Kembalinya Disiplin: Covid-19 sebagai Kelahiran Isolasi

 

Oleh: Ermansyah R. Hindi*)

*) ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Kabupaten Jeneponto

Semenjak angka-angka terlihat ‘banyak kematian dalam waktu singkat’, melaju cepat keluar melebihi asal-usulnya. Begitu cepat penyebaran wabah virusnya, dimana orang-orang pulang ke rumahnya masing-masing akan menularkan pada anak dan isterinya, pada keluarga, pada sanak keluarga, pada rekan kerja dan pada orang-orang di sekitarnya. Wabah virus ‘mematikan’ yang menyebar secara cepat dan luas antar wilayah dan lintas benua yang dikenal sebagai Coronavirus Deseas 2019 (Covid-19). 

Perhatian seksama atas wabah Covid-19 ditemukan yang masih bagian awal dari abad kedua puluh satu, dari ‘keluarga’ Coronaviridae menciptakan keadaan, yaitu: (i) kecepatan penyebaran virus mematikan yang belum dikenal sebelumnya; (ii) perkembangan bahasa dengan istilah-istilah dan tema yang dinikmati oleh ilmu pengetahuan dan (iii) ‘penyebaran wabah virus diiringi dengan penyebaran pengetahuan’. Perkembangan bahasa diwariskan dari pemikiran modern, ia dibangkitkan, diikuti perubahan dan transformasi yang betul-betul baru dalam tata bahasa atau diskursus kedokteran dan relasi biologi. 

Setelah ditemukan oleh ilmu pengetahuan dalam bidang kedokteran atau virologi mengenai wabah virus bermutasi sebanyak puluhan jenis, akhirnya diskursus penyakit menjadi pengganti bahasa keseharian. 

Abad kedua puluh satu bersama pikiran, imajinasi dan jalinan wujud yang kompleks muncul karena penjelasan-penjelasan dari pengetahuan medis dan filosofis, pernyataan-pernyataan klinik kedokteran dan pemahaman tentang alam dalam sudut pandang mikro-biologi tiba-tiba dibayang-bayangi dalam cengkeraman penyakit. Di saat menerima rumah sakit sebagai eksistensi kolektif, ia menyediakan seluruh kekuatan penyembuhan dari hasil diagnosis atau observasi; ia mengubah sebuah gerakan yang hampir sama sekali tidak berkutik. Pasien diizinkan keluar dari rumah sakit karena telah sembuh total. Pembebasan orang yang terjangkit wabah virus ditakdirkan oleh mode kehidupan yang sehat; mereka melampaui ikatan-ikatan alam, tetapi menandai kemuliaan bidang kedokteran. Penyebaran pasien yang terjangkit wabah virus tidak lagi dihukum oleh pengetahuan medis karena dokter telah berbicara mengenai tubuh pasien dan sehat menjadi tempat titik rawan penyebaran wabah virus. Medium penularan virus corona melalui butiran-butiran air atau cairan yang dipercikkan oleh seseorang yang terinfeksi di saat batuk, bersin dan mengusap mulut atau hidung. Dari pembatasan kebebasan individu akan mengarah relasinya pada pengetahuan medis; dalam kekuatan-kekuatan penyembuhan merupakan keterbalikan dari proses penyebaran wabah virus yang datang dengan ketidakhadiran mata telanjang. Paradoks kesehatan mempersingkatkan intervensi penyembuhan pasien dalam diagnosis penyakit, dimana tubuh dijadikan sasaran paling membahayakan di saat pemberian alkohol berlebihan di permukaan tubuh, ia menyerap membran mukosa seperti mulut dan mata menjadi tindakan mendekati kesia-siaan. Setelah percampuran kemalasan, keingin-tahuan dan kesia-siaan berakhir, maka hasil diagnosis akan diserahkan pada tempat-tempat yang dijaga keperawatannya dan rumah sakit-rumah sakit; mungkin paling dekat dengan penjaminan kesehatan dan keteraturan aktivitas adalah pengaturan dalam tatanan yang teratur bergerak secara mekanis yang dilaksanakan untuk menciptakan individu yang mengetahui atau terampil. Terhadap efek bahasa yang dimunculkan diskursus kedokteran dan penyembuhan pasien yang terinfeksi penyakit dari sudut pandang higienis, mengenai penanda mikroorganisme patogen sejenis wabah virus baru. Ketidakaturan hidup pun dapat diartikulasikan tanda-tandanya; ia merupakan kelambatan penanganan yang retoris, mengalihkan tema penyakit mewabah dalam suatu kecepatan penyebarannya. Apa yang mesti kita katakan adalah upaya pencarian kekuatan, dan dari situlah kita akan menemukan kekuatan dan pengobatan percuma-cuma dari dalam diri kita, secara kolektif dan individual. Suatu pencarian penanganan ekstra bagi pasien yang tertular wabah yang teruji dengan mekanisme, strategi dan metode penyembuhannya secara terpadu.

Mereka yang berada dalam disiplin ilmu kedokteran, psikiatri, virologi, ilmu pengobatan, dan matematika ingin memadukan dirinya dalam pencarian asal-usul wabah penyakit, bukan karena penyebab-penyebab organik atau non organik, tetapi jenis mutasi yang banyak, karakter-karakter turun-temurun dan tingkat kecepatan penyebarannya yang akan membuat kita mampu menghindarinya.

Dokter, pasien dan pencegahan penyebaran wabah virus dapat disatukan, terperangkap dari cengkeraman kelamnya ruang-ruang pengurungan sebelum pembebasan pasien yang terjangkit di  urutan pertama; dibentengi dengan cara-cara taktis dalam barisan yang teratur untuk mengetahui sisi-sisi paling samar dari gejala-gejala. Demam, batuk dan sesak nafas merupakan gejala-gejala umum diketahui untuk melawannya dan mewaspadai kehadiran wabah virusnya. Kecepatan kita untuk melawan wabah seiring dengan kecepatan penyebaran wabah itu sendiri.

Dari pencegahan yang efektif terhadap wabah dan dengan kesatuan perlawanan secara aktif dan keketatan penyembuhan padanya, ia akan diperlambat ruang geraknya. Dari butiran air, dari bersin, batuk atau melalui mulut dan hidung yang diusap, yang akan menjerat jiwa dan mencekik hidup kita, mengambil-alih tatanan wujud yang hidup, dibandingkan jika kita menolak hidup kita untuk diperdaya dan dirampas oleh bukan wabah, melainkan keangkuhan di hadapan alam, dan terhadap pencegahan atas penularan. Sebagian orang digiring dalam mitos untuk menentang ilmu pengobatan atau pengetahuan dari ensiklopedia dan buku elektronik, dibandingkan ia tidak tekun untuk mencegah penyebaran wabahnya. Ketidakhadiran darah yang mengalir keluar dari tubuh, yang cair dan padat; penyebarannya meluas dari tempat-tempat dimana kesenangan diritualkan. Disanalah wabah virus dapat menyesuaikan dirinya dalam kelembaban; butir-butir air dinetralisir dengan cara anti biotik untuk mencegah penularan, memberikan vaksin Flu dan menjemur tubuh di atas suhu panas tidak lebih dari pergerakan mitos dalam menghindari pengetahuan medis. Alur pencegahan wabah bertujuan untuk menepis anggapan yang bersifat mitis, saat kita berpeluang untuk menyerang balik wabah virus setelah sekian lama, seakan-akan kita dikejar-kejar dan terus dihantui oleh sesuatu yang tidak terlihat dalam kehingar-bingaran obyek penampakan. Titik ini, kerja-kerja fisik dibatasi di luar rumah; meskipun dengan penegasan yang longgar, setiap latihan kesehatan harus disalurkan sebagai sesuatu yang terjalin relasinya dengan pengetahuan, tatanan tubuh dan hasrat yang mereganggkan ketegangan otot; menarik kembali fantasi, mimpi dan ilusi ke wilayah kesehatan yang terjaga atau tidak lebih dari orang-orang yang termuati gejala-gejala umum. Orang lebih memercayai, terhadap momentum penundaan nafsu instan dengan keserasian memiliki efektifitas dalam melokalisir kebebasan-kebebasan, orang yang dicurigai tertular wabah virus. Tetapi, dokter dan profesi medis lain tanpa lelucon sedikitpun, bahwa diri mereka positif tertular wabah virus yang sama untuk diketahui secara luas oleh umum. Melibatkan peran cabang matematika untuk mengukur kecepatan penyebaran wabah virus, jumlah pasien yang meningkat bergerak secara eksponensial dan dokter merelakan diri mereka tanpa mengenal keadaan darurat, bertarung dengan sakratul maut, selebihnya pasien dalam kesembuhan. Masa-masa yang dijalani oleh dokter dan orang-orang yang tidak tertular wabah meminjamkan jalan pikiran orang-orang yang terindikasi gejala-gejala umum, menilai tanda-tanda yang datang orang-orang yang tertular wabah virus. Dalam rumah, kerja tidaklah dicabut dari akar-akar produktifnya, dari orang-orang yang diuji betul-betul sehat, tanpa terkontaminasi dengan orang-orang yang berada dalam tabel pemantauan atau pasien dalam pengawasan. Mereka semuanya diidentifikasi hanya berdasarkan gejala-gejala dan kasus klinik kedokteran; ia bukanlah sebagai hukum moral, kecuali rangkaian pengurangan ruang gerak sebagai akibat pembatasan kebebasan dengan kerelaan seseorang untuk mematuhinya, dari penentangannya atas hukum alam dan keterasingan atas pengetahuan medis.

Karena itulah, penggabungan kedokteran dan filsafat, biologi dan ekonomi, matematika dan psikoanalisis dalam kehidupan, yang diletakkan sementara melalui ruang pembatasan kebebasan mereka yang mengorkestrasikannya penawaran kesembuhannya. Ruang pembatasan kebebasan di abad sibernetika menyediakan wilayah diagnosis, inovasi dan terapi simulatif secara terbuka; dalam pengujian ilmiah, dimana orang diingat, ditemani dan diinspirasi dan dari mereka diterima sebagai keseluruhan dalam kehidupan.

Tanpa lebih mengistimewakan dari ilmu pengetahuan lainnya, semangat pengabdian profesi medis akan disaksikan, layaknya bukan saja berhikmat pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pada misi pembebasan pasien dan sehat, karena kepatuhannya pada kaidah-kaidah medis. Tidak lebih dari kemampuan medis menjadi kelanjutan tanggungjawab intelektual dan sosial yang ditunaikan di dalam dan di luar rumah sakit, yang menjamin kesembuhan pasien dan keselamatan hidupnya. Dalam klinik kedokteran, kepatuhan pada prosedur-prosedur medis atau kaidah-kaidah kesehatan merupakan sesuatu yang lazim, selayaknya juga matematika dan biologi, ekonomi dan psikologi; orang yang bergelut didalamnya didorong oleh pengabdiaan tidak mengenal lelah; mereka akan pantang menyerah di tengah jeritan pasien yang terjangkit wabah ikut mengintai jiwanya dengan cara yang serupa. Kemampuan medis mereka tidak cukup untuk mengetahui dunianya sendiri, ia melangkah pada pengetahuan yang berada di luar dirinya; langkah demi langkah pada kepatuhan  untuk mengetahui secara khusus mengenai cara berpikir pasien atau orang yang terjangkit wabah dalam menghitung hari dan jam akan mengancam jiwanya. Kesembuhan pasien bukanlah karena kemampuan medis, ia dihubungkan dengan kemajuan pasien menampakkan cara berpikir dengan tatanan wujud sebelum kemajuan penyembuhannya tercapai. Pasien dan orang-orang yang telah dinilai sehat dalam kepatuhannya pada peraturan yang dibuat oleh dokter. Untuk setiap pintu dan jalan kehidupan, setiap orang akan tercegah dan tersembuhkan dari wabah penyakit menular atas kuasa dirinya sendiri, suatu pembagian pasien dan sehat diperkenalkan pengetahuan medis, suatu momentum yang lebih tepat bagi keserasian pikiran antara pasien dan dokter, ketekunan antara orang-orang yang tidak terjangkit wabah dan tokoh kedokteran. Mereka tidak akan dipinjamkan satu jiwa untuk banyak ketaatan pada penyembuhan total dari penyakit. Sebaliknya, mereka akan semakin meremehkan wabah virus mematikan, semakin ia leluasa pergerakan wabah merenggut jiwa, siapapun mereka, pasien, sehat atau pengawas, orang-orang awam atau dokter.

Terdapat kemungkinan yang sangat kuat, sekarang dokter didasarkan pada kuasa atas dirinya sendiri; dalam menghadapi wabah virus, pasien dan orang-orang di luar penyakit masing-masing sama memiliki kuasa atas dirinya. Jenis wabah virus yang ganas menantang kelembutan urat-urat dan kehalusan kulit, segera psikiater berbicara pada dokter, paramedis dan tenaga kesehatan lain, bahwa ada kekuatan di luar kemampuan medis, yang mampu mengobyektivitasi wabah, yaitu sisi pengetahuan untuk menutup kaidah-kaidah positivisme.

Dalam status aktualnya, bukan hanya kesatuan dokter-pasien, tetapi juga orang-orang yang dinyatakan tidak tertular wabah virus, seluruhnya dalam pengisolasian dikontrol, diperiksa ulang dan dinyatakan pulih atau tetap sehat. Sedangkan eksistensi faktual rumah sakit, sisi pengetahuan medis dan keterlibatan metode verifikasi dari ilmu pegetahuan lainnya memberi kekuatan lapisan paling sulit keluar dari penampakan; hanya dengan pernyataan-pernyataan terbuka mengenai satu bentuk pendisiplinan bagi setiap model pengisolasian untuk mencapai tingkat kekosongan pasien korban wabah virus mematikan di berbagai wilayah penyebarannya. Ruang-ruang pengisolasian sebagai bentuk dari pendisiplinan individu atau kolektif memusatkan perhatian pada kehadiran dirinya dan seluruh pasien rumah sakit, dalam sebuah ketidakhadiran kata-kata yang kosong dari tindakan pengetahuan. Semiolog, filsuf, psikiater, sosiolog, atau ahli melangkah untuk menyusun metode kontrol bagi seseorang disentuh melalui tubuh, di saat pengetahuan menyebarkan bentuk-bentuk pendisiplinan sebagai kunci menuju pemulihan total kesehatan. Hal ini, mungkin bentuk-bentuk pendisiplinan tidak menekan secara paksa terhadap tubuh yang diisolasi atau dikontrol dari atas dan dari samping pasien. Yang demikian itu, hingga kapanpun ia tidak diutak-atik lagi menjadi pendisiplinan yang dapat menggagalkan penyembuhan pasien dari wabah virus; ia tidak diragukan untuk melewati fase anti-klimaks, dalam pembebasan pasien dan orang-orang yang tidak terjangkit wabah atau dari apa yang diperankan oleh pengetahuan disipliner.

Atas sebuah sistem pendisiplinan, relasi-relasi perlu ditata ulang dari eksistensi anonim dan dari individu yang dihubungkan dengan pengetahuan disipliner. Ketidakteraturan mulai terlihat senyap, tetapi suatu perhatiannya mulai tertuju pada arah memutar balik dalam suatu kekuatan yang teliti melalui mekanisme disiplin atas tubuh yang terlatih menuju wujud yang terampil. Ada sisi perbedaan pandangan mengenai bentuk pencegahan penyebaran wabah virus, apabila teknik disiplin akan menghasilkan keterampilan dibekali pasien dan orang-orang yang sehat (sekalipun dokter, akhirnya berubah status aktualnya menjadi pasien yang terinfeksi). Kata lain, pasien akan sembuh dan orang-orang akan tercegah dari wabah karena mereka terampil dalam kondisi sulit melalui pengetahuan disipliner (tubuhnya dikontrol dengan segala pengaturan untuk kepentingan kesehatan masing-masing individu, seperti membuang sampah pada tempatnya). Sehingga daya guna tubuh tidak menumpang-tindihi setiap penempatan dan penguasaan diri pasien dan orang-orang yang tidak terjangkit wabah; menyesuaikan relasi patuh dan berguna sebagai syarat kontrol dan penguasaan individu atas tubuhnya, selanjutnya, mereka mengarah pada penguasaan kolektif sesuai pengontrolan atas dirinya. Pengontrolan disiplin atas individu yang terkolektifkan melalui tubuh terjalin suatu bentuk penguasaan diri dokter, pasien dan orang-orang yang dinyatakan tetap sehat atau bebas dari wabah menghasilkan relasi kepatuhan berguna dan mekanisme penaklukan masing-masing diri individu yang disebut oleh Foucault sebagai ‘disiplin’ (1995 : 136).

Tatkala mewabah dan banyak korban, ‘ketidakhadiran disiplin’ yang berlangsung di Wuhan Cina dan berlanjut di Italia, karena kekuatan itu sirna dalam relasi penaklukan yang diuapi oleh keremehan dan ketidakkontrolan mereka. Akar-akarnya datang dari pandangan dominasi mereka atas yang lainnya, menganggap diri mereka seakan-akan di luar rumahnya, tidak berada dalam pendisiplinan di sekolah, rumah sakit atau tempat-tempat pelatihan, yang membuat mereka tidak memiliki relasi antara kepatuhan dan daya guna tubuh, yang mengambil arah berlawanan dengan kecepatan daya tanggapnya terhadap wabah. Dalam pembentukan relasi, tubuh dipinjamkan pada mekanisme untuk mendayatanggapkan dan mendayagunakan diri individu yang mengarah pada perhatian kesehatan dengan cara melokalisir atau mencegah sedini mungkin penyebaran wabah. Kesesuaian pengetahuan sebagai metode disiplin yang terpadu dengan penguasaan individu atas tubuhnya perlu dikembangkan dalam wilayah lebih praktis, menyangkut hal kecil dan sederhana. 

Ketidakdisiplinan pada pengaturan atau tatanan yang teratur menjadi bibit-bibit pelanggaran, tetapi pasien sebagai orang yang terinfeksi dan dia bagian dari penyakit, yang darinya tanpa ada mengulur waktu untuk mengisolasikan dirinya dengan dunia luar, yaitu dunianya sendiri. Setiap orang bertanggungjawab pada keadaan darurat kesehatan, bahwa bentuk kedisiplinan seseorang harus melepaskan dirinya dari cengkeraman bahaya wabah. Sudah tentu, tanpa kedisiplinan, kita mungkin tidak berada dalam bentuk pengisolasian. Pada kenyataannya, penampilan rumah sakit, rumah biasa dan tempat-tempat lain sebagai bentuk pengisolasian yang menggantikan kejenuhan pasien dan orang-orang dinilai sehat menjadi suatu teror wabah penyakit yang membayanginya. Maka dari itu, kejenuhan dan teror wabah mesti diubah lebih dahulu dari diri individu yang tekun dan terampil secara lebih efektif selama berlangsung fase pengisolasian sebagai bagian penting dari mekanisme pendisiplinan. Kita melihat sekarang, data pemetaan spasial penyebaran wabah, data pasien positif, sembuh dan meninggal berguna untuk mengetahui bagaimana kita mencegah, jika perlu melebihi kecepatan penyebaran wabah. Semuanya itu ditopang oleh sistem disiplin diri melalui pemetaan berbasis teknologi informasi digital, yang digunakan sebagai bagian dari agen kuasa disiplin dengan tubuh pengetahuan, yang kemampuannya menganalisis penguasaannya diri sejenis syarat kontrol atas aktivitas individu. Pengetahuan disipliner menerima perangkat analisis dan pembagian (pasien dan sehat, zona merah dan bukan), pemantauan, pengawasan, dan satuan inteligibilitasnya. Pasien dan yang bukan diubah dari orang-orang yang tidak teratur atau tertular dan tidak berguna melalui pengaturan kuasa disiplin mengontrol aktivitas individu atas tubuhnya sendiri menjadi orang yang berlipat ganda kegunaannya (Foucault, 1995 : 148) menandai suatu tindakan pencegahan penyebaran wabah. Foucault terinspirasi dengan Guibert. Bagaimana tubuh disentuh dengan cara pengaturan waktu, pembentukan ketepatan antara waktu dengan tindakan, efisiensi dalam penciptaan sikap tubuh, pembentukan relasi antara tubuh dan alat-alat secara efisien dan efektif dan penggunaan waktu secara efektif melalui kontrol aktivitas bagi pasien dan orang-orang tidak tertular wabah (1995 : 150-151).

Pengaturan waktu bagi orang-orang yang berada dalam wilayah wabah, seperti keluar rumah hanya keperluan sangat penting dan mendesak di bawah dalam model kontrol aktivitas individu atas tubuhnya. Suatu mekanisme disiplin dilipatgandakan dengan kontrol aktivitas dalam bentuk pengisolasian diri dari segala kemungkinan bahaya wabah.

Pembentukan ketepatan antara waktu dengan suatu tindakan melalui tubuh yang dilatih tidak persis dalam kontrol aktivitas ketenteraan yang berbaris atau upaya membebaskan sandera sejam sebelum komandan musuh tertembak, titik dimana hitungan waktu yang teratur mengatur seluruh gerakan. 

Peraturan untuk meningkatkan dan menyebarkan kuasa disiplin menandai setiap individu di wilayah tertentu jika tidak dapat membuktikannya akan dikenakan hukuman denda (seperti cara pelaksanaan disiplin melalui pembatasan jarak sosial di Australia akibat wabah Covid-19). Sekali rangkaian penciptaan sikap tubuh, pembentukan relasi antara tubuh dan alat-alat secara efisien dan efektif, yaitu pendisiplinan yang ketat akan berpengaruh pada lahirnya permasalahan baru. Berapa besar pengaruhnya? Tubuh individu yang disiplin dalam upaya pencegahan wabah adalah prasyarat bagi aktivitas tubuh secara teliti dan teratur melebihi anjuran dokter yang menyarankan pada kita untuk menghentikan merokok, di saat penyakit mewabah ditandai banyak pasien yang secara positif tertular virus. Pasien dan yang bukan dianjurkan untuk melibatkan dirinya dengan taat pada pengaturan waktu dan penciptaan sikap tubuh ke arah pembentukan kekuatan-kekuatan diri yang menghasilkan efek ganda pendisiplinan, dalam relasi kuasa disiplin yang ditandai oleh penciptaan sistem pengaturan bagi pasien dan sehat. Tetapi, ada suatu tempat yang relatif bebas dari pemaksaan kuasa disiplin, seperti pasar atau unit usaha bahan bakar minyak nampak sulit ditutup pengoperasiannya, kecuali dalam pengaturan waktu tertentu saja.

Mengenai pembentukan relasi antara pengetahuan dan kuasa yang menghasilkan mekanisme disiplin seperti sekolah melalui pembelajaran dan pelatihan diri (murid-murid sekolah di setiap jenjang diliburkan melalui regulasi resmi untuk mencegah penyebaran wabah virus corona) yang diletakkan proses keteraturan yang berdaya guna bagi setiap orang (1995 : 164-166). Mekanisme disiplin dapat berdaya guna, jika tercipta suatu kondisi dari pasien yang tekun atas pengisolasian atau peraturan, murid yang patuh dan terlatih dan orang-orang yang teliti dan teratur menandakan cepat tanggap terhadap tanda-tanda bahaya. Meskipun berlipat ganda dan anonim, kuasa disiplin masih tetap menciptakan kontrol aktivitas dari tingkat individu ke tingkat kolektif tanpa tekanan paksaan dalam kehidupan bersama tidak lebih dari ‘polisemiosis tatanan kuasa’ yang telah distel pengaturan radikalnya. Dari model pendisiplinan, setidak-tidaknya ada dua bentuk pengisolasian, yaitu (i) pembatasan jarak sosial (social distancing) dan (ii) pengkarantinaan dan/atau lockdown. ‘Jalinan relasi bolak-balik antara kuasa, pengetahuan dan individu dalam sebuah tatanan disiplin’ yang mengubah relasi antara pengetahuan dan individu yang dihasilkan oleh kuasa dalam rezim disiplin dengan mekanisme yang ada. Mekanisme penciptaan relasi tersebut mengantarkan kita dalam konsep dan analisis lebih teliti. Mengenai ‘pembatasan jarak sosial’ terjalin kelindang dari relasi antara kuasa disiplin dan pengetahuan disipliner yang tertuju pada suatu penciptaan sikap tubuh dan pengaturan dengan urutan yang terinci, meliputi: “di rumah saja”; pengaturan tentang “penghindaran berdekatan atau berkumpul di keramaian dan tempat-tempat umum lainnya”; bagi setiap orang yang “menghindari penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak orang”; saat darurat, setiap orang “menghindari melakukan perjalanan ke luar daerah”; kejenuhan akan diuji dengan penerapan “kerja di rumah” (work from home); bukan sosok ‘alien’ yang dihadapi, tetapi “menjaga jarak dengan orang lain minimal satu meter”; dan pencegahan kerusakan didahulukan menjadi kaidah yang tidak dapat diukur melalui “beribadah di rumah” yang masih dalam wilayah wabah yang imanen (‘pembatasan jarak sosial’ diterapkan di Indonesia dan Australia). 

Hal paling penting, bahwa bagaimana cara-cara pelaksanaan kuasa disiplin yang mengontrol individu atas tubuhnya dengan ketidakhadiran pengetahuan. Kita akan sulit memilih dan kembali melatih kita berpikir dan apa kita masih mulai bermimpi tentang pendisiplinan tanpa tubuh atau pengetahuan. Kontrol aktivitas individu sesuai kontrol yang dimilikinya, yaitu pada kondisi yang berbeda-beda terdapat jarak, kecepatan dan pengecualian. Mekanisme disiplin dilahirkan bukan lagi dari model pengisolasian, karena terjadi pembentukan relasi yang terjalin secara paradoks.  Alangkah tidak kelirunya jika diulang bahasa protokol pendisiplinan yang mengontrol aktivitas individu atas tubuhnya. Satu sisi, diarahkan perhatian bersama terhadap pembentukan ketepatan antara waktu dengan tindakan, penciptaan sikap tubuh, pembentukan relasi antara tubuh dan alat-alat secara efisien dan efektif berdasarkan kontrol aktivitas individu. Pada sisi lain, relasi antara kuasa disiplin dan pengetahuan disipliner diperhadap-hadapkan pada unsur kecepatan, misalnya kecepatan penyediaan alat pelindung diri atau penyediaan vaksin anti virus bagi pasien dan yang bukan dengan kecepatan pencegahan penyebaran wabah. Semakin jauh jarak pemindahan suatu alat, maka kecepatan penyediannya ikut melambat, yang berdampak pada kecepatan penanganan pasien. Jarak satu dengan orang lain dibatasi merupakan pengecualian pada pasien dan sehat atau antar sesama orang sehat, ‘zona merah’ dan bukan sejauh hal itu menjadi bagian dari pembagian bentuk pengisolasian secara efektif dari ketidakluputan pada pilihan jarak dan kecepatan.

Mari melangkah pada perhatian tanpa menutup diri untuk mengambil rujukan tentang cara-cara pelaksanaan kuasa disiplin yang terjalin relasi bolak-balik dengan pengetahuan disipliner yang mengontrol aktivitas individu atas tubuhnya sedikit lebih konseptual atau lebih bersifat teknis. Namun demikian, sebagai protokol pencegahan penyebaran wabah virus diletakkan dalam teknik penciptaan sikap tubuh menurut kontrol individu, diantaranya yaitu: (a) sejak masa kecil, kita dianjurkan ‘mencuci tangan dengan sabun atau pembersih tangan (hand sanitizer) sekurang-kurangnya dua puluh detik’; (b) secara segaja kita ‘menghindari untuk menyentuh mata, hidung dan mulut di saat orang lain sedang bersin atau batuk’, ‘menggunakan masker’ dan ‘menutup mulut di saat batuk atau bersin dengan siku, lengan atas atau tisu’; (c) supaya tidak ada rentetan kontaminasi, orang-orang harus ‘menghindari interaksi fisik dengan orang yang memiliki gejala sakit’; (d) setiap orang dalam kondisi apapun ingin menjaga stamina atau ketahanan tubuh atas penyakit dengan ‘mengonsumsi gizi dan suplemen vitamin’; (e) sesungguhnya manusia senang ‘melakukan aktivitas fisik dengan berolah raga hingga beristerahat yang cukup’; (f) inti dari titik tolak pembebasan kehidupan dari penyakit, yaitu kebersihan dengan cara ‘membersihkan secara berkala pada benda-benda yang sering disentuh, permukaan rumah dan perabot’. Kita mungkin di balik ingatan atau pikiran memiliki alasan masing-masing, bahwa masyarakat disiplin dimulai dan terbentuk dalam gerakan individu disiplin yang menguasai diri dan atas tubuhnya sendiri.

Kuasa menyentuh dirinya dengan keserbaragaman strategi dan metode pendisiplinan pasien dan sehat sebagai individu dan orang-orang yang tidak tertular wabah secara kolektif; tetapi yang berguna bagi masing-masing individu yang tekun dan kreatif untuk mengontrol diri yang tidak terikat pada perbedaan antara wabah virus yang satu dengan virus lainnya.

Menyangkut ‘pengkarantinaan’ sebagai bentuk pengisolasian pasien dan orang-orang yang tidak terjangkit wabah virus. Kita melihat mengenai pengkarantinaan tidak dapat dipisahkan dari mekanisme pembentukan relasi antara kuasa disiplin dan pengetahuan disipliner. Secara praktis, ada kondisi yang perlu dipenuhi eksistensi kekarantinaan, seperti penentuan darurat kesehatan, tempat (pemisahan ‘karantina rumah’, ‘karantina wilayah’ dan ‘karantina rumah sakit’) dan masa pengkarantinaan hingga berakhir seperti akan dibersihkan, disucihamakan dan setelah itu dapat ditempati kembali (1995 : 195-197) berdasarkan hasil pemantauan, pengawasan atau keputusan dari pencatatan yang dibangun relasi khusus antara pasien dengan masing-masing individu sehat, sakit dan kematiannya. Demikian pula penerapan lockdown (Cina, Italia, Amerika Serikat) lebih sangat ‘ketat’ dan ‘tertutup’, tatkala kuasa disiplin telah terinstitusionalkan dalam keputusan dan tindakannya. Maka cara yang ditempuh adalah penutupan jalur masuk dan keluar (seperti jalan, bandara, pelabuhan); pelarangan penduduk berlalu-lalang dalam wilayah dan antar wilayah yang dibatasi, dikunci atau diberi tanda pengisolasian diawasi oleh aparat kuasa disiplin. Jika terjadi pelanggaran, akan dikenakan hukuman. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat menjadi suatu kondisi tidak terelakkan sebagai model pendisiplinan melalui bentuk pengisolasian tersebut.  

Setiap pemantauan dan pengawasan yang ingin dicapai akan menghasilkan laporan, yang bertujuan untuk mengetahui perkembangan dan melakukan identifikasi terhadap wilayah, rumah dan rumah sakit, tempat pengkarantinaan pasien sebagai individu. Melalui mekanisme disiplin, individu dipantau atau diawasi dalam ruang gerak tertentu; setiap gerakan sekecil apapun dalam ruang pengisolasian individu dikontrol oleh aparat pengawas; setiap peristiwa wabah penyakit dan pencegahannya dicatat dan dilaporkan secara menyeluruh. Pengawasan terhadap pasien dan sehat, wilayah yang terjangkit dan wilayah bebas dari wabah yang memungkinkan terjadi, karena tubuh-tubuh ada yang luput dari pengawasan yang sebelumnya telah saling bercampur-baur dan bersentuhan. Begitupun setiap keputusan dan tindakan yang diambil terhadap pasien, meninggal dan sehat atau sembuh berdasarkan data laporan hasil pemantauan dan pengawasan. Pembatasan jarak sosial dan pengkarantinaan atau lockdown sebagai bagian dari mekanisme disiplin dibentuk oleh pengisolasian masih tetap terbangun relasi saling berinteraksi antara tubuh, kuasa, individu, kolektif, dan pengetahuan. Kita tidak menemukan hasil pencegahan dan penyembuhan penyakit secara total berdasarkan cara-cara pelaksanaan kuasa disiplin yang mengontrol aktivitas individu jika tidak saling berinteraksi secara kolektif dengan pengetahuan dan tubuh. Kuasa disiplin yang mengontrol aktivitas individu, wilayah yang terwabah virus maupun wilayah yang terbebas dari virus, dimana penggunaan metode disiplin dari bentuk pengisolasian yang berat, ketat dan kaku diubah menjadi ringan, fleksibel, mudah distel atau disesuaikan. Pada gilirannya, setiap rumah, sekolah, rumah sakit, toko-toko, tempat hiburan, tempat wisata, perkantoran, sarana, dan fasilitas umum lainnya dapat beraktivitas seperti sediakala memungkinkan model pendisiplinan masing-masing diri individu dijalankan dengan kondisi yang berbeda.