Kebenaran dan Subyektifitas (1)

 

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Jeneponto

Saya sedang memikirkan kegilaan terjadi dalam kebenaran atau mungkin kita menolak berpikir bersama tidurnya pemikiran. Saya tidak tertarik untuk mencari kebenaran, karena apa yang sedang kita pikirkan tidak apa-apa lagi. Di mata orang-orang yang bermain dalam guyonan, mengatakan: “Kita memikirkannya, mereka tidak memikirkan kita”. Mula-mula kita berada dalam kemungkinan, berpikir atau tidak berpikir. Lalu, kegilaan dari pemikiran  di balik orang-orang yang tidak berpenyakit saraf atau tidak gila bersama orang-orang yang sedang dirasuki Tuhan. Mengapa manusia menobatkan dirinya menjadi Tuhan? Salah satu alasan diantaranya, karena kita dan mereka memiliki kebenaran absolut. Manusia menjadi Tuhan, berarti tidak hanya menari-nari dan tertawa bagi pihak lain, tetapi juga menari-nari dan tertawa dengan cara menertawakan dan menari-narikan ironi dan parodi untuk dirinya sendiri.

Tidak ada yang tertawa dan menari, kecuali dari manusia itu sendiri yang menjadi “Tuhan”. Nilai kebenaran adalah nilai kemerosotan di Barat dan Timur. Saya berpikir, saya tidak sementara berada dalam model pemikiran nihilistik. Saya dan mungkin Anda tidak berpikir selamanya tentang peristiwa politik seperti sebelum dan setelah Pemilihan Umum hingga menantikan hasil Sidang Sengketa Pemilihan Presiden Tahun 2019 di Mahkamah Agung Republik Indonesia. Peristiwa politik seringkali membuat kita tidak terangsang akibat kebenaran atas kebenaran yang diracuni oleh Tuhan-Tuhan yang ada dalam diri kita. Saya secara pribadi berbicara bukan sebagai negarawan, pemikir atau pengamat, melainkan saya sedang membuat ramuan racun yang lebih berbisa dari bisa ular beludak. Racun itu di kemudian hari disebutkan sebagai kebenaran dari masing-masing pihak yang menganggap dirinya paling benar bahkan paling suci. Mengenai kebenaran yang terluntah-luntah dan sekarat hingga mati tidak memiliki keterkaitan dengan zaman pos-kebenaran sekarang lagi pemikirannnya menjadi tema menarik. Saya tidak sedang berpikir tentang “pos-kebenaran” apalagi pemikiran ilahi. Kebenaran seperti juga halnya agama menjadi obyek pengetahuan bagi persemaian pergerakan politik praktis di banyak tempat. Nalar atau analisis diskursus menjadi menciut jika bukan dikatakan titik ketidakhadiran energi baru dihadapan kekuatan berbahaya dari kepentingan politik yang mengatasnamakan agama. Saya tidak mengatakan satu atau lebih kelompok yang memiliki kecenderungan ke arah sana. Semuanya memiliki potensi untuk memainkan kekerasan atas nama agama atau kebenaran universal di tengah kekacauan intelektual.

Berpikir tentang kegilaan dari pemikiran, berarti juga tidak sedang berpikir tentang seluruh perangkap yang dibuat oleh kebenaran. Kita tidak sedang meletakkan dan serta-merta memberanikan diri untuk membangun struktur epistemologis mengenai kebenaran. Dari pihak lain masih menganggap bahwa epistemologi tidak jauh beda dengan kebenaran sebagai ironi dan ilusi yang berulang-ulang. Mungkin pula, saya sedang bermimpi untuk membangun kegilaan melalui kerangka epistemik lain atau analisis diskursus yang begitu merepotkan cara berpikir yang telah ada. Mungkin, kebenaran terbuat dari tulang belulang manusia purba atau terbuat dari serbuk kayu yang mudah keropos dan hancur. Saat ini dan sampai kapanpun, kebenaran masih menjadi suatu perangkat yang cukup menggelikan atau membisingkan telinga sejauh kepemilikannya diabsolutkan.

Kita tidak membicarakan tema-tema pengulangan dan perbedaan dalam arus diskursus filosofis, dimana kebenaran diistirahatkan dengan kesenangan lainnya atas kegilaan. ‘Ada’, ‘jelas’ atau ‘pasti’ hanyalah peningggalan pikiran modern sebagai sumber kebenaran selain pengalaman inderawi. Saya sedang tidak menjerit sekeras-kerasnya, saya tidak mengutuk masa lalu, tetapi bagaimana cara membuat selera humor dan teater dusta bercampur-aduk dengan racun kebenaran, sekalipun zat beracun tidak berbahaya dan mematikan. Malahan racun kebenaran yang sedang diracik dan disebarkan pengaruhnya tidak menguntungkan karena memang tidak dibicarakan kemana-mana. Racun ampuh berawal dari cara berpikir atau permainan kebenaran  menjadi obat penenang bagi hasrat, selera, kesenangan, fantasi, dan mimpi. Pada saat titik kelenyapan cahaya kebenaran absolut dan tunggal menyelimuti dunia, disitulah kegelapan takhyul muncul di arah lain. Sistem pemikiran klasik telah lama menggali lubang, tempat dimana racun kebenaran disebarkan dalam ritus-ritus kuasa yang akan dirayakan tanpa pengarang, penafsir, produser, dan pengkhutbah. Seiring hilangnya nilai kebenaran tidak berarti berubah seketika menjadi kebenaran yang lain. Dari titik tolak ini, akibat dari pengabsolutkan kebenaran meletakkan kebenaran lainnya terkutuk dan sakit parah yang pada akhirnya dijemput maut. Dari kebenaran itulah sebagai sumber maut yang akan menjemputnya.

Setiap kali ada ikhtiar menghidupkan kebenaran, disaat itu pula kematian dalam seribu wajah dan dari banyak arah akan menjemputnya. Ada banyak wajah dan arah menjadi satu aparatur penjemput maut, diantaranya filsuf, ilmuan, penegak hukum, kaum intelek, massa pendukung, pengkhutbah-agamawan, politisi, dan aparatur negara. Kemana mereka disaat kebenaran dengan cahaya yang telah redup. Betapa sumber cahaya terang-benderang dari kebenaran sekarang telah ditafsirkan dan dimanfaatkan sesuai logika maupun selera kita masing-masing dan demi nafsu atau kenikmatan instan untuk tujuan politik kuasa, akhirnya menjadi monster yang senang menciptakan kebenaran yang lancung. Akhir dari kebenaran adalah akhir dari kitab suci atau kitab agama yang selama ini dengan cara penafsiran dan pemahaman teks hampir dikatakan bercorak homogenitas, tunggal, memusat, dan eksklusif di tangan segilintir dan sekelompok orang membuat cara berpikir yang melawan dirinya sendiri. Selama ini, Anda bergumul dalam pemikiran tekstual, maka yang paling penting dari hal-hal penting lainnya dengan cara membaca sumber rujukan yang disubyektifikasi dalam kebenaran selera pribadi. Anda perlu membebaskan diri sendiri dari belenggu teks. Anda begitu terpaku atau seakan-akan terhipnotis dengan kebenaran-kebenaran yang hanya bersumber dari yang sama dan tunggal, sehingga enteng terbawa arus dan terlena, seperti buku sebagai obat penenang dari gelombang kehidupan yang tidak menantang. Anda telah membenturkan dengan sekeras-kerasnya meja buku bacaan untuk melawan realitas yang terjadi di luar. Saya belum terlambat untuk tidak berpikir, bahwa Anda sesungguhnya telah membangun dalam diri Anda sebuah rezim kebenaran yang saat tertentu akan menjadi satu permainan atas kebenaran. Keteguhan atas kebenaran sesuai filsafat Barat untuk mengatasi takhyul dan pemikiran Timur yang tidak tertarik pada mimpi dan ilusi atas kebenaran. Kita telah memaksa bagaimana kebenaran berbicara dan beroperasi pada teknisi, administrator, sineas, fotografer, penulis, pembaca, dan masyarakat umum saling memandang terheran-terheran antara satu dengan yang lainnya sambil meratapi nasib kebenaran dan menghujat dirinya sendiri. Kita berbicara tentang kebenaran seakan-akan berbicara dengan momok yang menakutkan tatkala sebagian orang telah kehilangan tengggang rasa, melupakan dan mempersilahkan pada yang lainnya untuk berbicara. Ironi terjalin dalam diri orang-orang yang berada dalam kekusutan pikiran dan kekacauan nafsu, padahal setiap pihak berbicara atas nama kebenaran, apalagi yang menggugat dari agama yang sama. Kita tidak berpikir, bahwa diskursus pengadilan mengenai siapa yang salah dan siapa yang benar. Hal ini, saya tidak berminat pada cara berpikir dalam wilayah fenomenal seperti yang dilakukan pihak-pihak yang saling berseberangan secara politik. Pada pihak satu menganggap pihak yang lain telah menodai demokrasi atau merusak keadilan. Dari pihak yang satu lagi, berbicara ingin meminta dimana bukti ketidakadilan atau pelanggarannya. Begitu pula penggugatan kebenaran atas nama agama terhadap corak pemikiran dan posisi keyakinan. Aparat hukum mengatakan: “Anda berseru dengan pekikan sakral”. “Anda juga yang berlawanan berseru dengan nada yang sama dan Saya juga berdiri di tengah Anda semua memiliki pekikan dari keyakinan yang sama”. Inilah salah satu permasalahan kritik atas metafisika yang begitu konyol menghadapi kehidupan yang runyam.

Dalam pemikiran modern, pergerakan arus produksi hasrat tidak selamanya berada dalam kritik. Pada diskursus yang sama, filsafat bertugas untuk membunuh dirinya sendiri karena doktrin yang dibangun telah meracuninya. Diskursus filosofis memiliki keteguhan akan kebenaran yang berbeda dan beragam dengan cara membuat racun dan obat penenang yang baru. Tetapi, hal ini kita mengakhiri kebenaran yang dimiliki filsuf. Rezim kebenaran dari kuasa sesungguhnya menjadi permainan yang belum dirampungkan. Apa konsep ‘ada’ dan kebenaran, tidak lain adalah ‘selingan’ dari  ‘selisih’ di balik dusta. Kita masih terus bermain dengan konsep, mentiranikan penafsiran tatkala tanda tanpa kebenaran tidak hadir di sini. Berbicara dengan fasih bersama kekusutan pikiran dan ketangkasan logika memberi kekuatan yang aneh dari tiran. Kebenaran atas kebenaran lainnya melahirkan tiran. Seluruh permainan dalam kehidupan muncul dari kelahiran tiran yang berwajah kebenaran. Untuk melepaskan diri darinya, kita tidak gegabah mengatakan, bahwa kebenaran telah “keluar dari dirinya”, tetapi juga “keluar kesana, di dunia luar”. Pergerakan tiran dari kebenaran, berarti tidak terikat dengan “di luar” dan “di dalam” dirinya sendiri. Dalam kebenaran, kita tidak akan membebaskan tiran, sepanjang kita tidak berpikir lagi seputar Aku adalah bukan Aku, begitu pula kita berpikir, Anda adalah bukanlah Anda. Mengapa demikian siasatnya. Masih adakah kebenaran di sela-selah cara berpikir antara Aku dan Anda? Kebenaran tidak lagi paling suram dan paling rendah atas “yang lain”, melainkan kebenaran paling bernafsu dan paling busuk. Saya sedang berpikir tentang pria paling bernafsu dan busuk. Setelah itu, satu-satunya mungkin kebenaran adalah kebenaran tentang kegilaan. Selebihnya, kita tidak melihat kebenaran dalam buku dan panggung, kecuali saya memergoki sesuatu tidak lebih dari dusta demi dusta di balik omong kosong epistemologi dan petanda transendental. Satu hal lagi, kebenaran adalah ilusi yang tetap mengingatnya dalam permainan koin dan catur.

Sepanjang pengetahuan kita tentang kebenaran, noktah hitam yang masih menempel dalam teks-teks menempatkan ingatan pada keadaan yang mudah terbawa arus. Karena itu, teks-teks tidak lagi memiliki kontradiksi, ketegangan dan antinomi internal yang membuat bahaya-bahaya dalam kebenaran. Tidak ada jalan lain, kecuali melepaskan setiap jaringan dan lintas struktur bahasa permukaan dan panggung. Setiap orang mencoba menghindari dari pikiran tentang kebenaran bahasa universal dan bahasa partikular. Teks pengetahuan dengan bahasa yang tidak tergoyahkan begitu rawan untuk dimanfaatkan demi tujuan yang dianggap kebenaran, yang dikendalikan melalui tanda kuasa atau menyembunyikan bentuk kepalsuan dalam realitas yang diciptakannya. Rezim kebenaran dari tanda kuasa yang akan diinstitusionalisasi melalui tubuh-negara. Tubuhnya lebih kuat dari kesadaran. Permukaan dan panggung tidak lebih lemah dari permainan yang berada di atas dan dibelakangnya.

Bentuk permainan rupanya tidak dipantulkan lagi melalui cermin dengan bahasa yang lebih dulu retak dan bercabang-cabang. Setiap kelompok orang membawa kebenaran tanpa cermin yang dibuat final bagi realitas. Bagaimana jadinya jika masing-masing pihak dalam posisi yang mengaku dan mempertahankan kebenaran? Anda berhasrat untuk mencapai kebenaran dengan perbincangan diselimuti ketakukan dan bahkan kebencian. Selama ini, pemikiran universal yang ditujukan pada Anda menjadi bahan pemikiran mengenai cermin yang retak dalam kehidupan, lintasan dimana kebenaran tidak pernah diterima secara suka rela. Saya menyaksikan dari jauh bagaimana berpikir secara absolut telah melenyapkan sisi perbedaan, heterogenitas, yang pinggiran, dan kepingan-kepingan kehidupan. Pemikiran memiliki musuh terberat, yaitu logos. Bagi setiap orang dan kelompok tertentu, logos patut untuk ditolak kata kerja sejatinya, karena jika tidak, kebenaran terhadap hasrat-libido sama pentingnnya membicarakan tentang pembunuhan etnis ditambahkan pembunuhan karakter, pengusiran kaum migran ataupun penganiayaan atas tokoh sosial, ilmuan dan yang lainnya. Semuanya itu merupakan warisan cara berpikir logosentris yang mentiranikan kehidupan yang dianggap berlawanan dengan keyakinan dan kebenaran dari pihak lain. Yang berbeda dan kelainan (otherness) merupakan tiran yang menciptakan noktah hitam bagi realitas.

Pergerakan rezim kebenaran digiring dalam kenampakan begitu berbeda dengan apa yang disebut dalam pemikiran ontologis menjadi determinasi bersama kebenaran ilmiah. Sebaliknya, ‘perbedaanlah’ yang meringkaskan ‘pengulangan’, bukan negativitas atau anti-logosentris (Derrida, 2001: 311). Selain itu, seseorang berhasrat pada cermin yang retak sebagai kegilaan dari pemikiran yang bukan berpenyakit syaraf atau orang gila. Dari satu kegilaan ke kegilaan lainnya dibalik pembebasan dari kebenaran. Kegilaan tanpa kesalahan yang perlu memainkan suatu permainan tanpa bahasa dan logika filsafat. Berkenaan suatu hal yang penting dalam kegilaan untuk melepaskan metafora cahaya dan gelap sebagai cara untuk membentuk perlawanan kebenaran bersifat “cahaya” dan kesalahan sebagai “gelap”.

Kebenaran adalah budak yang diciptakan oleh tuan-penanda utama yang dari ia sedang menyembunyikan kebenaran. Tidak ada kebenaran lain, kecuali kebenaran dari, oleh dan untuk sang penguasa. Di sini juga terdapat relasi antara pengetahuan, kuasa dan kebenaran. Apa yang tidak hadir dalam kebenaran yang memungkinkan menjadi bagian tersendiri dari pengetahuan membagi subyek yang sah. Termasuk pula bentuk penguraian dilihat dari cara pandang yang berbeda oleh masing-masing orang tergantung kebenaran dijadikan prosedur pilihan demi meraup keuntungan melalui suatu permainan. Boleh kita mengatakan, bahwa permainan telah dilancarkan dengan mengurangi kesalahan tanpa kebenaran. Atas dasar itu membuat keadaan sedikit demi sedikit akan terungkap tabir gelap yang menyelimuti obyek pengetahuan. Ia bukanlah cara untuk melihat pemikiran analitis yang dipindahkan bukti-bukti dalam struktur teknis dari laboratoriun dan dalam laporan ilmuan sesuai pengetahuan apalagi keinginan dari kuasa sebagai rezim kebenaran bertangan dingin. Ketersembunyian dan sengaja menyembunyikan kebenaran tanpa temuan menyangkut yang benar atau salah. Dari sanalah verifikasi dan tanpa temuan apa-apa memberi alasan mengapa pengetahuan masih memiliki prosedur-prosedur, sehingga dikatakan oleh subyek mengenai bukti-bukti yang cukup bagi pengujian kebenaran. Demi alasan yang didukung oleh bukti-bukti yang cukup, jelas dan meyakinkan dijadikan dasar bagi pernyataan benar atau salah secara logis.

Dalam perkembangannya, pemikiran filosofis tidak lagi menjadi keputusan kritis yang terlanjur didakwah sebagai biang kerok lantaran menyembunyikan kebenaran. Keputusan kritis tidak harus melalui pengujian, temuan dan verifikasi agar dikatakan bernilai ilmiah. Paling penting sekarang pengetahuan tidak hanya menyediakan fakultas secara alamiah, tetapi juga pengetahuan disesuaikan dengan bentuk-bentuk diskursus untuk mengajukan penyataan benar dan salah. Pada pilihan-pilihan tersebut, suatu pemikiran diskursif tidak mempermasalahkan penyesuaian diri atas keadaan biasa-biasa saja dimana mereka berada dengan keputusan tertentu. Keputusan kritis dari pemikiran juga membantu mengurai apa yang menjadi kenyataan dengan cara mengaitkan satu obyek pilihan yang menghilang pada subyek yang dibantu oleh kata-kata. Pengaruh terhadap kenyataan tidak lagi dikaitkan pada obyek tertentu dengan kata-kata yang menopang subyek pengetahuan tertentu.