Islam, Politik Identitas, Seks, dan Kuasa

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) Institut Pemikiran Pasca-Filsafat/ Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

KHITTAH.CO- Kita tidak perlu mengeja ulang untuk mengetahui bahwa Islam sebagai agama formal, doktrin atau prinsip kebaikan dan ilmu pengetahuan yang semakin banyak menggantikan moralitas. Sudah bukan rahasia lagi, pengetahuan mendasar tentang Islam adalah agama fitrah, selanjutnya dinisbahkan nilainya dalam pemikiran modern sebagai agama yang menjunjung “harkat martabat kemanusiaan universal” dengan pandangan dunia ‘tauhid’.  Setelah hilangnya fungsi kritik dan kemanusiaan dari kekuatan agama (termasuk Islam) sebagai “dogma telah dirusak oleh keragaman itu sendiri”. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa lagi dikatakan atau dipikirkan oleh seorang umat atau bahkan seorang rahib, pendeta, biksu, dan kiyai.

Hal-hal ini khusus untuk meningkatkan kualitas penghayatan agama, sehingga diperlukan cara berpikir maju dari para uskup, rohaniawan atau ulama tertentu untuk melakukan pembaharuan pemikiran keagamaan sesuai perkembangan zaman, diantaranya visi dan peran kemanusiaan dalam era revolusi teknologi informasi, revolusi genetika dan revolusi seksual. Sudah tentu prasyarat ini diharapkan bagi umat Islam agar cara-cara berpikirnya tidak menjadi “milik masa lalu”.

Dengan demikian, ajaran Islam sebagai kekuatan moral selama kritik radikal dan kemanusiaan dapat berfungsi kembali, juga berada secara fungsional pada jalan menuju pandangan lebih terbuka akan keragaman suku, agama dan etnis menjadi identitas yang perlu menjadi arus kesadaran tentang pentingnya ketahanan dengan realitas kebangsaan, Keindonesian dan keagamaan. Sebagaimana kita fahami, bahwa permasalahan umat Islam Indonesia begitu kompleks dan sistematis, sekalipun “surplus dalam angka”, tetapi “defisit dalam politik-kuasa” sehingga berdampak pada proses peminggiran umat secara psikis, ekonomi dan sosial.

Saya melihat, ada dua model gerakan Islam Indonesia mutakhir: yaitu (1) Model gerakan “Islam Survival”. Model gerakan Islam tersebut masih terbuka dengan tidak memandang latar belakang pendidikan (kaum terpelajar atau awam, progresif atau reaksional) dan lintas identitas kelompok, lembaga atau organisasi yang mencoba untuk membangun gerakan “oposisional-teologis”, seperti keimanan Islam berkata, “yang anda kebiri adalah diriku, aku menanggapi bagi kemuliaan agamaku”. Model gerakan “Islam Suvival” lebih mengedepankan perjuangan umat Islam untuk dapat bertahan hidup lama di bumi Indonesia betapapun beratnya tantangannya.

Dalam “Islam Survival” beririsan dengan politik identitas. Logika identitas berkata, “yang anda cibiri adalah diriku, aku menjawab bagi tujuan pluralis-keragamanku”. Ia adalah identitasku dan tujuanku. Model gerakan Islam Survival begitu dekat dengan gerakan Islam ideologis-politik. Kebenaran baginya adalah kebenaran akan keragaman, tetapi masih dalam kecenderungan “oposisi duaan”: “Kita” dan “Mereka”, “orang Dalam” dan “orang Luar”, “anti” dan “pro” Kebinekaan-Pluralisme, “anti” dan “pro” NKRI. Kebenaran sendiri tidak berada di luar kritisisme atau menjadi milik mutlak dari agama (Islam sebagai agama pembebasan atas ketidakadilan, eksploitasi atau tirani). Kritik haruslah kritik dari kebenaran Islam, dari kuasa itu sendiri, sekalipun ia dibelokkan dan dibuang.

(2) Model gerakan “Islam Libidinal”. Dalam model gerakan Islam tersebut tidak hanya bersifat terbuka, tetapi juga “membirahikan”, “melepaskan”, “menseksualkan”, dan “memancarkan” energi yang tidak terpikirkan. Menurut gerakan Islam tersebut, bahwa bentuk gerakan protes, kebebasan berekpresi, berbicara dan berserikata hingga menjadi gerakan ideologi-politik lebih didorong oleh “libido”, “fantasi” dan “kenikmatan politik”. Kebenaran “seks” bagi “kaum intelektual-libidinal” meletakkan “orang-orang pinggiran” sebagai “tanda sosial-kemanusiaan”, bukan simbol-ideologis. Suatu hal menarik, yaitu kekuatan politik identitas kemahasiswaan dan seks “emak-emak” dalam logikanya sendiri.

Berkat konstitusi negara yang menjamin, kebebasan berbicara, berekspresi dan berserikat, maka pertukaran simbolik terjadi dari “gerakan oposisional” ke “gerakan libidinal” ditandai oleh fantasi, imajinasi dan kenikmatan sebagai motif-dorongan gerakan ideologi-politik seperti fenomena Reuni 212 (orang-orang atau kelompok massa bergerak atau berjalan puluhan bahkan ratusan kilometer dari satu tempat ke tempat tujuan dengan ongkos sendiri ditambah bantuan pihak lain).

Jadi, bukan titik permasalahan bahwa Keindonesiaan dan keagamaan bukan lagi rival melainkan sekutu identitas. Kini, Islam dengan pengakuan akan keragaman identitas yang lainnya, tetapi umat Islam perlu melihat politik tidak lagi sebagai komoditas, tetapi pergerakan ‘tanda yang satu ke tanda yang lain’, dari “Wujud Agung” (Supreme Being) ke “Wujud Seksual” (Sexual Being) dalam perjuangan politik Islam. Jadi, bukan masalah politik identitas apalagi agama, melainkan hasrat dan kenikmatan akan pemenuhan keadilan sosial dan ekonomi (al-adl). Sekali lagi, kita masih berada dalam relasi antara “Islam”, “politik identitas”, “seks”, dan dorongan hasrat untuk “kuasa” dengan visi, cita-cita dan tujuan kemanusiaan dan keadilan akan membuat orang terpikat padanya. Ataukah ilusi? Memang betul, satu Islam, tetapi umat Islam banyak wajah (dalam kesejarahan).

Dalam model gerakan “Islam Libidinal”, bahwa kelahiran kelompok jihadis dan kelompok ideologis-politik lainnya akibat dari (i) ketidakmampuan untuk “merangsang dirinya” dalam menghadapi kecepatan perubahan zaman-tantangan modernitas. Kata lain, kelompok ideologi-politik muncul akibat ketidakmampuan umat Islam untuk mengatasi atau menuntaskan permasalahan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan yang jurangnya menganga lebar. Permasalahan dunia Islam tidak bisa diselesaikan dengan cara pembelaan atas “Logo-Simbol” tertentu; (ii) akibat dari hal sebelumnya, umat Islam memiliki kecenderungan lebih terpikat pada sesuatu yang verbal dan sesaat setidak-tidaknya di tengah “2 (dua) bentuk kemiskinan” melanda dunia Islam hingga di era Milenium Ketiga, yaitu: (i) Sains-teknologi/Intelektual; dan (ii) Ekonomi. Akankah kedua masalah besar atau pekerjaan rumah jangka panjang dapat dituntaskan oleh dunia Islam?