senior-senior IRM lainnya; Arifin Idris, Nasrun Hablon, Arifin Sul, Ustadz Ahmad Tawalla, bertindak sebagai tim instruktur atau pembawa materi. Sejak saat itu, saya sudah mulai kenal dengan almarhumah. Dalam perjalanannya beliau cukup familiar dengan saya. Bahkan beliau pernah memberikan gelar tradisional kepada saya, dengan sebutan “Daeng Siala”. Setiap kali bertemu, dia tidak pernah menyebut nama asliku, melainkan dengan gelaran tradisional tersebut.

Awalnya saya tidak begitu begitu senang dengan gelaran tersebut, karena saya bukan asli dari Kabupaten Gowa. Saya adalah perantau yang datang dari sebuah pedalaman di Kecamatan Sipirok Tapanuli Selatan Sumatra Utara. Saya pun memahami untuk mendapat gelar tradisional seperti itu, tentu memiliki syarat tertentu. Salah satu satunya adalah dengan cara menjadi bagian keluarga inti di Kabupaten Gowa.

Mengetahui melalui media sosial bahwa Daeng Kebo telah meninggal dunia kemarin, tentu saya termasuk yang berduka cita. Ingatan saya langsung tertuju kepada gelaran tradisional yang dia berikan “Daeng Siala”. Saya baru saja bertanya kepada seorang sahabat, Irwas Abdullah, apa artinya “Daeng Siala”. Beliau mengatakan bahwa “Daeng Siala” bermakna saling berhubungan/silaturahmi, orangnya sederhana dan penuh kehati-hatian. Sedangkan seorang sahabat lainnya, H. Syahrir Rajab, mengatakan bahwa “Daeng Siala” berarti orang yang tangguh mampu menghadapi tantangan kehidupan. Ternyata gelar yang diberikan kepada saya adalah sesuatu yang memiliki makna filosofis yang sangat penting.

Almarhumah Daeng Kebo, adalah sosok kader Muhammadiyah yang sangat loyal. Saya menjadi saksi beliau adalah orang yang baik dan berjiwa sosial, dan bisa menjadi model keteladanan berorganisasi. Dalam pengamatan saya selama hampir dua puluh lima tahun, beliau selalu mengikuti acara-acara besar Muhammadiyah, baik tingkat Kabupaten Gowa, Propinsi Sulawesi Selatan maupun secara nasional dalam Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah. Untuk muktamar, beliau sudah ikut sejak di Jakarta tahun 2000, Malang tahun 2005, Yogyakarta tahun 2010, muktamar di Makassar tahun 2015. Demikian pula muktamar yang diadakan organisasi Otonom Muhammadiyah yang dia ikuti yakni IRM dan Nasyiatul Aisyiyah.

Semua kegiatan yang beliau ikuti tentunya membutuhkan biaya yang cukup besar. Dan seluruh biaya itu menjadi tanggungan pribadinya. Meskipun demikian beliau selalu menghadirinya dengan penuh kegembiraan. Bagi kader Muhammadiyah, terdapat kebahagiaan tersendiri ketika bisa berpartisipasi langsung dalam kegiatan yang dilakukan oleh organisasi. Dimana kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh seorang kader yang benar-benar menjiwai hakikat bermuhammadiyah. Insya Allah, almarhumah husnul khatimah.

Wassalam
Haidir Fitra Siagian
Keiraville, NSW, Australia, 09 April 2021