Jalan, Kereta Api dan “Sama Rata – Sama Rasa”

Oleh : Idham Malik

Dr. Jan Willem Ijzermen, seorang insinyur utama Jawatan Kereta Api Belanda, pada 13 Februari 1891, menyusuri hutan dari pinggiran Padang Panjang menuju Siak, Sumatera Barat, untuk memastikan bahwa terdapat jalur – jalur yang cocok untuk dijadikan arena meliuk – liuknya gerbong kereta api pertama di Sumatera.

Dalam Buku Rudolf Mrazek, yang berjudul Engineers of Happy Land, dalam satu babnya tentang infrastruktur dan teknologi, Ijzermen merasai hutan dengan penuh jumawa, dengan revolver di tangannya, ia membayangkan perjalanannya ibarat kisah Mr. Potter, “What a man without a revolver in Texas?

Budak – budak mengangkat persediaan beras selama 14 hari, Ia pun melangkahi hutan yang saat itu dirasanya begitu jinak. Ijzerman hanya menemukan jejak – jejak kaki badak, kaki harimau, kaki babi hutan. Ia tak menemukan kesulitan, timnya dapat dengan mudah tidur beralaskan tanah, tanpa diganggu oleh serangga, lipan, maupun suara – suara monyet yang ribut.

Ijzerman berjalan, mengukur, menakar, menghitung, dan mencoba menguasai alam dengan nalar matematisnya. Dengan logika bertujuan itu, dengan kekuatan pengetahuan – tehnikhkrach, ia mendorong hal baru bagi negeri zamrud ini.

Di Jawa, Lokomotif pertama di bangun pada 1882 dari Semarang ke Kedoe, 25 tahun setelah dicanangkan oleh Willem I, Raja Nederland. Kereta ini membawa semangat, di samping semangat jalanan, yang telah disorong oleh Daendels, dengan Anyer – Panarukan-nya. Meski juga membawa penderitaan bagi para babu – babu pribumi, yang dipaksa mengangkat besi, menggali, membom bentang alam.

Saat Kartini pertama kali naik term, ia seperti menyesal tidak dilahirkan sebagai laki – laki. Yang dapat bekerja sebagai insinyur. Melahirkan mesin – mesin.

Kereta api ini melahirkan disparitas, pembagian manusia berdasarkan ras dan harta. Kaum Boemiputera duduk berdesakan di kelas 3. Sedangkan para Noni dan Toean – toean Belanda duduk dengan kursi yang empuk di kelas 1.

Tapi, di kelas 3 itu, banyak diantara penumpangnya adalah para santri, orang – orang pergerakan, kaum – kaum radikal. Sejak adanya term, mereka lalu lalang di antara kota – kota, melakukan konsolidasi, melakukan penghasutan.

Pada Jawatan Kereta Api itu, dengan massa buruh kereta yang banyak, Semaun dan Darsono mendorong semangat pribumi. Sarekat Islam di Semarang menjadi merah. Tiba – tiba massa mengenal kata revolusi, mengenal kata Sama Rata Sama Rasa. Sejak saat itu, kehidupan pribumi menjadi lain. Rel kereta api, mesin – mesin, bertautan dengan kata pergerakan, kata massa, kata revolusi.

Muncullah aksi – aksi massa, hingga tahun 1926, para buruh mogok dan melakukan aksi Tabrakanspoor. Akhirnya, para penggerak, yang kebanyakan toean – toean komunis dibuang Boven Digul, Papua.

Sedangkan di bentang alam yang lain, terdapat jalanan aspal, yang lurus dan bersih. Mobil – mobil hadir, Londo – londo dengan asyik berjalan di jalan – jalan utama, dengan kecepatan 60 Km/jam. Sedangkan orang – orang Jawa banyak yang melintas di jalanan, kadang di pinggir, kadang di tengah. Mereka selalu membuat bingung para pengendara. Kecelakaan sering terjadi, sebab pengendara mobil atau motor berhadapan dengan pejalan kaki yang bingoeng.

Di jalanan ada Tillema, sebagai perintis, seperti Kartini, ia membawa semangat kemajuan, dan juga kebersihan. Ia tak sabar dengan jalan – jalan Daendles. Ia tak tahan dengan tahi – tahi manusia, tahi ternak di jalanan. Katanya, tahi itu terkena panas, hancur, menjadi debu, dan debu – debu itu terbang masuk ke dalam rumah – rumah warga.

Sebagai ahli Farmasi, di awal – awal abad 19, ia berharap jalan – jalan itu disembuhkan, dari kuman – kuman. Makanya, para jongos membawa galon air mencuci jalanan. Menjadi lebih klinis.

Di jalan – jalan ini terjadi orkestra, ada mobil, ada sepeda, ada motor, dan ada Dellman. Dan, gara – gara Dellman ini, yang ditemukan oleh C. Deleeman, para petani dapat menghemat waktu dan tenaga dalam mengangkat hasil pertaniannya, dari kebun di pedalaman jawa, ke kota – kota pesisir di dekat pantai utara Jawa.

Jalanan yang lurus itu, berasosiasi dengan bahasa melayu pasar, yang bersih. Bercampur aduk – gado gado. Bagaimana tidak, supir – supir mobil membentuk persatoean, dan untuk mengikat itu terbitlah “Sopir”, sebuah buletin, yang berbagasa melayu, yang bukan tinggi, tapi oblok – oblok. Para supir membaca itu secara seksama, untuk lebih memahami bagaimana mobil bekerja, jenis – jenis kendaraan, masalah – masalah mobil dan cara pengobatannya. Sopir merupakan pekerjaan yang bergensi di awal – awal, lalu merosot menjadi profesi rendahan.

Setiap orang bertemu, walau tak saling kenal, dengan beragam ras dan asal usul. Bahasa pasar itu pun menjadi bahasa pergerakan, bahasa yang bisa diterima secara bersama, seperti aspal yang panjang dan gersang. Lahirnya teknologi, mesin – mesin pun menambah kosakata dalam bahasa melayu, yang bercampur aduk, dan tidak menimbulkan rasa adem yang basah. Rasa bahasa berbau aspal, keras, dan kasar, tapi lucu.Seperti Spoor tabrakan yang berarti pemogokan.

**
Aspal mendorong bahasa Melayu menjadi lingua franca pergerakan Indonesia. Sama halnya dengan Term, yang mendorong nasionalisme. Sama rata sama rasa.

Bagaimana kah Kereta api dan Jalanan di masa Kabinet kerja hari ini? Apakah melahirkan revolusi, reformasi, pembaharuan?