Kedai Kata dan Angkatan Muda Muhammadiyah

ADVERTISEMENT


KHITTAH.CO – Tahun 2008, Pusat Dakwah Muhammadiyah Takalar (selanjutnya Pusdam Takalar) adalah kantor kumuh tak terawat. Pusdam adalah kantor dakwah yang tak layak pakai. Pada bagian dan belakang ditumbuhi rumput dan rawa yang banjir ketika musim hujan tiba.

Tak ada warga Muhammadiyah yang mau datang, hingga angkatan muda (lewat IPM dan Pemuda Muhammadiyah) secara bersama – sama mengaktifkan kembali kantor ini.

Ada banyak kisah dan sejarah. Ada banyak cerita dan juga konflik. Kesedihan dan kesepian didudukkan jadi diskursus. Semua bercampur menjadi satu makna yang menghadirkan girah dan semangat.

Saya masih ingat, ketika beberapa anak anak muda (pelajar) yang diusir dari rumahnya hanya karena gandrung pada Pusdam. Boleh dikata, pada waktu itu adalah titik balik (dan terbaik) masa kejayaan angkatan muda Muhammadiyah.

Disana, dihadirkan Kafe Baca, Pusat Kajian, Seni dan Musik, hingga kaderisasi. Kami memberinya nama ‘Pondok Matahari’. Sesuai namanya, segala pusat kegiatan Muhammadiyah tergelar di kantor kumuh itu.

Apa yang membuat Pusdam begitu punya daya tarik? Tak ada yang istimewa disana. Fasilitas yang ada sangat sederhana dan bisa dihitung dengan jari. Beberapa diantaranya seperti komputer tabung dengan aplikasi game bawaan (sumo dan solitaire). Sesekali juga ada musik dengan soundsistem kecil yang dibawa dari rumah masing masing. Ada galon air tanpa dispenser.

Untuk memasak kopi, kami meminjam kompor bekas dari rumah ketua IRM/IPM waktu itu. Dan ada satu karpet kumal yang tak pernah dicuci.

Namun sekali lagi, karena bentuk cinta, Pusdam akhirnya bisa bertahan dan angkatan muda tetap eksis hingga sekarang. Hingga negara api menyerang, semua berubah.

Sekitar tahun 2012, Pusdam mulai dirombak habis, lalu kenangan itupun hilang, digantikan dengan gedung setengah mewah seperti sekarang. Di depan gedung itu, ada satu kedai kecil dimana kenangan mulai dituliskan, dan anak anak Muda Muhammadiyah berkumpul dan membicarakan gagasan?

Kedai Kata dan Dakwah Milenial

Namanya Kedai Kata. Sebuah nama yang hendak memberikan dasar filosofis bahwa tempat ini adalah rumah yang akan melahirkan kata hingga wacana Ke-muhammadiyah-an. Dipelopori oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Takalar, hampir semua kegiatan (khususnya kegiatan kultural) dilakukan di kedai ini.

Bermodal gerobak dan grinder Ferratti Ferro (mesin pembuat kopi), AMM seperti bermetamorfosa. Kecenderungan anak muda adalah warkop, kopi, dan WiFi. Jika ingin menemukan pelajar, carilah mereka disana. Dan Kedai Kata menjadi magnet dakwah tersendiri.

Gerakan dakwah, khususnya Muhammadiyah, harus kritis membaca zaman. Muhammadiyah tidak boleh terlalu kaku dan ragu pada segala perubahan. Fleksibilitas gerakan harus dikedepankan. Pada saat itulah nilai – nilai Muhammadiyah bisa ditanamkan dengan kuat. Model dakwah ini juga sering disebut sebagai model dakwah milenial. Dan AMM Takalar, lewat Kedai Kata, mengambil peran strategis itu.

Beberapa kegiatan di Muhammadiyah digelar dan dibincang ringan disana. Mulai dari pengajian, pengkaderan, hingga Muktamar. Selain sebagai tempat bertemunya ide – ide, Kedai Kata sekaligus menjadi ‘gerakan ekonomi’ AMM yang kehadirannya harus terus dipertahankan.
Nuun.
(Syahrul)