Ini Resensi Buku Baru Fajlurrahman Jurdi “Logika Hukum”

Penulis: Fajlurrahman Jurdi

Tebal: 204 hlm.
Penerbit: Penerbit Prenadamedia
Tahun Terbit: Juni 2017

Advertisement

“Jika A sama dengan A, maka tidak mungkin pada saat yang sama A sama dengan B”.

“Jika Pencurian adalah kejahatan, maka tidak mungkin Ia sekaligus Kebaikan”.

Hukum mengenal kontradiksi-kontradiksi. Jika Anda mencuri, maka ada hukum yang mengatur sanksi. Pemberi sanksinya adalah aparat penegak hukum. Lantas kontradiksi antara siapa dengan siapakah itu?. Bisa jadi kontradiksi antara “perbuatan si pencuri dengan Hukum yang melarang mencuri” atau kontradiksi antara “si pencuri dengan penegak hukum”. Yang pertama adalah kontradiksi “antara nilai dengan nilai”, sedangkan yang kedua adalah “kontradiksi antar subjek”.

Selain kontradiksi, logika juga mengenal deontologisme. Di dalamnya Anda disuruh memenuhi kewajiban-kewajiban. Misalnya: “sesuatu yang bersifat wajib, harus bisa dilaksanakan”. Artinya, jika tidak bisa dilaksanakan, maka tidak boleh diwajibkan. Dalam UU, kata “dilarang” merupakan kewajiban untuk tidak dikerjakan. “Setiap orang dilarang membunuh”. Perbuatan membunuh wajib tidak dilakukan, karena prinsipnya memang dapat ditinggalkan. Jika larangan tersebut dilanggar, maka biasanya ada sanksi. UU biasanya meletakkan bab Sanksi di bab akhir sebelum bab penutup. Berbeda dengan; “setiap orang dilarang makan nasi”. Itu kalimat yang tidak dapat dilaksanakan. Atau “setiap orang dilarang menerima upah dari hasil kerjanya terhadap perusahaan X.

Orang timur atau orang Indonesia harus makan nasi. Karena itu makanan pokok. Meskipun belum dapat dibuktikan bahwa karena tidak makan nasi menyebabkan kematian, tetapi bila tidak makan nasi sebagai kebutuhan pokok, maka daya tahan tubuh tidak kuat. Atau larangan menerima upah. Setiap orang yang telah bekerja berdasarkan ketentuan jam kerja dan perjanjian kerja, harus diberi upah berdasarkan kesepakatan atau menurut ketentuan upah minimum.

Ada banyak pembagian logika. Buku Logika Hukum ini membahas rumusan logika itu dalam penggunaan nya dalam hukum. Kadang-kadang lebih praktis. Misalnya penggunaan logika hukum dalam rumusan undang-undang. Penulis membahas tiga kata yang seringkali diperdebatkan, yakni: “dan”, “atau”, “dan/atau”. Pendekatan nya yang menggunakan instrumen filsafat membuat buku ini agak berbeda dengan buku-buku lain.

Buku ini terdiri atas tujuh (7) Bab yakni:
1. Pengertian Logika, Filsafat, Hukum, Filsafat Hukum.
2. Jenis-jenis Logika dan Penerapannya dalam Ilmu Hukum.
3. Epistemologi Hukum, Ontologi Hukum dan Aksiologi Hukum.
4. Logika Kumulatif, Logika Alternatif dan Logika Kumulatif-alternatif.
5. Eksistensi “Definisi” dan peran “Bahasa” dalam Logika Hukum.
6. Menulis Hukum Secara Logis
7. Menulis argumentasi Hukum yang Logis.

Buku ini juga disertai dengan Indeks yang memudahkan pembaca mencari istilah-istilah kunci.

Hal-hal yang juga tak terlupakan dan menjadi penting biasanya dalam perdebatan terutama sering digunakan dalam praktik hukum di pengadilan adalah menjawab pertanyaan: “apakah, bagaimanakah, mengapakah dan kemanakah”. Itu sebenarnya pertanyaan ilmiah dalam filsafat, kemudian disusun pendekatan-pendekatan logis untuk menjawabnya.

Seseorang yang berpikir logis harus mampu berpikir “rasional, radikal, konseptual, sistematik”. Buku ini membahas apa yang dimaksud dengan konstruk berpikir logis tersebut dengan cermat.

Perpaduan antara konten yang filosofis dengan penggunaan praktisnya menjadikan pembaca gampang memahami dan menelaah masalah-masalah hukum. Orang non hukum dapat menjadikan buku ini sebagai pegangan, mengingat isinya mengarahkan pembaca untuk dengan mudah memahami istilah-istilah dan prinsip-prinsip hukum.

Dapat digunakan oleh dosen, mahasiswa S1, S2 dan S3, serta para praktisi hukum, seperti Polisi, Jaksa, Hakim dan Advokat serta masyarakat umum.