Kedewasaan Dalam Beragama

Screenshot_2016-03-09-16-30-06-2
Adam Malik)*

Agama merupakan elemen terpenting dalam kehidupan masyarakat. Bukti sosial empiris dan teoritis menunjukkan bahwa ritus keagamaan seseorang dalam berbagai cara memiliki koneksi dengan pikiran, emosi, tindakan serta cara mereka menjalin hubungan dengan sesama manusia maupun dengan Tuhannya. Pengaruh agama terhadap kesehatan fisik dan mental menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang positif antara tingkat religiusitas dan spiritual seseorang dengan kesehatan. Perilaku beragama seseorang cenderung akan berpengaruh kepada karakter seseorang. Agama dipersepsikan oleh individu dengan berbagai metode. Orang Bergama memiliki kecenderungan dipengaruhi oleh ragam dan struktur budaya.

Agama di peluk dan dihayati oleh manusia, praktek dan penghayatan agama tersebut diistilahkan sebagai keberagamaan (religiusitas). Keberagamaannya, manusia menemukan dimensi emosi dan jiwa. Oleh karena itu, keberagamaan yang baik akan membawa tiap individu memiliki jiwa yang sehat dan membentuk kepribadian yang kokoh dan seimbang. Manusia menjadikan agama sebagai landasan hidup yang bersumber pada wahyu. Oleh karena itu, keberagamaan pun merupakan perilaku yang bersumber  langsung atau tidak langsung kepada wahyu juga. Untuk bersentuhan dengan keberagamaan maka ada beberapa dimensi dalam beragama dimensi itu meliputi aspek kognitif keberagamaan, dua dari yang terakhir terakhir adalah aspek behavioral keberagamaan dan yang terakhir adalah aspek afektif keberagamaan

Dalam membangun pondasi keberagamaan ada lima dimensi dalam diri manusia yang yang harus terpenuhi, yakni dimensi keyakinan (ideology). Dimensi ini berkenaan dengan perangkat kepercayaan keagamaan yang memberikan penjelasan tentang Tuhan, alam manusia dan komparasi antara mereka. Struktur kepercayaan dapat berupa makna dari tujuan atau pengetahuan tentang perilaku yang baik menurut Tuhan. dimensi ini berisi pengakuan akan kebenaran doktrin-doktrin dari agama. Seorang individu yang religious akan berpegang teguh pada ajaran teologis tertantu yang diakui kebenaran doktrinnya, misalnya keyakinan akan adanya malaikat, surge-neraka, dan sebagainya. Dimensi keyakinan ini tertanam kuat di alam bawah sadar individu dan inilah yang akan berpengaruh dalam perilaku beragama seseorang.

Dimensi intelektual (intellectual involment) dapat mengacu pada pengetahuan tentang ajaran-ajaran agama, pada dimensi ini dapat diketahui tentang seberapa jauh tingkat pengetahuan agama dan tingkat ketertarikan mempelajari agama dari penganut agama bahwa orang-orang beragama paling tidak memiliki sejumlah pengetahuan mengenai dasar-dasar keyakinan, ritus-ritus kitab suci dan tradisi-tradisi dalam mengkonspkan agamanya. Dimensi eksperensial (experincial involment) adalah bagian keagamaan yang bersifat efektif, yakni keterlibatan emosional dan sentimental pada pelaksanaan ajaran (religion feeling). Dimensi ini berkaitan dengan pengalaman perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang atau didefinisikan oleh kelompok-kelompok keagamaan saat melaksanakan ritual keagamaan, Seperti tentram saat berdoa tersentuh mendengar firma-firman Tuhan.

Dimensi ritualistik (ritual involment) adalah dimensi yang merujuk pada ritus-ritus keagamaan yang dianjurkan dan dilaksanakan oleh penganut agama dan sangat berkaitan dengan ketaatan penganut suatu agama. Dimensi ini meliputi pedoman pokok pelaksanaan ritus dan pelaksanaannya, frekuensi prosedur dan makna ritus penganut agama dalam kehidupan sehari-hari seperti penerapan rukun agama. Dimensi konsekuensi atau dimensi sosial (consequential involment)  merupakan aspek yang meliputi segala implikasi sosial dari pelaksanaan ajaran agama, dimensi ini memberikan gambaran apakah efek ajaran agama terhadap etos kerja, hubungan interpersonal, kepeduliaan terhadap penderitaan kemanusiaan.

Aktualisasi dari sikap keberagamaan seseorang dapat dilihat dari sikap yang di pilihnya. dari pilihan sikap tersebut dapatlah dilihat standar kedewasaan orang beragama dan memaknai agama. Elizabeth B. Hurlock membagi kedewasaan menjadi tiga bagian pertama yaitu  masa dewasa awal (young adult) masa ini menjadi adalah momen pencarian kemantapan dan masa reproduktif suatu masa yang penuh gejolak masalah dan ketegangan emosional, priode isolasi sosial, priode komitmen dan masa ketergantungan kisaran umurnya antara 21 tahun. Prinsip keberagamaan usia seperti ini biasa kurang konsisten lantaran usia yang masih muda menjadikan seseorang memiliki rasa ingin tahu mencari hal-hal baru dalam sikap beragama. Kecenderungan beragama di usia dewasa awal mudah terpengaruh mengikuti gerakan mainstream dan mudah pula meninggalkannya tergantung sejauh mana lingkungan keagamaan turut berpengaruh.

Kedua, dewasa madya (middle adulthood) usia ini merupakan akses transisi dimana seseorang memasuki suatu periode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan perilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar di bandingkan masa sebelumnya karena usia kisaran empat puluh tahun menandakan seseorang telah matang dalam aspek umur, dan perilaku. Mengapa Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi nabi di kisaran usia empat puluh tahun ?, kenapa bukan usia sepuluh atau dua puluh tahun ?, menurut penulis dengan menggunakan perspektif di atas, ini karena Nabi telah mencapai usia madya, dimana Rasulullah benar-benar matang dalam segala aspek. Saat seseorang memasuki usia madya,  agama telah menjadi kebutuhan pribadi dan sosial sehingga setiap pengambilan keputusan seseorang akan selalu mempertimbangkan aspek agama.

Ketiga, masa dewasa lanjut (older adult) atau usia lanjut menjadi periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Perubahan di usia lanjut ditandai dengan fisik dan psikologis yang semakin menurun. Usia lanjut merubah pola haluan berpikir keagamaan seseorang sehingga banyak orang di usia tuanya lebih cenderung melakukan kontemplasi ibadah di mesjid. Seseorang yang di katakan dewasa dalam beragama memiliki penalaran kritis terhadap konten-konten agama sebaliknya situasi emosional yang cenderung mudah marah ketika ada paham keagamaan berbeda dari luar dan direspon dengan sikap mengendepankan amarah sebagai bentuk luapan emosional. Jika kita melihat rekam jejak perilaku beragama seperti ini di masyarakat maka sikap keberagamaan seperti itu akan lebih mendahulukan kekerasan sebagai solusi. Berbeda misalnya seseorang yang memilki ragam khazanah pemikiran keagamaan sikap yang di tonjolkan adalah sikap rendah hati dan bijak terhadap pelbagai paham keagamaan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa perbedaan agama beserta variable alirannya akan berpengaruh terhadap respon psikologis seseorang. Sejalan dengan tingkat perkembangan usia maka sikap keberagamaan orang dewasa akan menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang bukan sekedar ikut-ikutan, Kecenderungan beragama bersifat realistis, sehinga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku, bersikap positif terhadap dan berusaha lebih memperdalam pemahaman keagamaan, kedewasaan beragama akan memperlihatkan adanya hubungan antara sikap beragama dengan kehidupan sosial.

Setaat-taatnya seseorang dalam beragama yang menjadi tolak ukur adalah apa reaksi perilaku dari ritus keberagamaan seseorang. Sehingga ada orang beragama bukan sebagai kesadaran namun hanya menjadi pelarian dari segala beban hidup. William James dalam bukunya the varieties of religion experience mengelompokkan perilaku keagamaan menjadi dua yaitu tipe orang sakit jiwa (the sick soul) menurut beliau bahwa sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini di temui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama serta melaksanakan segala ritus ibadahnya tanpa didasari kematangan beragama yang secara normal perkembangannya berlangsung secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak dewasa.

Maka tak heran jika seseorang yang dulunya tak pernah mendapatkan pendidikan agama tiba-tiba mengikuti sebuah kajian keagamaan yang bersikap ekstrim dan akibatnya orang tersebut akan sangat mudah diarahkan melakukan tindak kekerasan-contoh ekstrimnya adalah bom bunuh diri- atas nama agama. Maka dari itu orang tua perlu melakukan pembinaan keagamaan terhadap anak-anaknya sejak masih kecil. Mereka meyakini agama bukan atas alasan yang rasional tetapi,  dikarenakan adanya penderitaan batin yang mungkin diakibatkan musibah, konflik batin ataupun sebab lain yang sulit di ungkapkan secara ilmiah.

Sikap beragama yang mengalami kelainan kejiwaan umumnya akan cenderung menampilkan sikap pesimis dalam mengamalkan ajaran agama cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang mereka terima. Introvert  sikap beragama objektif bahwa segala marah bahaya selalu di hubungkan dengan kesalahan diri dan dosa yang telah di perbuat kemudian menyenangi paham yang ortodoks sebagai luapan dari sikap pesimis dan introvert kehidupan jiwa seseorang menjadi pasif. Hal ini mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservati dan ortodoks. Maka sudah sepantasnya sikap rendah hati dalam beragama dan menyikapi perbedaan keberagamaan demi menumbuhkan sikap kedewasaan dalam beragama.

)* Adam Malik adalah Sekertaris Bidang Politik dan Kebangsaan Pemuda Muhammdiyah (PD PM) Kota Makassar, Mahasiswa Psikologi Universitas Bosowa Makassar, peminat kajian psikologi agama.

Advertisement