Indoktrinasi Muhammadiyah

KHITTAH.CO, — Saat ini saya berada di Pondok Pesantren Muhammadiyah Hizbul Wathan, Desa Belapunranga, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa. Sekitar satu setengah jam dari Kota Makassar.

Pesantren yang secara resmi baru bergabung dengan Muhammadiyah sekitar dua tahun lalu ini merupakan wakaf dari seorang tokoh masyarakat terdiri dari tanah dan bangunannya, termasuk satu bangunan masjid dan lapangan helipad.

Sebagai pengurus Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan , saya menghadiri pertemuan dengan pengelola, Kepala sekolah dan guru. Membahas berbagai hal. Mulai dari kurikulum, pembinaan santri dan honor guru.

Keberadaan sekolah tersebut sangat penting bagi masyarakat. Jika tidak, anak mereka akan jauh ke kota untuk melanjutkan SLTA. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tugas negara menyediakan pendidikan bagi rakyatnya, telah terbantu oleh hadirnya pesantren tersebut.

Hal yang paling “menggembirakan” yang saya tangkap tadi adalah honor mengajar kader-kader Muhammadiyah. Jangan ditanya berapa jumlahnya. Mungkin lebih tinggi dari pendapatan tukang parkir.

Walaupun demikian, mereka tetap bertahan dan semangat. Mengapa? Karena mereka telah didoktrin sebagai kader yang siap mengabdi dengan jiwa dan raga. Untuk kebaikan bangsa dan mencerahkan umat.

Wassalam
Haidir Fitra Siagian
Belapunranga 19 Januari 2019 jelang Ashar