IPM: Episentrum Pelajar Berkemajuan (1) : Beradaptasi dengan Kemajuan Zaman

ilustrasi

Oleh Agusliadi, Persembahan untuk milad ke–59 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). (18 Juli 1961–18 Juli 2020)

KHITTAH.CO – Ikatan Pelajar Muhammadiyah merupakan organisasi otonom Muhammadiyah. Sebuah organisasi kepemudaan yang mengedepankan dua hal utama yakni ke-Islam-an dan kemajuan dengan ruang lingkup gerakannya adalah pelajar.

Pelajar merupakan generasi muda, elemen penting yang memiliki posisi strategis untuk masa depan sebuah bangsa dan negara. Saya teringat ucapan John C. Maxwell yang menegaskan bahwa masa depan sebuah bangsa, tercermin dari sikap dan perilaku generasi mudanya. Bahkan satu aksioma dalam bukunya berjudul Sikap 101 ia mengatakan bahwa “Sikap awal kita terhadap sesuatu menentukan lebih dari apapun juga”

Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia, Prof. DR. S.C. Utami Munandar berujar bahwa “tantangan kita dalam pendidikan ialah menyiapkan anak untuk hidup dalam lingkungan millennium ke-3, bukan semata-mata dalam lingkungan saat ini. Bagaimana kita menyiapkan seseorang untuk hidup dalam lingkungan yang sebagian besar belum dikenal disebabkan oleh adanya akselerasi yang luar biasa dari perubahan-perubahan yang terjad”.

Dari hal tersebut, bisa dipahami bahwa generasi muda terutama pelajar memiliki elan vital demi kemajuan sebuah bangsa dan negara. Pemahaman yang dibutuhkan bukan hanya berhenti pada kesadaran urgensi, esensi dan eksistensi statis sosok generasi muda. Melainkan juga membutuhkan wadah pemikiran, tilikan filosofis atau paradigma yang mampu menerjemahkan realitas masa lalu, kekinian dan masa yang akan datang.

Memahami realitas kekinian bukan merupakan persoalan yang mudah, butuh seperangkat ilmu pengetahuan untuk memahaminya. Apalagi dalam situasi kehidupan hari ini yang hyper-connected, hiperrealitas, penuh dengan jarring-jaring makna dan kita sedang berada dalam belantara tanda-tanda/simbol-simbol. Sebagaimana dalam kisah pangeran kecil yang saya temukan dalam buku Hipersemiotika karya Yasraf Amir Piliang (2003).

Kisah pangeran kecil itu diculik oleh nenek sihir dan disembunyikan di sebuah menara tidak berpintu. Hanya memiliki jendela yang berterali besi. Singkat cerita sang pangeran kecil meminta pertolongan dengan memukulkan mahkotanya pada terali besi. Namun apa yang terjadi masyarakat sekitar hanya mendengar suara merdu hasil benturan mahkota dan terali. Sehingga terkesan realitas yang ditangkap oleh masyarakat adalah “keindahan/suara merdu”, padahal realitas sesungguhnya adalah seorang pangeran kecil sedang membutuhkan pertolongan.

Belum lagi jika kita berupaya melihat realitas pada masa yang akan datang, membutuhkan seperangkat pengetahuan yang bisa membantu ketajaman analisis dan proyeksi masa depan. Bahkan Rhenald Kasali menegaskan bahwa salah satu penyebab kegagalan dalam sebuah perubahan adalah failure to see (gagal melihat). Melihat di sini adalah melihat melalui mata batin bukan mata kepala. Jikat tidak, kita gagal memproyeksikan.

Minimal dengan argumentasi filosofis dan kausalistik di atas, saya akan mengatakan bahwa Ikatan Pelajar Muhammadiyah diharapkan dan saya bahkan memastikan menjadi episentrum (pusat) pelajar berkemajuan. IPM menjadi candradimuka untuk melahirkan pelajar –pelajar yang berkemajuan. Pelajar berkemajuan minimal sekali mampu menjawab kekhawatiran dan tantangan yang dirumuskan oleh Prof. Utami di atas.

Pelajar Berkemajuan akan mampu mempersiapkan dan memproyeksikan masa depannya yang lebih baik. Mampu menjadi suri teladan di tengah kondisi kehidupan generasi muda (terutama pelajar). Meminjam istilah Erich Fromm, pakar psikoanalisa kontemporer hal itu disebut nekrofili (memiliki kecenderungan bahkan kecintaan terhadap sesuatu yang tidak bermakna).

Kesimpulannya, IPM mampu bahkan telah menjadi episentrum pelajar berkemajuan. Bukan tanpa alasan, Muhammadiyah sebagai induk daripada IPM bahkan memandang dan hampir mensejajarkan antara sekolah (tentunya sekolah Muhammadiyah) dan IPM adalah wadah kaderisasi untuk menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

IPM memiliki paradigma yang cukup matang, senantiasa dievaluasi dan diperbarui berdasarkan pemahaman filosofis atas elaborasi daripada nilai-nilai perjuangan, tujuan dan hasil pembacaan realitas yang sedang dihadapi. IPM pernah memiliki paradigma dengan jargon 3 T (Tertib beribadah, Tertib belajar dan Tertib berorganisasi). Setelah itu paradigma “Gerakan Kritis Transformatif” dan kini IPM memiliki paradigma “Gerakan Pelajar Berkemajuan”.

IPM memiliki falsafah gerakan yang digunakan untuk memahami ruang lingkup, hakikat, dan realitas sosial yang menjadi locus (tempat) dan tempus (waktu) pergerakannya. IPM memiliki filsafat perkaderan untuk memahami secara ontologis, epistemologis dan aksiologis tentang apa substansi dari perkaderannya, seperangkat pengetahuan dan nalar apa yang harus diberikan kepada kader kadernya dan nilai apa yang harus dicapai.

IPM memiliki sistem perkaderan yang disebut SPI (Sistem Perkaderan IPM) yang terus dievaluasi dan mengalami perbaikan perbaikan berdasarkan kebutuhan dalam konteks perkembangan zaman yang dihadapi. IPM pernah memiliki SPI Biru, SPI Merah, SPI Hijau dan sekarang disebut SPI Kuning. SPI ini, saya memahaminya secara sederahana adalah seperangkat pengetahuan dan metodologi yang aplikatif (bisa diterapkan) dalam pelaksanaan perkaderan untuk menggembleng kader agar menjadi manusia yang diimpikan sebagaimana tujuan IPM itu sendiri.

IPM memiliki khittah perjuangan core value-nya adalah tauhid yang dijabarkan dalam prinsip-prinsip ketuhanan. Prinsip yang dimaksud yaitu: Kesatuan penciptaan (unityof creation); Kesatuan kemanusiaan (unity of mankind); Kesatuan pedomana hidup berdasarkan agama wahyu (unity of guidance); kesatuan tujuan hidup (unity of purose of life). Yang sebagaimana saya pahami dalam buku Azaki Khoiruddin (2015), implementasi tauhid ini ditafsirkan sebagai jalan menuju Pencerahaan, Pembebasan dan Kesemestaan/Universality.

IPM memiliki memiliki nila- nilai perjuangan berupa ketauhidan, keilmuan, kemandirian dan kekaderan dan kemanusiaan. Seperangkat dan sistem pengetahuan yang ada dalam IPM menegaskan dan mengukuhkan IPM sebagai episentrum pelajar berkemajuan. Pelajar yang mampu beradapatasi dengan dengan perkembangan zaman.

Pelajar pelajar berkemajuan yang berkecimpung dalam IPM diyakini memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan zaman. Pelajar yang mampu menginternalisasi (meresapi dan memahami) dan mengeksternalisasi (mengaplikasikan) etos dan teologi Al-Ashr yang menjadi spirit Muhammadiyah sebagai induknya dalam melintasi abad keduanya.

Teologi Al-Ashr, sebuah teologi dan etos yang dipahami oleh Muhammadiyah yang mengisyaratkan untuk tidak anti terhadap realitas yang ada, tidak anti dengan kemajuan –kemajuan yang ada. Kemajua itu dipandang sebagai peluang bukan rintangan. Apalagi IPM sendiri telah memahami bukan hanya sebatas aspek teoritis tetapi bagian daripada paradigma berpikir konsep appreciative inquiry. Konsep ini pun menjadi bagian yang memperkuat metodologi dalam SPI yang dimiliki IPM.

Dengan Appreciative Inquiry (AI), IPM mampu merubah pola pikir kader-kadernya agar mengedepankan sikap apresiatif, sikap afirmatif bukan sikap defesit yang cenderung berpikir negatif, pesimis. Dengan AI senantiasa menangkap peluang-peluang hal positif, potensi kebaikan dalam setiap realitas kehidupan.  Dengan AI dan Teologo Al-Ashr IPM mampu beradaptasi dalam setiap perkembangan zaman, apalagi ditopang dengan kosmopolitanismeIslam yang dimilikinya.