Jernihnya Muhammadiyah

Mengenang Setahun Muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makassar

‘Jernihnya Muhammadiyah’

muk muh
Muktamar Muhammadiyah ke 47, 3-07 Agustus 2015 lalu

Barangsiapa yang ikut terlibat dalam proses pelaksanaan Muktamar Muhammmadiyah ke 47 di Makassar tahun lalu tentu akan merasakan terharu. Merasakan betapa jernihnya wajah persyarikatan Muhammadiyah. Sebab apa-apa yang diperlihatkan sepanjang perhelatan akbar lima tahunan itu menunjukkan betapa jernihnya wajah, laku dan pikiran orang-orang Muhammadiyah.

Betapa tidak, dari kegiatan pra muktamar baik itu jalan sehat, pawai taaruf (karnaval), dan acara lainnya seluruhnya menampakkan betapa keramaian dalam kebersamaan dan kegembiraan menyatu padu terpancar dari mereka yang mengikuti kegiatan tersebut. Mereka ingin memperlihatkan kebesaran dengan kesantunan sebagai watak sejati Muhammadiyah. Kemudian, melalui kegiatan pra muktamar ini pula bagaimana belasan ribu warga Muhammadiyah mengikuti jalan sehat serta karnaval yang cukup ramai dengan pertunjukan budaya se-nusantara. Diakhir kedua kegiatan itu, sebagai simbol penjemputan secara resmi peserta muktamar, 205 perahu dikerahkan dengan bendera Muhammadiyah dan Aisyiyah yang berkibar diatasnya.

Kesan kejernihan Muktamar Muhammadiyah ke 47 dan satu abad Aisyiyah terus berlanjut, kali ini tepat pada pelaksanaan pembukaan di Lapangan Karebosi Makassar pada 03 Agustus 2015. Dimana ratusan ribu warga Muhammadiyah baik peserta maupun penggembira tumpah ruah menyemut di lapangan Karebosi, saking banyakanya tak sedikit dari para peserta tersebut tak mampu masuk mengikuti secara langsung upacara pembukaan. Namun demikian hal ini justru tetap memperlihatkan sisi kejernihan dan jiwa besar para warga Muhammadiyah tersebut. Meski hanya menyaksikan dan mendengar dari luar arena, mereka tetap khidmat mengikutinya.

Sambutan-sambutan di dalam Muktamar pun menyiratkan hal yang sama. Dengan semangat yang tinggi, ketua umum PP Muhammadiyah 2010-2015, Prof Din Syamsuddin tetap menunjukkan sikap berkemajuannya, dia mengungkapkan bahwa Muhammadiyah akan mendukung pemerintah saat kebijakannya itu pro rakyat, namun disisi lain Muhammadiyah akan berada pada garda depan saat kebijakan yang dikeluarkan pemerintah tidak berpihak kepada rakyat. Demikian juga sambutan Presiden Joko Wododo yang secara fair memuji kontribusi yang diberikan Muhammadiyah terhadap Negara yang dianggapnya benaar-benar sangat besar. Ia menerangkan bahwa bayangkan ratusan ribu, bahkan jutaan bayi anak bangsa ini, telah lahir di rumah sakit Muhammadiyah atau klinik Aisyiyah di seluruh pelosok negeri ini. “Berapa juta orang menyelesaikan pendidikan di sekolah dan kampus Muhammadiyah, belum lagi panti asuhan, koperasi, baitu mal, dan amal usaha lainnya,” lanjutnya.

Setelah pembukaan, sidang-sidang digelar. Suasana yang demokrtis sangat terasa. Semua yang hadir duduk dan berdiri dengan hak dan kewajiban yang setara. Berpikir, bertindak dan berkata-kata secara santun dan rasional. Tidak ada yang dikultuskan dan dipuja-puja secara berlebihan. Semua bisa mengkritik dan dikritik. Inilah yang kemudian menyebabkan sidang-sidang dalam muktamar berjalan lancar. Termasuk sidang dan acara pemilihan yang tidak diwarnai oleh suhu politik. Maklum usia Muhammadiyah yang telah melebihi satu abad, melebihi usia Indonesia, sehingga nafas demokrasi telah demikian merasuk ke dalam tubuh dan berjalan alami dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam muktamar ini, persaingan antar kandidat pun tidak terlalu mengeruat menjadi fokus utama. Sekalipun wacana media massa tetap memperlihatkan sebuah dinamikanya, namun realitas menepisnya dengan sendirinya. Sebab kebanyakan calon pimpinan merupakan tokoh –tokoh yang tulus dan memang ingin mengabdikan diri kepada persyarikatan.

Materi Muktamar, laporan pertanggungjawaban, tanggapan, dan sidang-sidang komisi menaggapi laporan, merumuskan program dan merumuskan rekomendasi Muhammadiyah terhadap persolan aktual secara nasional maupun internasional pun dibahas dengan mengalir. Semua menunjukkan bahwa bahwa ia telah cukup berpengalaman sehingga sidang berlangsung efektif, rasional, tidak bertele-tele oleh hal-hal yang tidak perlu. Produk sidang pun kemudian disampaiakan dalam sidang pleno.

Di luar gedung tempat persidangan berlansung, di kampus Unismuh Makassar panitia telah menyediakan tempat rehat berupa stand dengan menyediakan makanan dan minuman khas Makassar secara gratis. Sementara sekira 8 KM dari Kampus Unismuh, tepatnya di Monumen Mandala ada acara bazaar Muktamar dan pentas seni. Ini semua menambah kesemarakan suasana, berikutpun ditempat-tempat lainnya, seakan kota Makassar pada pekan itu berubah menjadi kota Muhammadiyah.Gairah silaturahim, berusaha, dan berseni budaya di kalangan Muhammadiyah cukup tinggi.

Lantas apa yang perlu dikenang setelah Muktamar usai? Banyak kenagan manis. Lantas apa yang perlu dijaga setelah Muktamar selesai. Semangat atau spirit perjuangan amar ma’ruf nahi munkar diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan nyata sehingga agama Islam maupun Indonesia menjadi berkemajuan sebagaimana visi Muhammadiyah di abad kedua.

Pasca Muktamar, ditingkat wilayah atau provinsi akan segera disusul dengan musywil. Ditingkat daerah atau kota/kabupaten disusul dengan musyda, ditingkat kecamatan disusul dengan Musycab, dan di desa-desa akan diadakan Musyran. Semua menunjukkan kalau di Muhammadiyah suksesi telah terlembagakan dengan baik dan lancar. Ibarat darah maka aliran darah di dalam tubuh Muhammadiyah mengalir deras dan sehat. Inilah yang menyebabkan wajah Muhammadiyah senantiasa jernih, segar dan menggembirakan.

Itulah gambaran dari berlangsungnya pembukaan Muktamar sampai sidang-sidang dan penutupan Muktamar. Bagi yang mengikuti dapat mencocokkannya, dan bagi yang tidak sempat mengikuti dapat bertnaya dan membayangkannya sendiri. Sungguh Muktamar yang menggembirakan.  (kasri riswadi)

Sumber Arsip Majalah KHITTAH Edisi 11 Agustus 2015