Islam, Dialektika, Kemajuan (?)

Hamzah Fanzhury

Oleh: Hamzah Fanshury

Fasilitator IRM/IPM dan Alumni S2 PPs UIN Alauddin Makassar

Hadjid, pada risalah yang ditulisnya dalam rangka mengabadikan falsafah ajaran gurunya, menjelaskan keheranan Dahlan terhadap sikap kaum beragama, atau juga yang tidak menganut agama tertentu, yang seperti menatap di bawah kubah tempurung, dalam bayang-bayang cakrawala yang sempit, mereka hanya melihat batok ‘kebenaran’ yang melingkupinya. Melalui eksplanasi Hadjid, kerisauan Dahlan terhadap situasi truth claim tersebut dapat disimak:

Advertisement

“Sebagaimana orang Yahudi yang menganggap bahwa dirinya akan bahagia, selain orang Yahudi akan sengsara. Begitu juga orang Kisten menganggap bahwa hanya golongannya yang akan bahagia mendapat surga, lainnya akan sengsara.”

“Begitulah anggapan tiap-tiap golongan agama, sebagaimana golongan Majusi, golongan Shabiah dan lain-lainnya lagi. Mereka mempunyai anggapan sendiri hanya golongannya saja yang akan  selamat, lainnya sengsara. Golongan Islam juga menetapkan demikian. Hanya golongan Islam yang selamat dari api neraka, selain golongan Islam akan sengsara” (K.R.H. Hajid, Falsafah Ajaran K.H. ahmad Dahlan, h. 10).

Melalui catatan Hadjid pula, dapat diresepsi peringatan Dahlan tentang bahaya perilaku repetisi dalam tradisi keberagamaan, sesuatu yang dalam bahasa kontemporer disebut sebagai konservatisme; sikap taklid terhadap warisan historis.

Praktik repitisi kultural tanpa pengetahuan dalam keberagamaan ini, pada stadium yang akut akan bergerak menjadi eksklusifisme. Dahlan menggambarkan eksklusifisme sebagai tabiat tertutup terhadap perubahan:

“Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun, sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian jadi biasa. Kalau  sudah menjadi kesenangan yang dicintai, maka kebiasaan yang dicintai itu sukar untuk dirobah. Sudah menjadi tabiat, bahwa kebanyakan manusia membela adat kebiasaan yang telah diterima, baik dari sudut keyakinan atau i’tiqad, perasaan kehendak maupun amal perbuatan. Kalau ada yang akan merobah, sanggup membela dengan mengorbankan jiwa raga. Demikian  itu karena anggapannya bahwa apa yang dimiliki adalah benar” (Ibid, h. 2).

Konservatisme menjadi bahaya dalam modus keberagamaan ketika mengelak dari transformasi diri dengan mengajukan berbagai-bagai dalih, bukan dalil, untuk mengelak dari seruan argumentasi yang datang dari luar dirinya.

Dahlan, sebagai bentuk kritik terhadap konservatisme ini, menyatakan perlunya setiap pencari kebenaran untuk mengembangkan keberanian dialog yang dialektis. Dahlan menyampaikan pandangannya tentang perlunya keberanian mengembangkan dialog yang dialektis tersebut dengan analogi yang menarik:

Orang yang mencari barang yang hak itu perumpamaannya demikian : Seumpama ada pertemuan antara orang Islam dan orang Kristen, yang beragama Islam meembawa Kitab Suci Al-Qur’an dan yang beragama Kristen membawa Kitab Bybel (Perjanjian Lama dan Baru), kemudian kedua Kitab Suci itu diletakkan di atas meja.

Kemudian kedua orang tadi mengosongkan hatinya kembali kosong sebagaimana asal manusia tidak berkeyakinan apapun. Seterusnya bersama-sama mencari kebenaran, mencari tanda bukti yang menunjukkan kebenaran. Lagi pula pembicaraanya dengan baik-baik, tidak ada kata kalah dan menang.

Begitu seterusnya. Demikianlah kalau memang semua itu membutuhkan barang yang hak. Akan tetapi sebagian besar dari para manusia hanya anggap-anggapan saja, diputuskan sendiri. Mana kebiasaan yang dimilikinya dianggap benar dan menolak mentah-mentah terhadap lainnya yang betentangan dengan miliknya (Ibid, h. 13).

Secara lugas analogi Dahlan menunjukkan betapa perlunya sikap terbuka dan keberanian mendialogkan sesuatu yang disebut [sebagai] kebenaran. Ia juga mengingatkan supaya; “djangan tergesa-gesa, haroes terang dan faham pada sekalian barang jang diterima ataoe jang ditolak dan djangan dengan paksa”.

Pada alam pikiran yang menghargai keterbukaanlah kebenaran dapat diperiksa secara bersama-sama, diperiksa dari berbagai-bagai sudut argumentasi tanpa prentensi untuk menang-menangan; “…..bersama-sama mencari kebenaran….. dengan baik-baik, tidak ada kata kalah dan menang”, dalam bahasa Dahlan.

Pada dialektika inilah sesungguhnya dapat ditemukan ‘jalan baru’ pandangan keagamaan yang lebih lapang terhadap kebinekaan.  Sesungguhya Dahlan sedang menawarkan moda keberagamaan yang kritis-progresif, atau dalam terminologi resmi persyarikatan Muhammadiyah, sebuah Islam yang berkemadjoean.