Kebenaran Bahasa dalam Balutan Kebudayaan

Oleh: Fadli Dason (Ketua Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PW IPM Sulsel)

KHITTAH.CO, OPINI – Bahasa adalah alat komunikasi yang paling utama maka untuk berbahasa yang baik diperlukan kemapuan komunikasi yang baik pula. Tetapi ini menjadi satu ruang dimana pihak lain dapat ditipu oleh komunikasi seseorang, sebab untuk menipu seseorang alatnya yang pertama adalah komunikasi. Maka diperlukan serangkaian sinkronisasi bahasa dan intuisi dalam perilaku sosial yang mengarah pada kebenaran. Sezaman Socrates kaum sofis menggunakan retorika sebagai jasa menerima imbalan, inilah profesi pengajar paling awal, namun dikritik oleh banyak filsuf dan Socrates merasa terganggu oleh kehadiran kaum sofis yang menawarkan jasanya untuk mendapatkan imbalan, sehingga Socrates hadir sebagai oposisi dari kaum Sofis yang lebih mengutamakan kebenaran.

Paling anehnya adalah perilaku sosial lebih mengapresiasi keterampilan seseorang, kemampan berbahasa, retorika atau keterampilan berkomunikasi bukan pada isi-nya yang biasa disebut kebenaran di dalamnya, ini juga yang menyebabkan seseorang dituntut oleh orang tuanya agar memiliki profesi pekerjaan yang selanjutnya membutuhkan keterampilan di bidangnya, saya mengamati bagaimana bahasa menjadi sebuah doktrin yang memengaruhi kebudayan dalam masyarakat. Michael Foucault dengan yang disebutnya arkeologi pengetahuan, yang menurutnya setiap sejarah akan tercerabut dikarenakan oleh siapa yang menafsirkannya karena dorongan dari tekanan kebudayaan dan juga dari dongkrak tekanan politik pada masanya sebab setiap manusia akan dipengaruhi oleh kebudayaan dan politik di lingkungannya. Sepertinya memang kita mesti skeptis dengan ucapan seseorang dan setiap dari kita mesti menjadi detektif agar tidak ditipu.

Merelakan dirinya untuk terpukul sekali nanti kemudian diakhir baru ditangkisnya, kelihatannya memang seperti itu, banyak yang ditipu oleh kemampuan berkomunikasi seseorang tetapi pada akhirnya menjadi pengalaman akan antisipasi selanjutnya karena memang nilai kebenaran masih dikalahkan oleh keterampilan-keterampilan teknis. Kita bisa melihat sejarah bahwa mereka yang banter memperjuangkan kebenaran akan merasakan kesengsaraan. Socrates terpaksa meminum racun cemara, Bruno dibakar oleh pihak gereja, Newton dianggap Kafir, Kant dianggap sesat, galileo dianggap pendusta, Tan Malaka dihapus oleh sejarah indonesia, oleh orde lama Buya Hamka disiksa setruman listrik. Ini semua dapat menjadi alasan bahwa nilai kebenaran tercerabut dan menjadi negasi dari keutamaan.

Stigma dan Kebudayaan

Beberapa abad terakhir masyarakat kita lebih didominasi oleh mitos ketimbang kebenaran, ataukah suplai pengetahuan yang terhambat oleh kesalahan manusia yang beragama atau manusia yang memanfaatkan agama seperti perang, pembantaian, pembunuhan, klaim kebenaran yang berujung pada kekerasan, dan teror, seperti yang dipaparkan oleh Muh. Asratillah Senge dalam bukunya Anti Demagog “Fenomena dan Agama”, (Senge, 2020). Manusia mengklaim kebenaran melalui bahasa, dan keterampilan berbahasa disusun melalui praktis ilmu retorika, kita diajar untuk menampilkan kebenaran melalui bahasa yang lugas dan jelas namun yang menguat justru keterampilan tadi bukan kebenarannya. Keterampilan menjadikan seseorang berbobot hingga berbahagia, ruang-ruang akademis diisi oleh calon-calon karyawan dan karyawati, Kampus membuat aturan yang membiasakan mahasiswa tampil rapi, mulai larangan rambut gonrong hingga larangan bercelana jeans. Sepertinya Mahasiswa dilarang kritis, sebab ada cerita bagaimana rambut gonrong yang identik aktivis itu membentuk stigma sebagai mahasiswa kritis di lingkungan akademis sehingga harus diberangus yang dianggap penghambat bagi mulusnya kepentingan.

Kebudayaan adalah kebiasaan perilaku masyarakat yang kolektif dan disepakati yang memiliki unsur kepercayaan-kepercayaan, etika-etika, ritual. Ada kebudayaan politik, kebudayaan Agama, kebudayaan Spiritual, kebudayaan ekonomi, dan sebagainya. Akumulasi dari kebudayaan-kebudayaan tersebut membentuk yang disebut peradaban. Mereka yang memilih lari dari kebudayaan dilingkungan yang ia tempati akan dianggap sebagai orang yang lari dari kesepakatan dan biasanya dikucilkan, dan terbuang. Namun juga gerakan revolusioner terjadi oleh mereka yang pernah terbuang dan mampu meruntuhkan status quo kebudayaan lama dan membentuk kebudayaan atau bahkan peradaban baru, Teori Ptolemeus mengenai Bumi adalah pusat tata surya (Geosentris) pernah menjadi keyakinan yang dipegang berabad-abad lamanya hingga tergantikan oleh teori Copernicus mangenai Matahari adalah pusat tata surya (Heliosentris).

Bahasa adalah budaya sebab terbentuk dari hasil kesepakatan meskipun masih menjadi misteri siapa orang yang pertama kali menyepakati bahasa ini digunakan untuk menunjuk ini. Alasan paling masuk akalnya adalah kebiasaan membentuk kebudayaan sehingga kebiasaan mengucapkan bahasa ini membentuk budaya dimana bahasa yang diperuntukan untuk bahasa tersebut disepakati.

Bahasa yang tidak disepakati tidak akan berkembang menjadi kebudayaan. Nietszche mengatakan Tuhan telah mati akhirnya dimusuhi oleh kristen dan dianggap sesat oleh musuhnya dikarenakan dianggap tidak mengakui kebudayaan agama mengenai Tuhan yang abadi, meskipun barangkali Nietszche dengan mengatakan Tuhan telah mati diucapkan dengan terbiasa tetap tak akan menjadi kebudayaan sebab tidak menjadi kesepakatan agama. Soal kesepakatan maupun perihal kebiasaan memang sulit dibantah bahwa itulah awal dari kebudayaan. Buku Atomic Habits karya James Clear menjelaskan bagaimana kebiasaan yang baik dapat membentuk budaya diri menjadi lebih baik melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang menghasilkan manfaat yang besar, seperti atom-atom yang ikut membentuk molekul.