IPM Kampusku, IPMawan Titelku

ADVERTISEMENT

 

Agusliadi

Oleh: Agusliadi

KHITTAH.CO – Tulisan ini sebagai kado Milad ke-59 Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ⸻ 18 Juli 1961 – 18 Juli 2020 ⸻ sebagai refleksi atas pergumulan dan pergulatan dinamika yang saya alami di Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Judul di atas menganalogikan IPM adalah sebagai kampus, yang dalam hal ini saya memaknainya ibarat perguruan tinggi tempat menuntut ilmu bagi seorang mahasiswa dan setelah selesai, menyandang titel sesuai jurusan atau keilmuannya.

Berbeda dengan kader lainnya, saya merasa bahwa kampusku, kampus satu satunya dan utama bagi diri ini, tempat menuntut ilmu dan merasakan dinamika dan dialektika intelektual yang luar biasa adalah IPM. Meskipun secara harfiah IPM bukanlah perguruan tinggi seperti pemahaman yang sesungguhnya.

Namun secara analogis saya merasakan bahwa apa yang dirasakan oleh seorang Mahasiswa di kampus/perguruan tinggi, itupun yang saya rasakan di IPM. Dan bahkan saya merasakan bahwa dinamika intelektual yang saya rasakan di IPM jika dibandingkan segelintir oknum mahasiswa ⸻ karena terlalu berlebihan jika saya menggeneralisir untuk semuanya ⸻ lebih terasa daripada mereka.

Untuk sekedar diketahui, bahwa sesungguhnya saya bukan sarjana/ Strata Satu (S1). Saya tidak pernah kuliah secara optimal sebagaimana mahasiswa lainnya. Meskipun demikian, nama saya pernah tercatat dan menikmati proses di bangku kuliah pada tiga perguruan tinggi negeri dan swasta. Dua di antaranya gagal ⸻ karena keterbatasan ekonomi ⸻ dan satu berhasil menyelesaikan Diploma Dua (D2), meskipun tentunya dalam hal dialektika keilmuan masih jauh dari harapan besar saya.

Dua kampus di mana saya gagal menyelesaikan studi, yaitu Univesitas Muhammadiyah Makassar, kelas jauh Banteang, jurusan PGSD untuk Diploma 2 (D2) ⸻ hanya sampai semester 2 ⸻ dan Universitas Hasanuddin, Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) untuk Diploma 3 (D3) ⸻ hanya sampai semester 3.

Dari ketiganya, yang sempat selesai meskipun terkesan saya belum memanfaatkan maksimal ilmu yang menjadi inti keahliannya tersebut adalah di Univesitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) Jurusan Instruktur Baca Tulis Al-Qur’an (IBTQ) Diploma 2 Program kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan pusat perkuliahannya di Kantor Bupati Kabupaten Banteang.

Anehnya, saya merasakan betul ini adalah hasil dialetika intelektual dan keilmuan yang luar biasa di kampus IPM. Seringkali ketika saya diajak/diundang berbagi ilmu/menjadi narasumber, dibelakang nama saya selalu dilekatkan titel yang menunjukkan bahwa saya seorang sarjana ⸻ terkadang ditulis Agusliadi, S.Ag., Agusliadi, S.Pd., Agusliadi, S.Pd.I., Agusliadi, S.Sos., Agusliadi, SE.

Padahal titel saya yang mengantarkan saya bisa tampil di berbagai forum untuk berbagi ilmu adalah IPMawan ⸻ tepatnya IRMawan karena pada saat saya bergelut di Ikatan Pelajar Muhammadiyah masih sedang bernama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM). Pimpinan dan kadernya yang laki –laki disebut IRMawan (sekarang IPMawan) dan bagi yang perempuan disebut IRMawati (sekarang IPMawati) kemudian diikuti nama masing –masing.

Jadi jika konsisten dengan nikmat ilmu yang saya dapatkan di Ikatan Remaja Muhammadiyah maka titel yang ditulis depan nama saya adalah “IRMawan Agusliadi atau IPMawan Agusliadi. Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan pada saat itu bernama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) saya mengenalnya dan pertama kali memasuki “kampusnya” pada tahun 2001. Saya ikut perkaderan yang dilaksanakan atas kerjasama gabungan beberapa sekolah SMA/SMK/MA dan IRM Kab. Bantaeng.

Dikader atau mengikuti perkaderan selama 6 hari, dengan kesan dan gemblengan ilmu pengetahuan yang berbasis intelektual, emosional, spiritualitas dan religiusitas yang luar biasa. Apa yang saya dapatkan di forum perkaderan tidak pernah saya dapatkan di bangku sekolah formal. Kesan yang paling pertama yang menunjukkan bahwa IRM (sekarang IPM) adalah organisasi kepemudaan (OKP) yang luar biasa adalah pada saat pembukaan perkaderan.

Kepala SMK Negeri 1 Bantaeng, yang memberikan sambutan pada saat itu kaget dan mengagumi  IRM hanya karena membaca tema yang dibuat oleh panitia. Kepala SMK seakan-tidak percaya jika tema tersebut dibuat/disusun oleh Pimpinan IRM yang masih berstatus seorang pelajar SMA. Dalam penilaian Kepala SMK tema ini hanya mampu disusun/dibuat oleh seseorang yang keilmuannya minimal sudah sarjana. Kekaguman ini disampaikan dan disaksikan oleh peserta dan guru –guru yang ikut serta dalam pembukaan.

Selain materi –materi dalam forum perkaderan yang memantik kesadaran intelektualitas, emosional, spiritualitas dan religiusitas yang luar biasa, pada saat itu juga saya terkesan dengan sebuah jargon yaitu “Me-Madinah-kan hati, men-Jerman-kan otak dan men-Jepang-kan tangan.”

Meskipun pada saat itu saya dan kami tidak langsung memahami secara mendalam maksudnya, namun seiring perjalanan dialektika keilmuan melalui follow up rutin dari perkaderan tersebut, saya mengerti maksud daripada jargon tersebut. Mensucikan hati, menjernihkan dan meluaskan cakrawala intelektual untuk menjadi cerdas sebagaimana kecerdasan orang –orang Jerman dan kerja keras, belajar keras seperti spirit orang –orang Jepang.

(Bersambung: IPM Kampusku IPMawan Titelku (Bagian 2))

Penulis: Agusliadi, Mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah Bantaeng dan Komisioner KPU Kabupateb Bantaeng