Kader IMM Silakan Berpolitik, Diizinkan Tapi

KHITTAH.CO- Membincang politik memang selalu menarik. Tak di warung kopi, di kantor-kantor dikala senggang, di kampus, dan tentu saja di dunia maya, tua-muda perbincangannya tak pernah jauh seputar hal tersebut.

Perbincangan ini tak dilewatkan pula oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sulawesi Selatan, yang di tahun 2018 ini juga mengklaim sebagai tahun politik, baik di ranah suksesi calon kepala daerah, pun internal IMM yang juga akan suksesi kepemimpinan melalui musyawarah daerah (musyda) IMM, Pebruari mendatang di Pinrang.

Gendarang wacana pun digeliatkan di kalangan IMM, dari tingkat komisariat, cabang, hingga daerah. Mereka aktif menggelar dialog bernama pra-musyda,  seperti yang terbaru dan diprakrsai panitia Musyda di Warkop 27 Makassar, Sabtu (27/1/2018).

Menghadirkan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel, Yusran Soyan, kali ini mereka meneropong arah kepemimpinan 2019. Pembicara lain adalah Fatmawati sebagai ahli politik IMM Sulsel, Abdul Gaffur, eks ketua IMM Kota Makassar bertindak sebagai moderator.

Fatmawati mengemukakan gagasannya, semua orang diizinkan untuk berpolitik, baik politik praktis maupun politik Al-Ma’un.

Dalam pandangan Fatma, yang diutamakan di IMM katanya adalah politik Al-Ma’un yang artinya bahwa ia bisa berpolitik tapi harus melihat di sekitar, yaitu bisa menghidupkan orang-orang miskin.

Dia tak lupa mengarahkan politik dalam konteks suksesi IMM Sulsel. “Ketika ada kader IMM menonjolkan dirinya sebagai calon ketua itu sah-sah saja. Tapi kita perlu ketahui bahwa di IMM memilih calon formatur bukan memilih calon ketua. Yang terpenting juga adalah pelaksanaan politik Al-maun,” paparnya.

Sementara itu, Yusran Sofyan sebagai politisi murni dalam kesempatan tersebut, memantik diskusi dengan mengeluarkan pandangan bahwa politik, siapa saja bisa terjun di dalamnya. Ia juga menekankan bagaimana pentingnya anak muda untuk berpolitik.

Namun, ia melanjutkan, kalau mau berpolitik maka harus membangun kemandirian terlebih dahulu. “Pemuda harus memperlihatkan eksistensinya sebagai harapan bangsa memang,” katanya.

“Jadi dari diri sendiri dulu. Belajar mandiri, belajar bertahan hidup. Kalau sudah bisa bertahan hidup atau mandiri maka mari berpolitik. Mulai hari ini, berani tidak pemuda menghadap sama orang tuanya bahwa mulai saat ini jangan lagi biayanyai kulliah saya?” ujarnya menantang para mahasiswa yang memadati warkop berlantai dua itu.